RiauKepri.com, PEKANBARU- Pemberdayaan masyarakat tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari kebutuhan sederhana, kemudian berkembang menjadi inisiatif, kegiatan produktif, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Semangat tersebut tercermin dalam pelaksanaan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Bumi Siak Pusako (BSP) melalui dukungan berbagai sarana produktif bagi masyarakat Desa Mengkapan.
Dukungan tersebut antara lain berupa mesin pencacah kompos untuk mendukung kegiatan pengolahan pupuk kompos, serta mesin sablon yang menjadi salah satu sarana pengembangan kegiatan usaha kelompok masyarakat.
Bagi masyarakat, kehadiran peralatan tersebut bukan sekadar bantuan berupa sarana produksi. Lebih dari itu, dukungan PPM BSP menjadi bagian dari proses pemberdayaan yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, mengembangkan potensi lokal dan membuka peluang ekonomi.
Mengembangkan Potensi dari Desa
Perjalanan pemberdayaan masyarakat bermula dari berbagai kegiatan pelatihan, salah satunya pengelolaan dan produksi pupuk kompos.
Untuk mendukung proses tersebut, BSP turut membantu menyediakan mesin pencacah kompos. Kehadiran mesin ini membantu kelompok dalam proses pengolahan bahan baku sehingga kegiatan produksi pupuk kompos dapat dilakukan dengan lebih efektif.
Produksi pupuk kompos hingga kini masih terus berjalan. Bahan baku yang tersedia di sekitar masyarakat dimanfaatkan untuk menghasilkan pupuk yang digunakan untuk kebutuhan kelompok maupun masyarakat di luar kelompok.
Dari kegiatan tersebut, masyarakat kemudian melihat peluang untuk mengembangkan aktivitas produktif lainnya.
Ketika muncul kebutuhan terhadap sarana pendukung usaha, masyarakat menyampaikan usulan melalui proposal kepada BSP. Salah satunya adalah kebutuhan terhadap mesin sablon.
Direktur PT Bumi Siak Pusako, Robi Junipa, menegaskan bahwa program PPM ke depan diharapkan tidak berhenti pada pemberian bantuan sarana dan pelaksanaan pelatihan. Lebih dari itu, program pemberdayaan perlu diarahkan agar masyarakat mampu mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kegiatan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan.
“Harapan kami, dukungan PPM dapat terus berkembang dari sekadar bantuan menjadi proses pendampingan yang mampu mendorong masyarakat semakin mandiri. Potensi yang ada di desa perlu diperkuat, mulai dari kapasitas masyarakat, sarana produksi, hingga akses pasar, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujar Robi Junipa.
Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya diukur dari tersalurkannya bantuan, tetapi dari sejauh mana dukungan tersebut mampu menciptakan nilai tambah, membuka peluang kerja, dan memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.
Mesin Sablon, Dari Kebutuhan Menjadi Peluang
Mesin sablon secara resmi diserahterimakan pada 8 Desember 2025 melalui program PPM kepada Penghulu Desa Mengkapan, Muhir. Penyerahan dilakukan oleh TM Community Development, Tengku Muchils.
Bagi kelompok masyarakat, mesin tersebut diharapkan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga dapat berkembang menjadi sarana kegiatan ekonomi produktif.
Saat ini, mesin sablon masih ditempatkan di kantor desa dan pemanfaatannya masih difokuskan pada kebutuhan kelompok.
“Untuk pendapatan secara signifikan memang belum. Kami masih bersaing dan masih membangun pasar. Saat ini kebutuhan kelompok masih menjadi prioritas. Tetapi ke depan kami berharap bisa berkembang dan memiliki tempat produksi yang lebih permanen,” ungkap Muhir.
Menyerap Lima Pekerja Lokal
Meski masih dalam tahap pengembangan, kegiatan produktif tersebut telah memberikan dampak langsung bagi masyarakat sekitar.
Dalam pengelolaannya, kegiatan ini telah menyerap lima orang pekerja lokal. Hal tersebut menunjukkan bahwa dukungan sarana melalui program PPM mulai memberikan multiplier effect bagi masyarakat.
Keterlibatan tenaga kerja lokal juga menjadi bagian penting dalam membangun keberlanjutan kegiatan. Masyarakat tidak hanya memperoleh fasilitas, tetapi turut terlibat dalam proses produksi dan pengelolaan kegiatan.
Dengan demikian, sarana yang diberikan diharapkan dapat terus berkembang menjadi aset produktif yang memberikan manfaat jangka panjang.
Dari Produksi hingga Hilirisasi
Potensi masyarakat Desa Mengkapan juga terlihat dari berkembangnya kelompok UMKM, khususnya kelompok ibu-ibu.
Berbagai pelatihan telah dilakukan untuk meningkatkan keterampilan mengolah bahan baku lokal, salah satunya nanas. Dari bahan tersebut, masyarakat telah mampu menghasilkan berbagai produk, mulai dari makanan ringan, selai hingga sirup.
Namun, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar kemampuan memproduksi.
Hilirisasi menjadi pekerjaan rumah berikutnya.
Bagaimana produk dikemas secara menarik, memiliki branding yang kuat, dijual dengan harga yang kompetitif, serta mampu menembus pasar yang lebih luas menjadi tantangan yang perlu dijawab bersama.
“Kalau pelatihan sudah ada dan bahan bakunya tersedia, sekarang yang perlu dipikirkan adalah kemasan dan pemasarannya. Packaging harus menarik, tetapi tetap dengan harga yang terjangkau,” ujar Muhir.
Membangun Rumah Produksi
Keterbatasan pasar menjadi salah satu tantangan yang dirasakan pelaku UMKM di desa.
Produk yang telah dihasilkan terkadang baru dipasarkan ketika terdapat kegiatan tertentu. Karena itu, muncul gagasan untuk mengembangkan rumah produksi yang dapat menjadi pusat aktivitas kelompok sekaligus mendukung proses produksi, pengemasan dan pengembangan merek.
Ke depan, masyarakat berharap produk-produk UMKM lokal dapat memiliki akses pemasaran yang lebih luas, termasuk didistribusikan ke Pekanbaru dan berbagai titik pemasaran lainnya.
Dengan kemasan yang menarik dan kualitas produk yang konsisten, produk lokal diharapkan tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat sekitar, tetapi juga dapat berkembang sebagai produk oleh-oleh dan produk unggulan desa.
Membuka Ruang bagi Perempuan Desa
Pengembangan UMKM juga diharapkan semakin membuka ruang bagi kelompok perempuan untuk produktif dan berkontribusi terhadap perekonomian keluarga.
Kelompok ibu-ibu memiliki potensi besar dalam mengembangkan usaha berbasis bahan baku lokal. Dengan pendampingan yang berkelanjutan, keterampilan yang telah diperoleh melalui berbagai pelatihan dapat dikembangkan menjadi usaha yang lebih terstruktur.
“Ke depan kami ingin ada dukungan untuk kelompok-kelompok ibu-ibu. Memang UMKM di desa cukup berat karena pasar terbatas. Tetapi kami ingin terus belajar dan mencari bentuk usaha yang bisa berjalan,” tutur Muhir.
PPM BSP, Mendorong Masyarakat Semakin Mandiri
“Kami berharap kelompok-kelompok masyarakat yang telah mendapatkan dukungan dapat terus tumbuh, memiliki pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya mampu berdiri secara mandiri. Inilah semangat yang ingin terus kami dorong melalui PPM BSP,” tambahnya.
Pada akhirnya, keberhasilan pemberdayaan bukan hanya diukur dari berapa banyak bantuan yang diberikan, tetapi dari sejauh mana bantuan tersebut mampu menggerakkan masyarakat untuk produktif, menciptakan peluang ekonomi, menyerap tenaga kerja lokal dan tumbuh menuju kemandirian.
Bagi masyarakat Desa Mengkapan, dukungan BSP melalui program PPM memiliki arti lebih dari sekadar pemberian bantuan peralatan.
Mulai dari mesin pencacah kompos, mesin sablon, peningkatan keterampilan hingga pengembangan UMKM, seluruhnya menjadi bagian dari proses membangun kapasitas masyarakat berdasarkan potensi dan kebutuhan lokal.
Muhir menyampaikan apresiasi kepada BSP atas dukungan yang telah diberikan serta berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada BSP. Kami berharap ke depan masih ada dukungan untuk kebutuhan kelompok masyarakat lainnya. Pemerintah desa juga memiliki peran sebagai pembina, tetapi dukungan dari program PPM BSP tentu sangat membantu masyarakat,” ungkapnya.
Harapan tersebut sejalan dengan semangat pemberdayaan yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi di wilayahnya.
Mesin pencacah kompos membantu masyarakat mengolah potensi bahan baku menjadi produk yang bermanfaat. Mesin sablon membuka ruang bagi aktivitas produksi dan peluang kerja. Sementara pengembangan UMKM menjadi langkah berikutnya untuk menciptakan nilai tambah dari potensi lokal. (Adv)







