Ayah…
Senja surya mengulas hidup
Kini rentan termakan usia
Kuhanya bisa mengenang
Segala yang Ayah perbuat
Wujud dan citaku
tak tercapai
karena renta
termakan usia Ayah
Hilang angan dan harapanku
ingin marah
tapi….
bagaimana dengan takdir
Yang bertentangan dengan keinginanku
Sengaja saya kutif puisi “Ayah” karya: Natasya Farhatunnisa untuk mengggambarkan “pemberontkan” Indra Gunawan yang akrab disapa Nawan kepada ayahnya Jamaludddin.
Nawan sempat menyesali dirinya sendiri. Ketika ayahnya menyuruh sekolah tinggi-tinggi, dia malahan pergi menjauh. Tapi sesal itu telah jadi bubur dan tak berguna lagi. Itulah yang disebut sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada berguna.
Nawan adalah anak keempat dari sembilan bersaudara pasangan Jamaluddin dan Syamsidar. Kini sepulang merantau dari Malaysia, Nawan memilih menetap di kampung istrinya Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi. Riau.
Banyak orang bilang Nawan adalah fotocopy dari ayahnya. Gaya bicara, postur tubuh, dan rambut ikal bergelombang sang ayah turun kepada salah satu anak kesayangannya itu. Ayah dan anak itu ibarat pinang di belah dua. Mirip….
Pepatah buah itu jatuh tak jauh dari batangnya, betul-betul cocok menggambarkan sosok ayah dan anaknya itu. Kemiripan mereka menjadi cerita sendiri di tengah masyarakat Sentajo.
“Rindu dengan Pak Jamal, pandanglah wajah anaknya Nawan.” Kata-kata itu sering terucap di tengah masyarakat Sentajo yang mengenal sosok Pak Guru Jamal dan anaknya Nawan dari dekat.
“Lalu siapa sosok Jamaluddin?”
Jamaluddin adalah pendidik (guru) dari Desa Pulau Kopung Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau. Orang tuanya pasangan Durani dan Kodai punya tujuh orang anak: Tima, Oha, Sigab, Radin, Ma’rup, Raman, Jamaluddin, Umar Kijok, Agus Salim alias Agui Kuang.
Jamaluddin yang lahir pada 31 Desember 1930 merupakan satu-satunya yang memilih profesi sebagai guru di tengah keluarganya. Sementara yang lain memilih menjadi petani dan merantau ke negara jiran Malaysia.
Dari pernikahannya dengan Syamsidar, Jamaluddin dikurniai sembilan orang anak yakni: Syamsiwan, Dermawanis, Helmiswan, Indra Wani, Indra Wati, Indra Gunawan, Yulasmi, Hendri, dan Asmayanti. Namun, tak seorang pun yang mengikuti jejak orang tuanya sebagai guru.
“Entah kenapa di antara kami tak ada yang berminat jadi guru,” ujar Nawan yang kini menjadi mencoba menjadi petani di kampung halamannya Sentajo sepulang dari Malaysia.
Lika Liku
PERJALANAN Jamaluddin sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” panjang dan berliku. Setamat SR di Sentajo, Jamaluddin melanjutkan pendidikan ke SGB Taluk Kuantan. Lalu diangkat jadi guru di SD Pekanheran, Indragiri Hulu pada tahun 1950-an.
Kemudian “balik kampung” ke Sentajo pada awal 1960. Di kampung halamannya Jamaluddun mulai menjadi guru hingga Kepala Sekolah di SD Negeri 3 Sentajo sejak 1981 s.d. 1987. Ia menggantikan seniornya Oemar dari Kopah yang pensiun pada 1981.
Jamaluddin mengajar bersama guru lainnya seperti M. Idris, Talamas Zainuddin, Rasulin, Umi Kalsum, dan Risman. Sejak diangkat jadi guru sampai meninggalkan profesinya itu, dia selalu mengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika.
Murid-muridnya mengenang Jamaluddin seorang guru yang tidak membosankan. “Di tangan Pak Jamal pelajaran Matematika itu terasa enjoy, mudah, dan mengasikkan,” ujar Marisman mantan muridnya yang kini bermukim di Kuang, Malaysia.
Ketika pemerintah membuka Transmigrasi di Sentajo awal 1980-an, Jamaluddin termasuk salah seorang guru yang “ditarik” untuk menalangi kekurangan guru di transmigrasi yang baru buka. Dia diamanahkan sebagai Kepala SD Negeri Desa Langsat Hulu (1987 s.d. 1989).
Bersama Jamaluddin ada beberapa guru yang “ditarik” mengajar di transmigrasi Sentajo. Yakni Abdul Muis dari Kampung Baru Sentajo, Marjohan pindahan dari Pekanbaru jadi Kepala Sekolah SMP 2 Sentajo.
Kemudian ada Baisar Sain guru pindahan asal Kampung Baru Sentajo yang menjadi Kepala Sekolah 3 Sentajo. Kemudian ada Eldi Yusmi dan Erdiswan alumni Universitas Riau, Pekanbaru asal Muaro Sentajo yang mengajar di SMP 2 Sentajo.
Jamaluddin dkk. boleh disebut guru yang merintis dan mengajar di daerah transmigrasi Sentajo. Setelah itu baru menyusul guru-guru lainnya dari berbagai daerah di Riau dan sekitarnya.
“Dulu banyak guru yang enggan mengajar di Transmigrasi Sentajo. Alasannya masih hutan belantara dan binatang buas banyak keliaran. Sekarang daerah yang kini disebut eks. trasmigrasi malah jadi rebutan,” ujar Ketua PGRI Kuantan Singingi, Familus.
Dimata Anak
JAMALUDDIN dipanggil Yang Maha Kuasa pada 20 Januari 2006 pada usia 76 tahun. Dikebumikan di Desa Pulau Kopung Sentajo. Dia memang sudah pergi untuk selama-lamanya, namun anak-anaknya masih merekam jejak perjalanan mereka bersama sang ayah tercinta.
Dimata anaknya Nawan, ayahnya adalah sosok yang mengayomi, disiplin, dan selalu terdepan dalam berbagai aktivitas dan kegiatan di tengah masyarakat Pulau Kopung. Ayah yang memberikan contoh dan terbuka. Setiap gerak-gerik Ayah menjadi inspirasi bagi murid termasuk kami anak-anaknya.
Menurut Gunawan, Ayahnya adalah sosok guru yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada murid-murid yang mengalami kesulitan belajar. Ayah sosok guru yang dapat membuat murid-muridnya percaya diri dan termotivasi.
“Ayah adalah guru yang menjadi teladan dalam hal empati dan kesabaran. Loyalitas tanpa batas dan pengabdian Ayah di dunia pendidikan apakah pantas diapresiasi?” tanya Nawan.
Ya…, pantaslah! Siapa bilang tidak. Orang sering bilang hanya ada dua profesi di atas dunia ini yakni guru dan bukan guru. Kalau ada profesi lain lahir di luar itu (guru), profesi itu lahir karena adanya peran guru.
Selamat jalan Pak Guru.
Naskah: Sahabat Jang Itam 19-09-2025







