Menu

Otomatis
Breaking News

Pekanbaru

Empat Tahun BRK Syariah: Dari Sebuah Peresmian, Menjadi Ikhtiar Ekonomi Melayu

badge-check

Gedung Bank Riau Kepri Syariah di Jalan Sudirman, Pekanbaru.  (Foto: ist) Perbesar

Gedung Bank Riau Kepri Syariah di Jalan Sudirman, Pekanbaru. (Foto: ist)

RiauKepri.com, PEKANBARU— Empat tahun berlalu sejak hari itu. Namun bagi sebagian orang yang menyaksikannya, suasana di Menara Dang Merdu, Pekanbaru, pada 25 Agustus 2022 masih seperti baru kemarin.

Hari itu, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin meresmikan konversi PT Bank Riau Kepri menjadi Bank Riau Kepri Syariah atau BRK Syariah. Bagi dunia perbankan, peristiwa itu mungkin tercatat sebagai sebuah proses transformasi bisnis. Namun bagi Riau, langkah tersebut memiliki cerita yang lebih panjang.

Ia bukan hanya tentang perubahan sistem perbankan dari konvensional menjadi syariah. Ada harapan agar sebuah bank milik daerah dapat tumbuh bersama masyarakat, membiayai usaha kecil, memperluas ekonomi halal, sekaligus berjalan seiring dengan nilai yang hidup dalam masyarakat Melayu Riau.

Empat tahun kemudian, jejak keputusan besar itu masih menjadi bagian dari perjalanan ekonomi daerah.
Di balik proses panjang tersebut, ada sosok Gubernur Riau periode 2019–2023, Dr. H. Syamsuar, M.Si, yang sejak awal ikut mendorong agar Bank Riau Kepri bertransformasi menjadi bank syariah.

Bagi Syamsuar, perubahan itu bukan semata urusan mengganti sistem transaksi.
Ada keyakinan bahwa bank daerah harus menjadi lebih dari sekadar tempat menyimpan uang atau menyalurkan pembiayaan. Ia harus hadir di tengah kehidupan masyarakat dan ikut menggerakkan roda ekonomi dari bawah.

Karena itu, ketika proses konversi berjalan, Syamsuar tidak sekadar menunggu hasil dari balik meja pemerintahan. Ia ikut mengawal dan membicarakannya, termasuk bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Ada pula satu pesan yang terus ditekankannya: BRK Syariah harus dikelola secara profesional. Bahkan sejak awal, Syamsuar mengingatkan pentingnya berbagai perangkat profesional dalam pengelolaan bank, termasuk keberadaan konsultan pajak agar persoalan perpajakan tidak menjadi batu sandungan bagi perjalanan bank daerah tersebut.

Namun ada satu hal lain yang menarik dari sikap Syamsuar. Ia tidak hanya meminta masyarakat percaya kepada BRK Syariah. Ia memberi contoh dari dirinya sendiri.
Syamsuar mengajak masyarakat Riau menabung dan bertransaksi di bank daerah sendiri. Sebagai bentuk kepercayaan, ia bahkan memindahkan tabungan pribadinya ke BRK Syariah.

Pesannya sederhana, kalau ingin bank daerah tumbuh, masyarakat harus ikut membesarkannya. Dari sinilah cerita BRK Syariah kemudian tidak berhenti pada seremoni peresmian. Bank tersebut membawa harapan untuk menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat, terutama UMKM.

Pembiayaan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah menjadi salah satu ruang penting. Sebab di sanalah denyut ekonomi masyarakat terasa paling dekat, di kedai kecil, usaha makanan, perdagangan, jasa, fesyen muslim, hingga berbagai usaha berbasis ekonomi halal.

BRK Syariah kemudian mengembangkan berbagai layanan, mulai dari tabungan, deposito, giro, pembiayaan komersial, UMKM dan konsumer, hingga layanan keuangan lainnya.

Digitalisasi pun menjadi bagian dari tuntutan zaman. Sejak awal konversi, penguatan layanan digital menjadi salah satu strategi yang ditekankan Wapres Ma’ruf Amin.

Perbankan syariah tidak boleh hanya kuat pada label, tetapi juga harus mampu memberikan kemudahan layanan kepada masyarakat di tengah perubahan perilaku transaksi yang semakin digital.

Di saat yang sama, pasar syariah juga terus diperluas. BRK Syariah diharapkan tidak hanya menjadi bank bagi kelompok tertentu, tetapi menjadi bank daerah yang mampu menjangkau masyarakat luas melalui layanan keuangan yang kompetitif dan inovatif.

Harapan itu kemudian bersinggungan dengan agenda yang lebih besar: membangun ekosistem ekonomi halal.

Melalui berbagai program, termasuk GERAK Syariah, BRK Syariah ikut mendorong literasi keuangan syariah dan pengembangan usaha halal. Pelaku UMKM makanan halal, pariwisata halal hingga fesyen muslim menjadi bagian dari ekosistem yang ingin dibangun.

Kerja sama dengan lembaga sertifikasi halal juga dilakukan untuk membantu pelaku usaha mendapatkan legalitas halal bagi produknya. Dengan begitu, pembiayaan tidak berhenti ketika uang diterima pelaku usaha. Ada ekosistem yang hendak dibangun dari hulu hingga hilir.

Dan di sinilah BRK Syariah memiliki cerita yang berbeda. Di Riau, bank ini tidak hanya dipandang dari sisi neraca, aset, pembiayaan atau jumlah nasabah. Ada dimensi kultural yang ikut melekat.

Riau adalah tanah Melayu. Dalam perjalanan sejarahnya, Melayu Riau tumbuh dengan Islam sebagai salah satu fondasi penting kehidupan masyarakat. Karena itu, ketika sebuah bank pembangunan daerah mengambil jalan syariah, sebagian masyarakat melihatnya bukan sekadar pilihan model bisnis.

Ada nilai yang terasa dekat dengan kehidupan mereka. Gagasan itu pula yang pernah disampaikan Syamsuar bersama Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk Seri Marjohan.

Keduanya melihat kehadiran BRK Syariah selaras dengan identitas Melayu Riau yang menjunjung nilai-nilai Islam. Bagi Datuk Seri Marjohan, perubahan tersebut memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar urusan ekonomi dan hukum.

Ia mengingatkan sebuah petuah lama yang telah lama menjadi napas dalam kehidupan masyarakat Melayu: “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah.”

Petuah itu seolah menemukan ruangnya dalam perjalanan BRK Syariah. Sebab dalam pandangan Melayu, adat bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Ia bersanding dengan agama, sebagaimana kehidupan ekonomi semestinya tidak terpisah dari nilai dan kemaslahatan masyarakat.

Itulah sebabnya perjalanan BRK Syariah menjadi menarik untuk dilihat bukan hanya sebagai cerita tentang sebuah bank. Ia adalah cerita tentang sebuah daerah yang mencoba mencari bentuk ekonominya sendiri.

Saat ini, hanya tiga provinsi di Indonesia yang dikenal memiliki bank pembangunan daerah berbasis syariah, yakni Aceh, Nusa Tenggara Barat dan Riau. Bagi Riau, posisi itu tentu membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Sebab memiliki bank syariah bukanlah akhir dari perjalanan. Tantangan sesungguhnya justru bagaimana bank tersebut mampu membuktikan bahwa sistem yang dipilih dapat menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

UMKM harus tumbuh. Pelaku usaha halal harus mendapat akses pembiayaan.
Masyarakat harus semakin melek keuangan. Layanan harus semakin mudah. Dan bank daerah harus mampu bersaing di tengah industri perbankan yang terus berubah.
Lima tahun setelah peresmian itu, ingatan tentang 25 Agustus 2022 akhirnya tidak berhenti sebagai sebuah tanggal dalam kalender sejarah BRK Syariah.

Ia menjadi titik awal sebuah ikhtiar panjang. Ikhtiar agar uang masyarakat kembali berputar di daerah. Agar usaha kecil tidak selalu berdiri sendirian. Agar ekonomi halal memiliki rumah yang lebih kuat. Dan, lebih jauh lagi, agar modernitas perbankan tidak membuat nilai-nilai Melayu kehilangan tempatnya. Sebab pada akhirnya, bank boleh berbicara tentang angka, aset dan pertumbuhan.

Tetapi bagi masyarakat Riau, ada pertanyaan yang lebih sederhana dan lebih dekat: sejauh mana sebuah bank daerah mampu tumbuh bersama orang-orang yang membesarkannya? Di situlah perjalanan BRK Syariah akan terus diuji. Bukan hanya oleh angka di dalam laporan keuangan, tetapi oleh manfaat yang dirasakan masyarakat. Sebab sebuah bank daerah pada hakikatnya bukan hanya tempat uang disimpan. Ia adalah bagian dari denyut ekonomi daerah.

Dan bagi Riau, BRK Syariah juga membawa satu pesan kultural: bahwa ketika adat dan syarak berjalan seiring, pembangunan ekonomi pun diharapkan tidak kehilangan arah. (RK1)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bukan Hanya Cendera Mata, BRK Syariah Dengarkan Curhat Nasabah di Hari Pelanggan Nasional

4 Sep 2026 - 16:45 WIB

Bukan Hanya Cendera Mata, BRK Syariah Dengarkan Curhat Nasabah di Hari Pelanggan Nasional

15 Tahun Jadi Nasabah BRK Syariah, Tak Menyangka Pulang Membawa Hadiah Emas

4 Sep 2026 - 07:47 WIB

15 Tahun Jadi Nasabah BRK Syariah, Tak Menyangka Pulang Membawa Hadiah Emas

16.700 Warga Binaan di Riau, LAMR Diminta Ikut Menjadi Jalan Pulang

3 Sep 2026 - 15:15 WIB

16.700 Warga Binaan di Riau, LAMR Diminta Ikut Menjadi Jalan Pulang

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

3 Sep 2026 - 10:21 WIB

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat

3 Sep 2026 - 09:08 WIB

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat
Trending di Pekanbaru