Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Rakyat Menopang

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DI sebuah pulau di pesisir Riau, di muara Selat Malaka, pagi datang perlahan. Lalat baru saja terbang dari peraduannya, bulan masih menyisakan cahaya di langit, sementara matahari dari sebelah timur mulai merangkak menampakkan wajahnya.

Pagi itu, 81 tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, seorang cucu terlihat bersiap mengenakan baju merah putih. Ia hendak menuju padang yang setiap tahun menjadi tempat berkumpul masyarakat kampung untuk memperingati hari kemerdekaan.

Di ujung parit, berdiri sebuah rumah tua yang menghadap ke timur. Dari jalan setapak, rumah itu tampak sedikit miring ke kanan. Namun, pemiliknya memberi penopang agar rumah tetap tegak. Apa pun berat beban di dalam rumah, rumah itu tak mudah tumbang dan tetap dipikul.

Orang Melayu punya petuah, wak. “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.” Rumah itu seakan mengajarkan petuah tersebut. Kalau tiang saling menopang, rumah akan berdiri. Kalau orang kampung saling menjaga, kampung akan sentosa.

Selepas upacara bendera, biasalah Wak, masyarakat pun turun ke lapangan mengikuti permainan rakyat. Ada panjat pinang, ada lari dalam goni. Dari luar terlihat seperti permainan yang menyusahkan. Kaki terjepit, badan terbungkus, jatuh bangun mengejar kemenangan.

Namun, jangan cepat mengatakan permainan itu menyiksa, Wak. Di situlah orang Melayu mengajarkan makna kehidupan, tidak ada tujuan yang dicapai tanpa usaha, tidak ada kejayaan tanpa kebersamaan, dan tidak ada kemenangan yang elok kalau diraih dengan menginjak orang lain.

Panjat pinang bukan sekadar memanjat batang licin untuk mengambil hadiah, Wak. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana manusia bekerja bersama. Yang kuat membantu yang lemah, yang di bawah menopang yang di atas. Ketika seorang sampai di puncak, sebenarnya seluruh kelompoklah yang menang.

Begitu pula lari dalam goni. Orang boleh jatuh berkali-kali, tetapi ia harus bangkit lagi. Sebab hidup tidak pernah menjanjikan jalan yang rata. Kemerdekaan pun demikian.

Dulu kita berteriak merdeka dari penjajahan, Wak. Hari ini, setelah 81 tahun Indonesia berdiri, barangkali penjajahan yang paling berat justru berada di dalam kepala sendiri, pikiran yang enggan berubah, kebiasaan yang malas diperbaiki, dan kekuasaan yang hanya melihat negeri dari kepentingan sendiri.

Kita sering berbicara tentang kesejahteraan, tetapi kesejahteraan kadang hanya terasa di ruang-ruang tertentu. Kita berbicara tentang keamanan, tetapi masih ada orang kecil yang merasa tidak aman. Kita berbicara tentang ketenteraman, tetapi banyak hati yang masih gelisah.

Kalau begitu, kemerdekaan macam apa yang sedang kita rayakan?

Orang Melayu mengajarkan, Wak. “Elok kampung karena penghulu, elok negeri karena rakyat.” Pemimpin bukanlah orang yang berdiri paling tinggi untuk dipuja, melainkan orang yang paling dahulu memikul beban ketika rakyatnya kesusahan.

Jangan pula sampai negeri ini seperti orang yang menepuk air di dulang. Bukannya air yang menjadi jernih, muka sendiri yang basah.

Maka, rumah tua di ujung parit itu sebenarnya bukan sekadar rumah. Ia adalah guru yang diam-diam mengajar kita tentang Indonesia. Ia memang miring, tetapi tetap tegak karena ada penopang.

Begitulah sepatutnya negeri ini. Boleh berbeda pendapat, boleh berbeda pilihan, boleh berbeda jalan, tetapi jangan sampai kehilangan tiang penyangga, adat, marwah, gotong royong, keadilan dan rasa malu kepada rakyat yang dipercayakan.

Sebab Melayu mengajarkan, “Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah.” Selama adat dijunjung, marwah dipelihara, dan sesama manusia tidak ditinggalkan, kemerdekaan tidak berhenti menjadi upacara setiap 17 Agustus. Ia hidup dalam perbuatan.

Dan dari rumah yang miring di ujung parit itu, seakan terdengar suara seorang anak negeri berkata: “Aku boleh diterpa zaman. Aku boleh ditimpa beban. Tetapi selama kita saling menopang, aku tidak akan tumbang. Akulah Indonesia.”

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jeritan “Ampun, Pak” di Tengah Kebun Sawit: Puluhan Pekerja di Rohul Jadi Korban Penyerangan

16 Agu 2026 - 10:29 WIB

Jeritan “Ampun, Pak” di Tengah Kebun Sawit: Puluhan Pekerja di Rohul Jadi Korban Penyerangan

LMR Silaturahmi ke LAMR, Perkuat Sinergi dan Kepedulian terhadap Melayu Riau

14 Agu 2026 - 13:51 WIB

LMR Silaturahmi ke LAMR, Perkuat Sinergi dan Kepedulian terhadap Melayu Riau

Plt Gubri Dorong Perusahaan di Riau Gunakan BRK Syariah

14 Agu 2026 - 13:23 WIB

Plt Gubri Dorong Perusahaan di Riau Gunakan BRK Syariah

Portal Website Perpustakaan UNILAK Masuk 10 Besar Nasional, Satu-satunya Wakil Riau

13 Agu 2026 - 15:25 WIB

Portal Website Perpustakaan UNILAK Masuk 10 Besar Nasional, Satu-satunya Wakil Riau

‎80 Siswa SMKN 1 Pekanbaru Tour Campus ke UNILAK, Dapatkan Pengalaman Langsung Praktik Manajemen Perkantoran

13 Agu 2026 - 09:41 WIB

‎80 Siswa SMKN 1 Pekanbaru Tour Campus ke UNILAK, Dapatkan Pengalaman Langsung Praktik Manajemen Perkantoran
Trending di Pekanbaru