RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan siap bermitra dengan pemerintah untuk menyelamatkan, melestarikan, dan mengembangkan tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat Melayu Kepri.
Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat ATL Kepri di Balai Seri Indrasakti, Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri, Tanjungpinang, Rabu (19/8/2026).
Ketua ATL Kepri, Abdul Kadir Ibrahim atau biasa disapa Akib mengatakan, ATL tidak menempatkan diri sebagai lembaga yang berhadapan dengan pemerintah. Sebaliknya, ATL ingin menjadi mitra dalam upaya pelestarian tradisi lisan.
“ATL bukan lembaga yang berdiri berhadapan dengan pemerintah, tetapi menjadi mitra sejajar pemerintah dalam pelestarian tradisi lisan,” kata Akib.
Menurut dia, ATL akan membangun komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Kepri, pemerintah kabupaten/kota, serta organisasi perangkat daerah yang berkaitan dengan kebudayaan, pendidikan, perpustakaan dan kearsipan.
Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah menginventarisasi tradisi lisan di seluruh kabupaten/kota di Kepri.
Data tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar dalam pengusulan Warisan Budaya Takbenda (WBTb).
ATL juga mendorong pemerintah kabupaten/kota lebih aktif mengidentifikasi dan merumuskan tradisi lisan yang memenuhi kriteria untuk diusulkan sebagai WBTb. Dalam rapat tersebut bahkan muncul target agar Kepri dapat mengusulkan hingga 50 WBTb setiap tahun.
Wakil Ketua I ATL Kepri, Zulkifli, mengatakan organisasi tersebut harus lebih proaktif dalam menyelamatkan tradisi lisan yang terancam hilang. ATL, kata dia, juga diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan dalam proses pengusulan WBTb.
Sementara itu, Wakil Ketua II ATL Kepri Ary Satya Darma mendorong agar tradisi lisan tidak hanya dilestarikan sebagai warisan budaya, tetapi juga dikembangkan menjadi bagian dari ekonomi kreatif.
Menurutnya, tradisi lisan dapat dikemas melalui berbagai produk kreatif, termasuk film, sehingga memiliki jangkauan yang lebih luas sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Upaya pelestarian juga akan diperkuat melalui kerja sama dengan berbagai pihak. ATL berencana menjajaki kerja sama melalui nota kesepahaman atau MoU dengan BAZNAS, perbankan, Kantor Bahasa, RRI, TVRI, perguruan tinggi hingga perusahaan di Kepri. Perguruan tinggi juga diharapkan berperan melalui penelitian dan tugas akhir mahasiswa yang mengangkat tradisi lisan di daerah.
Pembina ATL Kepri, Tamrin Dahlan menekankan pentingnya regenerasi dalam menjaga keberlangsungan tradisi lisan. Ia mengingatkan sejumlah tradisi mulai mengalami kondisi mati suri karena tidak lagi diwariskan kepada generasi muda.
“Penyelamatan harus dilakukan segera sebelum tradisi tersebut benar-benar hilang,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, ATL Kepri menyepakati sejumlah langkah, di antaranya inventarisasi tradisi lisan di seluruh kabupaten/kota, pembentukan kembali tim perumus WBTb, pelibatan peneliti muda dari perguruan tinggi, serta penguatan kelembagaan melalui penyediaan sekretariat. STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau diusulkan menjadi salah satu lokasi sekretariat ATL Kepri.
ATL Kepri menilai tradisi lisan yang berkembang di masyarakat Melayu Kepri bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi tersebut merupakan sumber pengetahuan, identitas, pendidikan, sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari ekonomi kreatif. (*)










