Menu

Mode Gelap
Anambas Masuk Program Reaktivasi Internet BAKTI, 17 Lokasi Strategis Segera Terlayani Prakiraan Cuaca Jumat 23 Januari 2026: Mayoritas Wilayah Kepri Berawan, Sejumlah Titik Berpeluang Hujan Ringan Revitalisasi Pasar dan Tol Laut Jadi Fokus Audiensi Pemkab Anambas dengan Kemendag RI Respons Cepat Polisi Cegah Karhutla Meluas, Kebakaran Semak di Nongsa Berhasil Dikendalikan Dari Malaysia ke Riau, Mahasiswa UKM Merajut Silaturahmi Serumpun di LAMR SF Hariyanto Vs Ida: Jurus Terbuka di Gelanggang Kewenangan

Riau

Bongkar Kearifan Lokal, Mahasiswa FIB Unilak Taja Diskusi Film Dokumenter “Gumantan” dan “Puan Sebutie”

badge-check


					Pemantik diskusi berfoto bersama peserta Perbesar

Pemantik diskusi berfoto bersama peserta

RiauKepri.com, Pekanbaru — Mahasiswa yang tergabung dalam Sanggar Sagara Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Lancang Kuning (Unilak) menggelar diskusi film dokumenter berjudul Gumantan karya Robi Septiawab dan Puan Sebutie karya Zulfikar. Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa FIB Unilak dari empat program studi (Sastra Indonesia, Pendidkan Bahasa Melayu, Ilmu Perpustakaan, dan Sastra Inggris), Kamis (18/12/2025) di ruang Seminar FIB Unilak.

Diskusi film ini menghadirkan Hang Kafrawi dan M. Syukri sebagai pemantik diskusi, dengan Elsa Dwiyanti bertindak sebagai moderator. Kegiatan ini bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa terhadap isu kebudayaan, sejarah, serta nilai-nilai lokal yang diangkat dalam kedua film dokumenter tersebut.

Dalam diskusi, pemantik mengulas isi dan konteks film Gumantan dan Puan Sebutie yang merepresentasikan kearifan lokal serta dinamika sosial budaya masyarakat. Gumantan merupakan pengobatan di Kabupaten Kuansing dan Puan Sebutie merupakan pengobatan tradisional di Kabupaten Siak. Mahasiswa dari berbagai program studi turut aktif menyampaikan pandangan, tanggapan kritis, dan refleksi atas film yang ditayangkan.

Diskusi berlangsung interaktif dan dinamis, mencerminkan antusiasme mahasiswa dalam mengkaji karya dokumenter sebagai media pembelajaran alternatif. Perbedaan sudut pandang dari peserta turut memperkaya jalannya diskusi.

“Sagara FIB Unilak berharap kegiatan ini dapat menjadi ruang dialog kritis bagi mahasiswa serta mendorong peningkatan literasi budaya dan apresiasi terhadap karya audiovisual berbasis lokal di lingkungan kampus Unilak,” ujar Wahyudi Hari Bahagia penitia pelaksana diskusi film ini. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Malaysia ke Riau, Mahasiswa UKM Merajut Silaturahmi Serumpun di LAMR

22 Januari 2026 - 17:48 WIB

SF Hariyanto Vs Ida: Jurus Terbuka di Gelanggang Kewenangan

22 Januari 2026 - 17:31 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Pastikan Hak Pegawai Terpenuhi, Bupati Afni Awasi Pencairan TPP Pasca SOTK Baru

22 Januari 2026 - 13:07 WIB

Pengamat: Gugatan Rp15 M ke Polisi, Jalan Muflihun Mencari Keadilan dan Kepastian Status Hukum

22 Januari 2026 - 13:00 WIB

Trending di Pekanbaru