Tulisan ini merupakan simpulan dari buku “Pak Mantri dari Baserah – H. Zainal Abidin S Menjelang 100 tahun.” Buku setebal 192 halaman ditulis oleh Sutriyono. Kesehariannya sang penulis yang juga alumni Uiversitas Jendral Soedirman (UNSOED) Purwerketo, Jawa Tengah ini adalah wartawan dan penulis biografi sejumlah tokoh penting.
Sebelum menyimpulkan buku tersebut saya minta izin dulu kepada anak dari pasangan Zainal dan Zainab, Dra. Rionery Renggenies, SKM., M.Kes, yang kini tinggal di Pekanbaru. Atas izinnya terbitlah tulisan ini. Semoga tulisan yang sederhana bisa memberikan inspirasi bagi generasi penerus bangsa. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam simpulan ini.
Ditinggal Ibu
ZAINAL Abidin Sianing lahir pada Jumat 22 Desember 1922. Nasib Zainal pada waktu kecil tidaklah seberuntung orang kebanyakan. Penuh lika liku. Ia harus ditinggal pergi ibunya Zuriyah ketika masih kecil.
Ceritanya suatu hari ketika berusia 4 tahunan, ketika Zainal sedang duduk-duduk dan bermanja-manja bersama Ayahnya Pakiah Paun tiba-tiba terjadi pertengkaran. Entah bagaimana awal mulanya, Ibunya datang membawa nasi bungkus. Dalam suasana penuh amarah, Ibunya melempar nasi itu pada Ayahnya. “Ini, kasih makan, anakmu!”
“Pertengkaran” Ayah dan Ibu di depan mata Zainal ternyata membekas mendalam di hatinya. Peristiwa itu masih diinggatnya hingga masa tuanya. Terkadang ia menceritakan kisah pilu yang seharusnya tidak terlihat oleh anak-anaknya semoga menjadi iktibar.
Selepas peristiwa itu, sang ibu meninggalkan Ayah dan anak-anaknya. Zainal yang masih kecil tinggal bersama Ayah, dengan dua kakak (Buyung dan Rohana Sahara) dan satu adik (Ramisa). Dalam perjalanan hidup mereka saling dukung. Bahkan kakak pertama yang ketika itu hidup sudah cukup mapan di Rumah Sakit Rengat, mendorong sang adik (Zainal) ikut bekerja bersamanya.
Tumbuh sebagai anak-anak dalam keluarga dan lingkungan yang miskin serta cinta kasih sayang membekas kuat dalam diri Zainal. Dan, dalam kehidupan nyata selanjutnya, ia begitu mudah tersentuh dengan penderitaan orang lain. Dengan ringan hati, ia akan berbagi dan menolong mereka yang membutuhkan
Tanpa Pengantar
KETIKA masuk Sekolah Rakyat pada 1930-an di Baserah, Zainal datang seorang diri tanpa diantar ayah maupun ibunya. Guru kemudian memberinya kursi di belakang. Namun melewati jam istirahat, ia pindah kursi paling depan. Alasannya, tidak puas duduk di bangku belakang.
Dalam perjalanan selanjutnya Zainal tumbuh menjadi anak yang pintar. Ia disayangi guru-gurunya. Salah seorang gurunya Abdullah yang akrab disapa Guru Buyung memintanya menjadi “asisten” pribadinya.
Zainal dinilai lebih pandai dibanding teman-temannya. la sering mendapatkan nilai tujuh, sementara nilai teman-teman tiga. Itulah mengapa ia sering diminta membantu Guru Buyung bukan hanya mengoreksi tetapi juga memberi nilai atau ponten.
Sebagai ungkapan terima kasih, tiap Sabtu, Guru Buyung memberinya “uang tip” sebesar satu sen. Uang itu tentu berarti di tengah kehidupannya yang serba kekurangan. Namun hubungan Guru Buyung dengan anak murid kesayanganya itu berakhir ketika sang guru pindah ke Siantar. Sebuah perpisahan yang sulit diungkapan dengan kata-kata. Penuh haru dan deraian air mata tentunya.
Belajar Menyuntik
ZAINAL diajari bagaimana menyuntik pada tahun 1930-an dari gurunya asal Belanda. Sang guru juga mengajaknya turun ke lapangan memberantas penyakit frambusia pada tahun 1935. Penyakit frambusia sejenis infeksi bakteri jangka panjang atau kronis yang seringkali menyerang kulit, sendi atau tulang di tengah masyarakat.
Sekali seminggu setiap Sabtu, Zainal melakukan penyuntikan gratis bagi penderita penyakit frambusia di Baserah. Di sinilah kelihaiannya sebagai “tukang suntik” terlihat. Orang lain yang sama-sama menyuntik masih memilih-milih titik mana yang harus ditusuk jarum, ia dengan luwes langsung menyuntikkan obat tersebut.
Artinya, orang lain masih pilih-pilih, Zainal bisa cepat saja. Tepat, langsung suntik saja. “Orang lain baru satu, Bapak sudah tiga,” ungkap Zainal berkisah tentang pengalaman pertamanya sebagai “tukang suntik”.
Dalam perjalanan selanjutnya Zainal akhirnya menjadi mantri kesehatan. Kecepatan dalam belajar dan keterampilan dalam menyuntik mendapat perhatian pejabat Belanda. Pada 1935, ia mendapat izin khusus membantu menangani kesehatan masyarakat dalam status sebagai juru perawat.
Itu artinya Zainal telah mulai beraktifitas menjalankan fungsi seorang mantri kesehatan lebih dari 60 tahun selepas tercetusnya profesi baru tersebut. Ia berkeliling dari satu desa ke desa lainnya di Kuantan Hlir mengobati orang sakit.
Pekerjan Zainal nyaris seperti yang dijalani seorang dokter pada masa sekarang. Yakni mendiagnosa penyakit dan memberikan obat untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Dan, pekerjaan itu dijalaninya dengan tulus, ikhlas, dan penuh tanggungjawab.
Perawat Jujur
SELEPAS Sekola Rakyat, Zainal didorong oleh kakak iparnya Djadun Sutan Mudo mendaftar sebagai karyawan di rumah sakit di Rengat. Ia kemudian mendaftar dan diterima. Di sinilah perjalanan hidupnya dimulai. Perlahan tapi pasti tanda-tanda kebaikan sudah makin jelas.
Zainal memulai karier “formalnya” sebagai pembantu perawat. Posisi ini diperoleh selepas dirinya menyelesaikan pendidikan setingkat SMP di Pekanbaru. Keinginannya untuk meningkatkan karier sebagai tenaga medis mendorongnya mengajukan diri pindah ke Rumah Sakit Pekanbaru.
Di Rumah Sakit Pekanbaru, Zainal bekerja belajar mandiri. Dia
membaca buku-buku yang dibutuhkan untuk penyetaraan pendidikan setingkat SMP. Pendidikan semacam ini tidak ada di Rengat. Itu pula alasan lain mengapa ia pindah bekerja di Pekanbaru. Ketika ujian persamaan, ia ikut dan lulus. Sebuah tonggak kehidupan penting terjadi pada dirinya ketika berada di Pekanbaru ini.
Dan, sebagai pembantu perawat di rumah sakit, Zainal sering pula diminta seniornya Mantri Ahmad membantu bersih-bersih rumah. Dari pekerjaan itu, ia baru mengetahui kehidupan mantra Ahmad sesungguhnya.
Saat itu ekonomi masyarakat sedang susah. Barang-barang kebutuhan pokok susah dicari. Kalau ada harganya pun mahal. Namun sebaliknya beras di rumah Mantri Ahmad melimpah. “Bagaimana bisa terjadi?” Begitu Zainal bertanya-tanya dalam hati.
Baru Zainal tahu penyebabnya, Mantri Ahmad selain memiliki pasien yang banyak juga banyak di antara pasien tersebut adalah orang-orang Tionghoa. Merekalah (orang Tionghoa) yang memasok beras di rumah Mantri Ahmad.
Suatu kali, ketika sedang bersih-bersih rumah Mantri Ahmad, Zainal melihat ada sejumlah uang di meja. Ia lalu menyampaikan pada Mantri Ahmad ada uang tergeletak. la khawatir uang hilang kalau tak diselamatkan.
“Uang siapa?” Mantri Ahmad balik bertanya.
Mantri Ahmad seakan tidak tahu uang siapa yang ada di atas meja tersebut. Zainal mendesak dan menyerahkan uang itu meskipun Mantri Ahmad tidak mengakuinya.
Pada titik inilah Mantri Ahmad kemudian menaruh kepercayaan besar pada Zainal. Lantas ia menjadi anak angkat. Dan, dari Mantri Ahmad itulah ia memahami bagaimana meramu obat-obatan untuk pasien sakit.
Kisah Cinta
SEBAGAI mantri, Zainal memang bekerja di Rumah Sakit Rengat. Akan tetapi, ia juga “membuka praktik” di kampung halamannya, Baserah. Bila mengunjungi tempat praktiknya, banyak pasien berdatangan untuk berobat.
Ketika buka praktek itu status Zainal masih lajang alias belum menikah. Tentu saja “status” ini membuatnya menjadi impian dan rebutan banyak gadis, terutama di Baserah. Meskipun demikian, pada umumnya impian semacam itu tidak terekspresikan secara terbuka seperti pada masa sekarang.
Di Baserah ada seorang gadis yang jadi “kembang” desa. Namanya Zainab. Endah yang merupakan ibu dari Zainab adalah pasien Zainal. Zainal kadang berkunjung ke rumah Ibu Zaenab untuk memeriksa kesehatannya.
Zainab terkadang terlihat sedang menyapu halaman. Tidak ada roman khusus seperti film-film. Misalnya Zainal beradu pandang dengan Zainab, atau Zainab memandang Zainal ketika pemuda idaman banyak gadis tersebut menyisakan punggungnya yang terlihat.
Lagi pula, Zainab kala itu masih sangat muda. Selisih umur mereka sepuluh tahun. Kisah kasih justru bermula dari inisiatif kakaknya Rohana Zahara. Suatu hari, sang kakak bertanya kepada adik kesayangannya itu. “Apakah kamu (Zainal) mau menikah sama gadis (Zainab) tersebut?”. Zainal lantas menjawab sekenanya, “Kalau saya mau, belum tentu dia mau.”
Pendidikan dan pandangan maju Zainal ketika itu membuat dirinya memberikan penghargaan tinggi pada perempuan. Baginya menikah bukan urusan sepihak. Bukan keinginan dari pihak laki-laki saja, tetapi semestinya merupakan kesepakatan antara dua pihak: pria dan wanita.
Zainal lantas menentukan cara bagaimana memastikan apakah Zainab bersedia atau tidak menjadi istrinya. la menawarkan bertemu di masjid. Esok harinya, sang kakak mengajak Zainab ke mesjid. Tepat di belakang masjid ada makam.
“Kalau Kamu mau, kita bareng. Akan pasang naik bersama, turun bersama. Berat sama dipikul, ringan sama di jinjing,” ujar Zainal berikrar yang lantas diaminkan Zainab.
Zainal tumbuh dan berkembang bersama dengan bahan bacaan sastra yang ia santap. Dia tumbuh bersamaan dengan angkatan Balai Pustaka lantas berlanjut dengan angkatan Pujangga Baru. Dia membaca buku karya HAMKA, Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, dan lainnya.”
Sebagai pembaca buku sastra, Zainal tumbuh menjadi pribadi yang mudah tersentuh atas penderitaan orang lain. Hal ini juga terpengaruh pengalaman masa kecilnya yang penuh penderitaan. Kehalusan rasa itu menumbuhkan penghargaan pada pribadi lain, seperti halnya ia memberi penghargaan pada kekasihnya Zainab yang lantas menjadi istrinya.
Begitulah, perjalanan panjang kehidupan pasangan Zainal-Zainab dalam membangun keluarga. Pasang naik dan turun, jatuh bangun. Zainab sesungguhnya adalah anak kampung. la tumbuh tanpa ayah. Ibunya berjualan cabe, sayuran, dan daun pisang untuk menyambung hidup. Sampai ketika hendak menikah Zainal bertanya, di mana ayahnya; Zainab tidak tahu berada di mana ayahnya.
Zainal dan Zainab menikah di Baserah pada 18 Agustus 1948. Kala itu Ia berusia 26 tahun sementara sang kekasih masih 16 tahun. Lalu ia membawa istrinya ke Rengat. Lima bulan selepas menikah tepat 5 Januari 1949, tentara Belanda membombardir Rengat dengan pesawat pengebom P-51 Mustang.
Hampir 2000 orang meninggal. Operasi Belanda tersebut dinamai “Operasi Lumpur” (Operatie Modder) yang bertujuan menguasai kembali pertambangan minyak yang terletak di utara Rengat dan di Air Molek. Pesawat cocor merah menjatuhkan bom di jalan raya dam tengah pemukiman, juga menembaki warga sipil yang terlihat. Pada sekitar pukul 11.00, sesudah pesawat cocor merah menghilang, sekitar 180 penerjun payung turun di Sekip dekat Rengat.
Selepas menikah, Zainal sempat menelusuri siapa sebenarnya Ayah dari istrinya yang juga mertuanya itu. Dari situ ia tahu ayah istrinya adalah seorang pedagang sapi yag tinggal di Muara Bungo, Jambi.
Kendati pendidikan hanya sampai kelas satu SD, Zainab tidak mau berhenti belajar. Ketika anak-anaknya menginjak SD, ia mau kalah. la meminta suaminya mengajari membaca dan menulis sampai berhasil. Dan, anak-anaknya masih mengingat masa-masa ibu mereka belajar membaca dan menulis.
Dalam pendampingan Zainal yang terpelajar dan juga kakak iparnya, Zainab tumbuh menjadi ibu rumah tangga yang luwes. Menata keluarga, membangun komunikasi yang ramah dan hangat dengan tetangga-tetangga.
“Ibu itu mendidik etiket dan attitude kami. Ibu orangnya bersih. Jam lima sore anak-anak sudah mandi semua. Kemudian duduk menghadap mangkuk baskom gitu. Ibu membagikan nasi, sayur, lauk ke masing-masing mangkuk,” kenang Rionery.
Kedua pasangan suami istri ini membagi tugas sedemikian rupa. Zainal fokus pada pekerjaan memandu arah pendidikan anak-anak. Sementara Zainab mengurus rumah tangga, pendidikan anak, dan juga membangun relasi dengan tetangga dan kerabat.
Untuk PMI
ZAINAL menjadi inisiator berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI) Riau di – Pekanbaru. Aktivitas utamanya adalah pembantu perawat di rumah sakit umum daerah Pekanbaru, kemudian meningkat menjadi perawat selepas mengikuti pendidikan di Medan.
Pada sore hingga malam hari Zainal membuka praktik pengobatan untuk masyarakat kecil. Di sela-sela itulah ia mengembangkan kepalangmerahan yang berujung memberikan layanan pengobatan gratis, sunatan massal, serta layanan transfusi darah.
Rasa cinta yang besar pada kemanusiaan dan kerja kepalangmerahan membuat Zainal menyumbangkan tenaga dan pikirannya secara sukarela. Sebagai anggota PMI bertahun-tahun ia tidak digaji. Belakangan karena ada orang dari Jakarta yang tahu dirinya tidak pernah digaji, barula ia mendapat semacam honor langsung dari Jakarta.
Pada usia renta 97 tahun, Zainal sempat menapak tilas perjalannya sebagai anggota PMI selama dua hari pada 10 s.d 11 Februari 2020. Salah satunya adalah mengunjungi Unit Transfusi Darah kantor PMI Pekanbaru di Jalan Diponegoro.
Hari pertama Zainal mengenakan piama putih bergaris-garis lembut. Sebuah tongkat tidak ketinggalan membantunya saat harus berjalan. Hari kedua Zainal mengenakan baju gamis warna ungu. Lengkap dengan peci hitam dan syal merah bergaris-garis hitam melintang.
Wajah Zainal terlihat cerah. Meskipun tidak terucap, bahasa tubuhnya mengisyaratkan kebanggaan bahwa dia pernah ikut andil merintis dan mengembangkan PMI Riau yang kantornya ada di depannya itu. la sempat berfoto di depan kantor PMI dengan beberapa gaya gembira.
Pagi hari ketika Zainal mengunjungi kantor PMI yang berada di jalan yang lengang tersebut terlihat beberapa karyawan PMI. Ada yang baru datang, ada yang sudah berada di teras kantor.
Seorang karyawan sempat menyapa dan bertanya kepentingan Zainal. Sesudah mendapatkan penjelasan bahwa Zainal sekedar ingin bernostalgia dan mengambil gambar, karyawan memberi kebebasan.
Tidak ada satu pun karyawan yang mengenal Zainal. Juga ketika namanya disebut dan dikenalkan sebagai perintis PMI Riau, para karyawan PMI terlihat tidak terlalu antusias. Usia mereka barangkali sekitar 30-an seusia dengan cucu-cucunya.
Sejarah mungkin akan cepat terlupakan, terlebih ketika tidak ada yang menceritakan dan mencatatnya. Itulah hukum alam. Ucapan Bung Karno “Jas Merah” hanya terucap dimulut, tapi sulit realisasikan.
Mantri Orang Miskin
ADA satu waktu tempat praktik Zainal berdekatan dengan tempat praktik seorang dokter. Dokter tersebut bernama dokter Bahtiar. Suatu kali Zainal dipanggil dan ditemui oleh dokter tersebut.
“Zainal sini! Mengapa pasien di tempatmu banyak? Apa sebenarnya obat yang kamu berikan?” tanya dokter Bahtiar.
Bahtiar sadar pasien yang datang ke tempat prakteknya tidak sebanyak pasien yang dating ke tempat praktik Zainal. Ibaratnya, tempatnya masuk pasien satu, Zainal sudah tiga pasien.
“Saya ikannya kecil-kecil. Bapak satu orang pasien uangnya banyak,” ujarnya penuh senyuman.
Zainal mencoba menanggapi dengan rendah hati. Menurutnya, pasien yang datang ketempatnya tergolong “ikan kecil” dari kalangan menengah ke bawah, atau miskin. Sementara pasien dokter Baktiar tidak banyak, tetapi dari kalangan menengah ke atas atau orang kaya yang berduit.
Terkadang Zainal membebaskan pasiennya yang tidak punya uang membayar obat. Zainal meracik sendiri obat-obat tersebut. Anak-anak akan membantu menggerus lantas mencampur ke dalam sirop vitamin, itu bila obat disiapkan untuk anak-anak.
Perbandingan obat berdasar pengetahuan Zainal yang didapat dari belajar, terutama dari Ahmad, ayah angkatnya yang juga mantri senior pada masanya.
Cerita ini Zainal dapat membuat pasien sakit menjadi sembuh beredar ke mana-mana. Tempat praktiknya yang buka pukul 15.00 s.d 21 WIB selalu penuh. Banyak pasien yang cocok dengan racikan obat yang diberikannya
Anak Panti
ZAINAL juga dikenal sebagai “mantri sunat”. Ia menguasai teknik sunat ketika masih bergabung di PMI Riau. Ia punya kedekatan khusus dengn anak-anak Panti Asuhan Muhammadiyah Pekanbaru.
Zainal memegang peranan utama yaitu sebagai mantri sunat. Puluhan bahkan mungkin ratusan anak-anak panti asuhan sudah disunatnya gratis. Bila ada anak panti sakit, ia datang menolong di panti maupun di kliniknya.
Tak ayal bagi sebagian besar anak panti, Zainal hadir sebagai seorang ayah. Dan, dia mengakui anak-anak panti itu adalah anak angkatnya juga. Beberapa dari mereka dibantu dalam hal pendidikan, bahkan sampai masa kuliah.
Pelajaran Berharga
Zainal meninggal pada 24 Agustus 2021 diusia 99 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman keluarga di Jalan Sakuntala, Tangkerang Pekanbaru. Sementara istrinya, Zainab telah mendahuluinya pada 18 April 2013 di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dan dimakamkan di pemakaman keluarga yang sama.
Dari sosok Zainal, kita belajar arti sebuah kejujuran, keikhlasan, dan kerja keras. Dia membesarkan anak-anaknya dengan rezeki halal yang menjadi pondasi keberkahan keluarga. Dari usaha dan perjuangannya, lahir anak-anak yang tumbuh dengan dedikasi serta semangat menapaki jalan hidup masing-masing.
Dari rezeki halal yang diperjuangkan, terlihat jelas keberhasilan anak-anaknya meniti jalan hidup dengan penuh dedikasi: Anak pertamanya dr. Hj. Tri Genies Florida, lahir di Rengat, 9 Agustus 1954 dengan jabatan terakhir sebelum pensiun tahun 2014 sebagai Kepala Ruangan Rawat Inap VIP RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Kemudian anak kedua, Neng Indra Genis, lahir di Rengat, 23 Juni 1956 wafat Februari 2012.
Anak ketiga Prof. Dr. Ir. Delianis Pringgenies, M.Sc, lahir di Medan, 7 Oktober 1958. Guru Besar aktif dan anggota Dewan Profesor Senat Akademik Universitas Diponegoro, Semarang. Delianis telah mengembangkan hasil riset dalam berbagai produk kesehatan, termasuk kosmetik, suplemen, antiseptik, dan cokelat gonad landak laut, yang beberapa di antaranya telah dipatenkan.
Penelitian Delianis juga mencakup inovasi seperti pewarna batik dari limbah mangrove dan probiotik untuk pengomposan, akuakultur, budidaya tanaman, dan penghilang bau. Beliau dikenal luas atas dedikasinya dalam memajukan solusi kesehatan berkelanjutan dari sumber daya laut (Link profile; https://scholar.undip.ac.id/en/persons/ delianis-pringgenies).
Anak keempat Dra. Rionery Renggenies, SKM, M.Kes, lahir di Rengat, 2 Agustus 1960. Jabatan terakhir sebelum pensiun tahun 2018: Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru. Anak kelima, Landa Trinaldo, A.Pi., M.Si, lahir di Pekanbaru, 25 September 1964 jabatan terakhir sebelum pensiun 2022: Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Perikanan Provinsi Riau. Sibungsu Dale Devinaldo, lahir 12 Desember 1966, berprofesi sebagai wiraswasta.
Warisan Abadi
Sebelum ajal menjemputnya Bapak selalu berpesan, “Kalau Bapak tidak ada, kalian jangan berkelahi. Harus akur, saling merangkul, dan saling menyayangi,” ujar anak keempatnya Dra. Rionery Renggenies, SKM., M.Kes sembari menyebut pesan itu menjadi warisan abadi, penuntun agar persaudaraan tetap terjaga.
Sementara itu kata Nery sapaan akrabnya, Ibunya adalah sumber energi dan cahaya dalam rumah. Ketulusan dan kelembutannya merawat keluarga menjadi kekuatan yang menghidupkan jiwa. “Kehilangan Ibu terasa seperti kehilangan separuh kehidupan. Sebab kasih seorang Ibu tidak tergantikan. Senyum, sabar, kata-kata menenangkan, dan doa-doa tulusnya selalu melekat di hati anak-anaknya,” tambah Nery.
Menurut Nery kendati Ayah dan Ibu telah tiada, figur mereka tetap hidup di dalam hati. Ajaran dan teladan yang diwariskan akan selalu menjadi panutan, tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi cucu-cucu mereka. Nilai-nilai itu menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sejati lahir dari kesederhanaan, kebersamaan, dan cinta tanpa syarat. Dengan mengenang Ayah dan Ibu, keluarga akan selalu punya arah, semangat, dan kekuatan untuk melangkah. Amin.
Selamat jalan pahlawan – engkau telah menerangi hati kami.
Penulis: Sahabat Jang Itam 18-09-2025







