Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

M. Yunus Hz (1939-2002): Ulama Kuantan Singingi Yang “Diblacklist” PKI

badge-check


					M. Yunus Hz  bersama istri tercinta dan Presiden Soeharto Perbesar

M. Yunus Hz bersama istri tercinta dan Presiden Soeharto

KETIKA Presiden Soekarno mengeluarkan konsep Nasakom: Nasionalisme, Agama, dan Komunis (1959-1966) yang jadi korban itu ulama. Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai bagian dari Nasakom sangat membenci kalangan ulama.

Banyak ulama yang jadi korban akibat keganasan PKI tersebut. Ada yang diculik, dibunuh, dan diblacklist atau daftar hitam memberikan ceramah selama demokrasi terpimpin tersebut.

Salah seorang ulama yang jadi korban itu adalah Mohammad Yunus Hamzah akrab disapa M. Yunus Hz. Kala itu ia bertugas di kantor Departemen Agama (Depag) Jambi.

Yunus baru saja menyelesaikan Pendidikan Hukum Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta tahun 1962. Usianya kala itu baru 23 tahun.

Sebagai ulama Yunus bertugas memberikan pencerahan dan siraman rohani kepada ummat muslim. Tentu saja dia sering turun ke lapangan.

Ternyata PKI di Jambi tidak menyenangi kegiatan Yunus. Puncaknya kurun waktu 1962-1965 dia diblacklist memberikan ceramah. Ia bahkan diancam mau dibunuh atau diculik. Untung dia selamat dari ancaman tersebut.

Apakah ancaman PKI itu membuatnya patah arang? Ternyata tidak. Bersama ulama dan mahasiswa ia berada di barisan terdepan dalam mengganyang PKI di kota Jambi. Suatu waktu dia hampir saja diculik, tapi Tuhan menyelamatkan nyawanya.

Lalu siapakah Yunus? Ia lahir di Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi pada 14 Februai 1939. Anak kedua dari tujuh bersaudara pasangan Hamzah dan Lama. Saudaranya kandungnya yang lain adalah Lukman, Martius, Nuraini. dan Hamzili. Sedangkan saudara seibu beda ayah adalah
Saudara Badrun dan Yulkusni.

Jenjang pendidikan dasar diselesaikannya di SR Sentajo. Kemudian lanjut ke SMP Muhammadiyah Sentajo (1953 – 1955). Namun pendidikan itu tak selesai. Dia melanjutkan ke PGA Negeri Tanjungpinang 1956 – 1959.

Tamat dari PGA Tanjungpinang Yunus melanjutkan kuliah di Perguruan Hukum Islam Negeri (PHIN) Yogyakarta lewat jalur beasiswa Tunjangan Ikatan Dinas. Di kampus ini pula ia meraih gelar Bachelor of Art disingkat BA tahun 1962.

Sewaktu kuliah di Yogyakarta, Yunus aktif di Mesjid Syuhada sebagai Pemuda Muhammadiyah. Bersamanya ikut Abas Chewang asal Sentajo yang kuliah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta disingkat UMY.

Saat kuliah jika pulang kampung Yunus selalu membawa kalender Muhammadiyah, tafsir Al Azhar dan Imsakiyah Muhammadiyah. Lalu dibagikan ke keluarga di kampung.

Kemudian gelar sarjana lengkap diselesaikan Yunus di IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta kampus Pacet Cipanas, Cianjur dekat Istana Kepresidenan Cipanas tahun 1963.

Lulus dari PHIN Yunus bekerja sebagai Pegawai Depag Jambi dan Dinas Penerangan Agama Cianjur. Seiring perjalanan waktu perjalanan kariernya sebagai abdi negara terus meningkat.

Yunus pernah menduduki jabatan sebagai Kepala Kantor Depag di Cianjur, Sukabumi, dan Subang. Kemudian ketika pindah ke Riau, dia pernah menjabat Kepala Kantor Depag Indragiri Hilir (1988-1992) dan Kabid Urusan Agama Islam Kanwil Depag Provinsi Riau 1992 – 1999.

Atas dedikasi, loyalitas, dan kompetensinya, Yunus pernah menerima penghargaan pegawai teladan. Penghargaan itu langsung diberikan Presiden Suharto di Istana Negara, Jakarta.

Pensiun

Usai pensiun pada 1999 Yunus pulang ke kampung istrinya di Cianjur. Pensiun bukan berarti ia lantas nganggur. Ia malah dipercaya sebagai Pembina Muhammadiyah sekaligus Ketua Majelis Ulama Islam di Cianjur.

Yunus juga rutin mengisi pengajian di radio milik daerah dan santapan rohani di kantor.

Kisah Unik

YUNUS menikah pada 1964 dengan Sri Banon alumni PGA Putri Yogyakarta. Dari pernikahan itu dia punya satu orang anak yakni Endah Yusriani.

Ketika istrinya Sri Banon meninggal dunia pada 1970 di Ciwidey, Kabupaten Cianjur, Yunus nikah lagi dengan Nani Yustiani.

Istri kedua Yunus ini juga adik dari istri pertamanya. Dari Nani, dia punya empat orang anak: Indra Yusnan, Rachma, Hera Firmansyah, dan Edwar Tanjung.

Di sinilah keunikan Yunus. Nikah dengan adik iparnya sendiri. Nikah seperti ini diperbolehkan dalam agama Islam

Dalam Kenangan

YUNUS meninggal di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, 2 Januari 2002 dimakamkan di Cianjur. Kepergiannya tentu menimbulkan duka mendalam bagi keluarganya.

Di mata anak-anaknya Yunus adalah orang tua yang penyayang dan peduli pada sesama.
Kemudian di mata adiknya Nurani, Yunus adalah sosok yang mengayomi dan pandai bergaul.

“Sewaktu sekolah di PGA Tanjungpinang setiap liburan pulang kampung Abang Yunus aktif berdakwah di kampung bersama Bang Marhajas,” ujar Nuraini.

Yunus dan Marhajas memberikan pelajaran bagaimana salat anak anak. Dan, pelbagai ilmu agama lainnya di Kenegerian Sentajo dan daerah terdekat lainnya.

Motivasi

DIMATA Cendikiawan Muslim Riau asal Kuantan Singingi, Taswin Yac’ub, Yunus sangat memotivasinya agar kuliah di Yogyakarta. “Hampir saja Abang ikut kuliah di Yogyakarta dibawa Bang Yunus dan Mak Abas. Tapi mondek (ibu) Abang tidak mengizinkan. Mondek takut anaknya merantau jauh. Akhirnya Abang kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang.

Setamat dari spesialis saraf Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang (1992 – 1999 bertugas sbg dokter Inpres Spesialis di Rumah Sakit Zainul Abidin dan sebagai dosen Ilmu Saraf (Neurologi) di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.

Setelah tak jadi kuliah di Yogyakarta, Taswin memilih kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Masuk 1972 dan lulus 1980. Tugas pertama sebagai doker Inpres di Puskesmas Muara Lembu pada 1981 – 1982. Kemudian pindah jadi Kepala Puskesmas Baserah (1982 – 1984).

Kemudian pindah ke Puskesmas Air Molek (1984 – 1988). Setelah itu lanjut profesi spesialis saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang (1988 s.d 1972).

Pada 1999 Taswin pindah ke Pekanbaru. Ikut sebagai Panitia Pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Riau, Pekanbaru. SK pendirian keluar sejak 2001 sampai sekarang.

Sebelum pensiun sebagai abdi negara, Taswin Yac’ub juga sempat memegang Jabatan Tinggi Pratama di Riau seperti Direktur RSU Arifin Ahmad dan Kadis Kesehatan.

Bagi Rafles yang diingat dari Yunus itu adalah penguasaan bahasanya. Selain Bahasa Arab dan Inggris dia juga menguasai pelbagai bahasa daerah seperti Bugis, Banjar, Melayu, Jawa, Betawi, Sunda, dan lainnya.

“Di mana Bang Yunus bertugas dengan cepat ia menguasai bahasa tempat ia bertugas tersebut,” ujar Rafles salut.

Namun yang mengagumkan Rafles adalah rasa cinta Yunus terhadap kampung halamannya (Sentajo). “Puluhan tahun di rantau orang, jika pulang kampung Bang Yunus tak melupakan identitas dirinya sebagai orang kampung,” tambah Rafles.

Yunus memang telah pergi untuk selama-lamanya. Namun budi baiknya tetap dikenang. Selamat jalan Pahlawanku

Sahabat Jang Itam: 14092025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing