RiauKepri.com, PEKANBARU- Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 WIB. Matahari seharusnya menyengat, tapi tidak hari ini. Langit di sebagian daerah Provinsi Riau tampak redup, kelabu seperti pagi yang enggan beranjak siang. Hujan tidak turun. Tapi udara terasa berat, sesak. Akhir pekan ini, Sabtu, (28/6/2025), cuaca terlihat tak bersahabat.
Angin membawa kabar, dan kabar itu bukan sekadar bisik biasa. Ia datang membawa bau tenget (tajam) yang menyesak, jerebu. Bukan kabut embun, melainkan asap dari delapan titik api yang menyelimuti bumi Lancang Kuning.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Afrizal Eddy, menjelaskan bahwa titik-titik api itu terpantau di beberapa daerah, Siak, Bengkalis, Dumai, Rohil, dan Kampar. Tim satgas gabungan dari darat dan udara diterjunkan. Satu helikopter patroli dan satu heli waterbombing ikut memperkuat operasi. Langit yang sebelumnya diam, kini ramai oleh suara baling-baling dan seruan para petugas.
Lima titik api sudah padam. Tiga lainnya masih dijinakkan, dalam tahap pendinginan. Tapi tak semuanya berjalan mulus.
Di Rokan Hulu, tepatnya di Desa Aliantan, Kecamatan Tandun, cerita berbeda berlangsung. Di perbukitan tanah mineral yang tandus dan kering, api menyala garang. Tak ada sungai atau kolam. Tak ada selang panjang yang bisa disambung. Hanya ranting pohon dan tekad yang menjadi senjata.
Chaerul Ginting, Kepala Manggala Agni Daops Sumatera IV Pekanbaru, berdiri di antara kepulan asap dan semak yang hangus. Ia dan timnya—gabungan dari Manggala Agni, TNI, dan Polri, berjuang memadamkan api secara manual. “Kami masih menunggu bantuan pompa gendong dan alat pemadam lainnya. Untuk saat ini, pakai ranting, kepyok api. Lokasinya sulit, tak ada sumber air,” ujarnya.
Petugas berkeringat di bawah terik yang menyiksa. Mereka kepayahan, tapi tidak menyerah dan tak lelah. Setiap langkah adalah usaha memutus penjalaran api yang mengincar lahan-lahan sawit. Hingga kini, belum bisa dipastikan seberapa luas lahan yang telah terbakar. Yang pasti, bumi Riau terus melepuh.
Waktu terus berjalan, langit tetap abu-abu. Barangkali bukan karena mentari enggan bersinar, tapi karena manusia belum belajar menjaga yang seharusnya dijaga. Padahal silsilah asap sudah katam dibaca. (RK1)








