PAGI bute lagi masuk sepucuk surat elektronik. Orang Melayu kalau dapat surat, tak elok terus marah. Dibaca dulu sambil minum kopi, kalau pahit kopinya jangan salahkan gulanya, mungkin yang baca belum sarapan.
Isi surat itu sederhana, tapi bunyinya macam beduk dipukul saat hendak masuk waktu berbuka: “Wak, tolong undang Presiden datang ke Siak.”
Saya pun garu kepala, wak. Undangan ini bukan undangan kenduri, tapi undangan melihat kenyataan. Orang Melayu cakap, jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasa. Jangan semua berita ditimbang dari map merah di atas meja.
Katanya, sejak Sultan Siak menyerahkan harta dan takhtanya kepada Republik Indonesia tahun 1945, sampai Kabupaten Siak berdiri tahun 1999, lebih setengah abad tak ada satu pun jembatan besar yang dibangunkan pusat untuk Siak. Anak-anak sekolah menyeberang sungai, orang tua menyeberang nasib. Negeri penghasil minyak, tapi kadang perahunya lebih dulu tua daripada harapannya. Untung saja tak tenggelam, tapi senget dah.
Lalu datang otonomi daerah. Yang tadinya menyeberang dengan sampan, mulai menyeberang dengan jembatan. Jalan dibangun sampai ke kampung. Kantor camat punya aula. Jalan beton sampai helikopter pun bisa singgah kalau pilotnya tak salah belok.
Jembatan megah itu berdiri dari APBD Siak. Orang Melayu pun tersenyum, sebab pepatah berkata: sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit; kalau dikumpul hasil sendiri, tak perlu malu pada orang lain. Kan gitu, Wak?
Makanya surat itu merayu Presiden. Katanya, “Pak, jangan semua kepala daerah disamakan. Di kebun pun tak semua durian busuk. Ada yang masak ranum, ada yang jatuh sebelum waktunya.” Kalau semua dianggap tak amanah, habislah penghulu, kepala desa, camat, bupati, bahkan RT pun nanti disuruh lapor ke burung enggang.
Yang paling lucu, Wak, orang Melayu ini kalau menegur tak pakai pentungan. Dipakainya pantun. Maksudnya keras, bahasanya halus. Dia cakap, “Pak Presiden, turunlah ke Siak. Jangan hanya mendengar laporan anak buah. Sebab laporan itu kadang macam gulai kenduri, yang sampai ke meja tamu tinggal kuahnya, udang galahnya entah ke mana.”
Musrenbang pun ikut disebut. “Kalau semua keputusan ditarik ke pusat, Musrenbang itu jangan-jangan tinggal tempat makan kue bingka dan minum teh hangat.”
Orang Melayu takut bukan karena dipotong anggaran, tapi karena dipotong marwah. Sebab dalam adat, marwah lebih mahal daripada gelang emas.
Akhir surat yang dikirim ke saye itu bukan main indah bahasanya. Bukan mengancam, bukan pula memaki. Mereka menyusun sembah jari sepuluh, mengundang Presiden datang ke Negeri Kesultanan Siak Sri Indrapura. Negeri yang pernah menyerahkan warisan kepada Indonesia, lalu belajar berdiri dengan kaki otonomi, dan sekarang khawatir tongkatnya diambil perlahan-lahan.
Begitulah Melayu, Wak. Kalau marah masih sempat minta maaf. Kalau menegur masih sempat mendoakan. Kalau kene musibah masih ada untung. Sebab tunjuk ajar orang tua berkata: berkata benar biarlah beralas, menegur elok biarlah beradab. Mudah-mudahan yang di atas sana mendengar, dan yang di bawah sini tetap sabar.
Kalau Presiden datang ke Siak, jangan lupa makan asam pedas. Biar tahu, rasa pedas itu bukan tanda benci. Kadang-kadang, itulah cara orang Melayu menyampaikan kasih sayang kepada negeri.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.








