Menu

Otomatis
Breaking News

Riau

Ciancui

badge-check

Ilustrasi (net) Perbesar

Ilustrasi (net)

DULU, Wak. Kalau masuk Syawal atau Raya Haji di kampung wilayah pesisir Riau, suasananya macam masuk arena perang dunia ketiga ala basah. Pedagang musiman dari hulu turun ke pesisir, bukan bawa senjata api, tapi bawa senjata air. Ada pistol, ada senapan, ada yang macam bazoka, padahal isinya cuma air perigi atau air hujan yang tak sempat direbus.

Budak-budak pun bersiap. Baju raya baru belum sempat dua jam dipakai, dah basah kuyup. Orangtua menengok sambil geleng kepala, tapi tak mungkin pula nak dipelupuh. Namum, budak-budak mana peduli, Wak. Selagi ada pelor air, dunia ni tak penting.

Kadang yang dewasa pun ikut sekali. Konon nak menghidupkan suasana raya, padahal nak balas dendam lama. Dulu masa kecil selalu kena tembak, sekarang giliran dia pula jadi jenderal perang air. Tapi jenderal ni biasanya cepat penat, lepas lima tembakan dah sempot.

Yang paling tak tahan, ada pula yang degil. Air dicampur gincu lah, air kopi lah, air pelimbah lah, bahkan ada yang letak air lade hidop. Kena mata, bukan main pedih, minta ampun, biji mata ini macam terjojol dibuatnya.

Tersebab main tembak-tembak itu banyak mudaratnya, orangtua pun mulai melarang. “Main boleh, tapi jangan sampai jadi pabrik penyakit.” Maka pistol airpun perlahan-lahan lesap di kalangan anak-anak Melayu Muslim. Tapi yang non-Muslim, yang juga ikut perang air pada Idul Fitri, terus saja main bila hari besar mereka tiba. Sehingga permainan inipun hidup segan mati tak mau.

Lalu orang kampung pun bertanya, “Dari mana asal main tembak-tembak air ni, Wak?” Kalau ikut sejarah, bukan budaya Islam. Dalam Islam, dakwahnya lembut: zapin, gambus, seni, akhlak. Tak ada ajaran: “Barang siapa beriman, hendaklah ia menyimbah kawannya dengan pistol air.” Tak ada, Wak. Sesat ni…!?

Lebih dekat, perang air ini rupanya mirip budaya Hindu, khususnya di India, namanya Holi. Di sana, orang saling lempar air dan bubuk warna. Konon, ini lambang kegembiraan, pembersihan diri, dan cinta. Kalau di sana berwarna-warni, di sini pula berair sumur, kadang berair lade.

Perang air di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, itu bukan budaya Tionghoa asli, bukan pula budaya Melayu. Itu budaya pinjam-pakai, tanpa tunda bayar, kemudian diolah ikut selera tempatan. Orang Meranti tambah satu unsur yakni, ekonomi.

Waktu Pak Pandra jadi Kapolres Meranti, beliau nampak peluang itu. “Kalau orang dah suka tembak air, kita buatlah besar-besaran. Dikonsep sedemikian rupa.” Maka hotel penuh, becak laku, pedagang senyum lebar, penjual air pun naik pangkat jadi distributor resmi basah-basahan.

Cuma satu pesan penting, Wak: Jangan degil. Kalau main, pakai air biasa. Jangan pakai air es batu satu drum. Kalau dah macam gini, ini bukan perang air, ini namanya perang masuk ICU. Kena tembak, malamnya mengigil, esoknya demam, lusa masih menyalahkan perang air. Heee…

Akhirnya perang air di Meranti ini unik hingga diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, Ciancui. Perayaannya setiap tahun, bertepatan dengan perayaan Imlek. Biasanya dimulai beberapa hari sebelum Imlek dan memuncak pada hari ke-7 Imlek atau sekitar akhir Januari hingga awal Februari, bergantung pada tanggal Imlek setiap tahunnya.

Asal perang air ini mungkin dari budaya luar, diolah jadi budaya tempatan, dikemas jadi wisata, dan kalau salah main, berubah jadi musibah. Maknanya apa, Wak? Air tu memang lambang pembersihan. Tapi kalau silap hari bulan yang kita campur, bukan jiwa yang bersih, namun jahanam badan jadinya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bupati Siak Aktif Mengawal Karhutla Meski Sedang Pendidikan KPPD Lemhannas

9 Sep 2026 - 10:49 WIB

Bupati Siak Aktif Mengawal Karhutla Meski Sedang Pendidikan KPPD Lemhannas

Dugaan Pencabulan Anak di Meranti Terbongkar, Pria 71 Tahun Diciduk Polisi

9 Sep 2026 - 05:50 WIB

Dugaan Pencabulan Anak di Meranti Terbongkar, Pria 71 Tahun Diciduk Polisi

13 Saksi Dipriksa, Kejari Meranti Segera Tetapkan Tersangka

8 Sep 2026 - 19:42 WIB

13 Saksi Dipriksa, Kejari Meranti Segera Tetapkan Tersangka

Raih 8 Medali di Kejurprov Riau, Petinju Meranti Bawa Pulang 1 Emas, 1 Perak dan 6 Perunggu

8 Sep 2026 - 16:59 WIB

Raih 8 Medali di Kejurprov Riau, Petinju Meranti Bawa Pulang 1 Emas, 1 Perak dan 6 Perunggu

Breaking News, Kejaksaan Meranti Geledah Bagian Umum Setdakab

8 Sep 2026 - 16:45 WIB

Breaking News, Kejaksaan Meranti Geledah Bagian Umum Setdakab
Trending di Meranti