RiauKepri.com, BINTAN – Produk batik berbasis mangrove yang dikembangkan Kelompok Usaha Ekonomi Perempuan (KUEP) Melati Desa Berakit, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan, mulai didorong keluar dari pasar konvensional. Penguatan branding, kemasan, fotografi produk, hingga pemasaran digital dilakukan agar produk perempuan pesisir tersebut mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Selama ini, KUEP Melati sebenarnya memiliki produk dengan kekuatan cerita lokal. Batik cap dan ecoprint yang mereka hasilkan mengangkat motif ekosistem mangrove Desa Berakit, bahkan menggunakan pewarna alami dari kulit kayu mangrove yang telah mati.
Persoalannya, kualitas dan keunikan produk belum sepenuhnya ditopang strategi pemasaran yang memadai. Kemasan masih sederhana, identitas visual belum kuat, sementara pemasaran lebih banyak dilakukan secara konvensional.
Kondisi tersebut menjadi fokus program pengabdian kepada masyarakat Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) melalui kegiatan “Penguatan Kapasitas dan Inovasi Produk Batik Berbasis Mangrove KUEP Melati di Desa Berakit Kabupaten Bintan.”
Ketua Tim Pengabdian UMRAH, Fortia Magfira, mengatakan potensi KUEP Melati tidak hanya terletak pada produk batik, tetapi juga pada identitas lokal yang melekat di dalamnya.
“Kami ingin produk KUEP Melati tidak hanya memiliki kualitas yang baik, tetapi juga mempunyai identitas yang kuat. Karena itu, penguatan dilakukan mulai dari branding, kemasan, foto produk hingga pemasaran digital agar produk dapat dikenal lebih luas,” ujar Fortia.
Menurut dia, penguatan kapasitas menjadi penting karena produk yang berkualitas tidak otomatis mampu bersaing jika tidak dikemas dan dipasarkan dengan strategi yang tepat.
Dalam pendampingan tersebut, anggota KUEP Melati dibekali pengetahuan mengenai branding, desain kemasan, fotografi produk, pembuatan konten promosi, pengelolaan media sosial, website, hingga pencatatan penjualan sederhana.
Hasilnya, KUEP Melati mulai memiliki identitas produk “Batik Mangrove Ramah Lingkungan”, kemasan baru yang lebih informatif, foto produk yang lebih representatif, serta media promosi digital.
Langkah yang paling menonjol adalah pemanfaatan website Berakit Series sebagai etalase digital. Platform tersebut digunakan untuk menampilkan katalog, informasi produk dan kontak pemesanan.
Perubahan tersebut dinilai penting bagi KUEP Melati karena selama ini perhatian kelompok lebih banyak terserap pada proses produksi.
Salah seorang anggota KUEP Melati mengatakan pelatihan membuat kelompoknya menyadari bahwa pemasaran merupakan bagian penting dari pengembangan usaha.
“Kami selama ini lebih fokus membuat produk. Setelah mengikuti pelatihan, kami memahami bahwa kemasan, foto, media sosial dan website juga penting agar produk kami lebih dikenal,” ujarnya.
KUEP Melati sendiri dibentuk pada 2024 dan menjadi wadah bagi perempuan pesisir untuk mengembangkan aktivitas ekonomi berbasis potensi lokal. Batik mangrove kemudian menjadi salah satu produk yang dikembangkan dengan menggabungkan kreativitas, kekayaan alam pesisir dan konsep ramah lingkungan.
Pemerintah Desa Berakit menyambut positif pendampingan tersebut. Pemerintah desa berharap pengembangan batik mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan pemberdayaan, tetapi berkembang menjadi produk unggulan yang memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Kami berharap pendampingan ini dapat membantu KUEP Melati mengembangkan produk unggulan desa dan memperluas pemasarannya. Potensi mangrove yang dikembangkan menjadi produk kreatif tentu menjadi nilai tambah bagi Desa Berakit,” ujar Sekretaris Desa Berakit.
Evaluasi program menunjukkan adanya peningkatan pemahaman anggota dalam branding, perbaikan kemasan, peningkatan kualitas foto produk, tersedianya media promosi digital, serta pencatatan penjualan yang lebih terstruktur.
Tim pengabdian UMRAH terdiri atas Fortia Magfira, Bavitra, Muhammad Sepli Yandri, Muhammad Fatwa Sukmawan, dan Siti Arita Novia dari berbagai bidang keilmuan.
Pendampingan ini sekaligus membuka peluang baru bagi KUEP Melati. Batik mangrove tidak lagi hanya diposisikan sebagai produk kerajinan perempuan pesisir, tetapi diarahkan menjadi produk ekonomi kreatif dengan identitas lokal yang mampu bersaing di pasar digital.
Tantangannya kini bukan lagi sekadar memproduksi batik, melainkan memastikan produk tersebut dikenal, dipercaya, dan dibeli oleh pasar yang lebih luas. (*)









