“PEPATAH“ buah jatuh tak jauh dari pohonnya” sudah sering kita dengar. Pepatah itu jamak dipakai untuk mengacu pada adanya kemiripan sikap, perilaku, dan pola pikir antara orang tua dengan anak-anak atau ponakan mereka.
Pepatah ini mungkin bisa mengambarkan hubungan antara paman dengan ponakannya. Yakni antara Paman (Jamin Hitam) dan Ponakan (Herman) di Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi. Semasa hidup Jamin Hitam dan Herman adalah dukun terkenal dengan kepandaian mengobati orang pada masanya.
Setelah Jamin Hitam meninggal, Herman melanjutkan profesi pamannya sebagai dukun nagori atau dukun kampung. Herman dikenang sebagai dukun dengan spesialiasi “babalian” atau “bebelian.”
Babalian merupakan ritual untuk mengobati orang yang sakit berat, untuk keselamatan ibu-ibu yang sedang hamil beserta kandungannya, dan untuk menolak bala.
Dalam acara “babalian” ini Herman dibantu oleh anak buah yang disebut “bujang bayu” yakni Ajasman atau Ajai Bin Jait dan Firdaus. Ritual ini sekarang sudah menghilang “dimakan” perkembangan zaman.
Ada yang aneh tapi nyata dari ritual “babalian” yang dilakukan Herman. Yakni taik minyak di atas lututnya yang panas itu tidak berapi dan tidak terasa sakit. Taik minyak itulah selain itu mengobati orang sakit juga obat untuk orang mengalami “ketulangan,” dan jenis penyakit lainnya.
Tak semua dukun bisa melaksanakan ritual Babalian ini. Hanya dukun dengan jam terbang tinggi yang bisa melakukannya.
Di Sentajo, dukun yang bisa melukukan ritual babalian di antaranya: Agui Tera, Iyai Tenjeng, Suwir, dan Ino Rasa. Dukun lainnya hanya menjadi Bujang Bayu.
Dan ritual ini biasanya mulai dilakukan pukul 24.00 s d subuh. Dan, selama babalian yang terdengar hanya suara dukun. Sedangkan Bujang Bayu menyiapkan segala keperluan yang diminta dukun.
Merantau
HERMAN pernah merantau ke Indragiri Hilir selama empat tahun. Dua tahun (1978-1980) di Keritang sebagai penoreh karet jelutung dan dua tahun (1980-1982) di Koto Baru sebagai tukang huller padi. Di kedua tempat ini dia bergabung dengan perantau Kuantan Singingi asal Sentajo lainnya seperti Sitam Sareah, Sitam Martini, Dinit Ojogonti, Jukat, dan lainnya.
Namun pada 1982, anak-anak herman “memulangkan” orang tua mereka (Herman) ke kampung halaman. Alasannya terlalu banyak orang sirik dan ingin mencoba “kepandaian” orang tua mereka.
“Sebagai anak tentu kami khawatir akan keselamatan kami anak-anaknya. Kalau Bapak karena punya ilmu santai saja broo…,” ujar Lubisman.
Sejak mengantarkan orang tuanya ke kampung, Lubisman dan abangnya Jasir kembali merantau ke Kota Baru, Indragiri Hilir. Mereka mencoba profesi baru untuk mencari penghidupan yang lebih layak.
“Saya sempat ikut kapal ikan sampai ke Jambi, Bangka Belitung, Pulau Tujuh, Lingga, Karimun, Batam, hingga Tanjungpinang. Saya hapal nama pulau-pulau yang banyak ikannya di Provinsi Riau, Jambi, Kepulauan Riau, dan Bangka Belitung,” tambah Bapak Sagiro, sapaan akrab Lubisman mengenang masa lalunya.
Sementara Herman di kampung tetap menjalankan aktifitasnya sehari-hari. Dia tetap jadi dukun mengobati orang yang minta pertolongannya. Pekerjaan itu baru berhenti ketika dirinya jatuh sakit.
Pada tahun 2005 Herman menurunkan semua ilmu kepada anak-anak dan cucunya. Setelah itu dia berhenti total. Bahkan mencampakkan ilmunya itu.
Turunan
LALU kepada siapa Herman menurunkan ilmunya itu? “Tak elok disebutkan namanya. Cukup diketahui tapi bukan untuk ditulis,” kata Lubisman.
Menurut Lubisman, bapaknya pernah menyuruhnya mempelajari ilmu “ketulangan” atau ilmu mengobati orang yang mengalami ketulangan saat makan. Tapi dasar pelupa dan suka menunda sampai orang tuanya itu meninggal dunia, ilmu itu tak didapatinya.
“Itu salah satu penyesalan saya seumur hidup. Banyak orang minta tolong sama saya jika makan ketulangan. Apadaya saya tolak secara halus. Alasannya sederhana yang punya ilmu itu bapak saya, bukan saya,” ujarnya tersenyum.
Herman memang telah tiada. Dia meninggal dunia pada 2023. Sebelumnya istrinya Sori meninggal pada 2019. Dari pernikahan pasangan ini punya enam orang anak yakni Jasir lahir pada 1964, Lubisman (1967), Samsinar (1970), Gusmardi (1973), Muliadi (1976, dan Indrayati (1980).
Hariman mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama.
Herman meninggalkan nama besar. Dukun legend yang kini masih diingat orang. Selamat jalan Pak Herman.
#Tak Kuantan Singingi hilang di bumi. Esa hilang dua terbilang.
Naskah: sahabat Jang Itam 20-09-2025







