Menu

Mode Gelap
Masyarakat Adat Rantau Kasai Mengadu ke LAMR, Berharap Keadilan atas Lahan Ulayat PNBP Tembus Rp10,4 Triliun, Imigrasi Era Yuldi Yusman Catat Rekor dan Perketat Pengawasan WNA Dikejar Hingga ke Papua, Polisi Meranti Ringkus Tersangka Pencabulan Milad ke-60 BRK Syariah, Mantan Direksi Tekankan Penguatan SDI dan Teknologi Kapolda Riau Pantau Upaya Pemadaman Karhutla di Dumai, Pastikan Kesiapan Peralatan dan Sinergitas Pemkab Bengkalis Taja Ramah Tamah Bersama Kajati Riau

Riau

Kekuasaan Menyapa Kampung, di Bawah Terpal Bupati Itu Bernama Afni

badge-check


					Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, menyapa rakyatnya tanpa sekat. Rela tidur di tenda, duduk berselempot mendengar curhat warga. Perbesar

Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, menyapa rakyatnya tanpa sekat. Rela tidur di tenda, duduk berselempot mendengar curhat warga.

RiauKepri.com, SIAK- Tak semua pemimpin datang membawa protokol. Tak semua kehadiran perlu kompang, silat, atau bunga yang dikalungkan di leher. Di tanah Melayu lancang kuning ini, Bupati Siak, Dr. Afni Zulkifli, memilih datang dengan cara yang paling sederhana, hadir apa adanya.

Tak ada karpet merah. Tak ada sambutan resmi. Yang ada hanya tanah kampung, senyum warga, dan terpal yang dibentang menjadi alas duduk berselempot.

Untuk bermalam, Afni tak mencari penginapan. Ia menyiapkan tenda sendiri, beralaskan terpal, menyatu dengan dinginnya malam Dusun Bedeng, salah satu sudut terpelosok di Kecamatan Mandau, Kabupaten Siak, Riau.

Soal makan, Afni tak ingin menyusahkan. Afni ikut ke dapur, memasak bersama emak-emak kampung. Asap dapur mengepul, tawa pecah, dan piring-piring sederhana menjadi saksi, tak ada jarak antara bupati dan rakyatnya. Yang ada hanya kebersamaan.

Bagi mantan wartawan ini, menjadi pemimpin bukan soal dilayani. “Kepala daerah itu tugasnya melayani, bukan sebaliknya,” begitu prinsip yang ia pegang.

Pemimpin, kata Afni harus memberi contoh, menjadi inspirasi, membangkitkan semangat, bukan justru menghadirkan beban bagi rakyat.

Di Olak dan Dusun Bedeng, Afni mendengar lebih banyak daripada berbicara. Ia duduk, menyimak curahan hati warga, meninjau lokasi ketahanan pangan, dan menyapa mereka yang baru pertama kali berjumpa dengan seorang bupati. Tak ada pidato panjang, hanya dialog jujur yang mengalir apa adanya.

Kehadiran pemerintah, kata Afni, tak boleh absen. Minimal hadir, tidak menghindar, dan siap mendengar. Dari situlah ikhtiar memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat dimulai, pelan, mungkin, tapi sungguh-sungguh.

Sehari penuh, langkah Afni diisi silaturahmi dari kampung ke kampung. Malam ia rencanakan tetap bermalam di Dusun Bedeng. Jika hujan turun, tenda sederhana sudah cukup. Terpal digelar, kopi diseduh, dan cerita mengalir di bawah langit kampung, dan diiringi menepuk agas atau nyamuk.

“Mudah-mudahan tidak hujan. Kalau hujan, kita berkemah. Ngopi bersama masyarakat, sederhana saja,” ucapnya, sambil tersenyum.

Pergantian tahunpun ia ajak disikapi dengan cara yang sama, biasa, sederhana. Tanpa pesta berlebihan. Cukup doa dan kebersamaan.

Di bawah terpal itu, rakyat melihat satu hal penting, bahwa kekuasaan bisa turun ke tanah, bahwa pemimpin bisa duduk sejajar,
dan bahwa kehadiran yang tulus adalah bentuk pelayanan paling jujur.

“Terima kasih 2025. Mari sambut 2026 dengan semangat dan harapan,” kata Afni. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ratusan JCH Siak Berangkat, Kisah Penantian 6 Tahun Muinah Jadi Haru di Pelepasan

1 April 2026 - 20:53 WIB

Lantik PAW Bapekam, Ini Pesan Bupati Siak

31 Maret 2026 - 12:24 WIB

Pemkab Siak Buka Seleksi Calon Direktur PT Bumi Siak Pusako 2026–2031

31 Maret 2026 - 10:16 WIB

Karhutla di Bengkalis Telan Korban Jiwa: Muharmizan Istirahat Selamanya

31 Maret 2026 - 09:49 WIB

Upika Tualang Bersama Masyarakat Gelar Bakti Kebersihan di Pasar Tuah Serumpun

31 Maret 2026 - 07:09 WIB

Trending di Siak