RiauKepri.com, PEKANBARU– Api Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pulau Mendol, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, nyaris melalap sebuah musala dan permukiman warga, Sabtu (14/2/2026). Jerit minta tolong warga memecah suasana mencekam ketika api yang ditiup angin kencang mendekat ke belakang tempat ibadah tersebut.
Memasuki hari kesepuluh kebakaran, kobaran api semakin sulit dikendalikan. Angin kencang membuat api meloncat dan bergerak cepat ke arah rumah-rumah warga.
Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat, Muhammad Ilham Sidik, yang berada di lokasi saat itu, mengatakan situasi sangat ekstrem. Timnya yang sedang berjibaku menahan laju api tiba-tiba mendengar teriakan warga.
“Waktu situasi sangat ekstrem. Api loncat ke mana-mana dan mengarah ke permukiman warga. Dari kejauhan, kami mendengar suara orang memanggil minta tolong, karena api sudah sampai di belakang musala,” ujar Ilham, Selasa (17/2/2026).
Mendengar teriakan itu, tim Manggala Agni langsung mengalihkan fokus. Selang air ditarik mendekati bangunan musala. Di tengah keterbatasan air dan panas yang menyengat, petugas berupaya memutus rambatan api agar tidak menjalar ke bangunan kayu tersebut.
Upaya cepat itu membuahkan hasil. Musala berhasil diselamatkan dari kobaran api.
“Alhamdulillah, setelah dikejar oleh tim, akhirnya api dapat dipadamkan,” kata Ilham.
Karhutla berskala besar di Pulau Mendol telah membakar sekitar 500 hektar lahan, mencakup Desa Teluk Beringin, Sungai Solok, Sungai Upih dan Kelurahan Teluk. Area terdampak terdiri dari hutan lindung, hutan produksi konversi (HPK), areal penggunaan lain (APL), serta kebun kelapa milik masyarakat.
Sekitar 80 persen lahan yang terbakar merupakan tanah gambut yang sangat rentan terbakar saat musim kemarau. Kondisi ini memperparah penjalaran api.
Kebakaran juga sempat menyelimuti permukiman warga dengan kabut asap pekat sejak hari kedua hingga hari keenam. Aktivitas warga terganggu, jarak pandang menurun, dan sebagian warga memilih membatasi kegiatan di luar rumah.
“Kebakaran hari kedua sampai keenam, permukiman warga diselimuti kabut asap karhutla. Hari ketujuh sudah normal kembali,” sebut Ilham.
Ratusan personel gabungan diterjunkan untuk memadamkan api. Namun, medan gambut dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan utama. Kanal-kanal kecil di lokasi tidak mampu menyuplai kebutuhan air pemadaman, sehingga petugas terpaksa menggali tanah untuk menemukan sumber air tambahan.
Di tengah kepungan asap dan panas, penyelamatan sebuah musala menjadi momen yang membekas bagi warga dan petugas. Di Pulau Mendol, api mungkin masih menyala di sejumlah titik, namun setidaknya satu tempat ibadah berhasil diselamatkan dari amukan karhutla. (RK1/*)







