TAK semua veteran bernasib beruntung di hari tuanya. Disebabkan administrasi yang kurang lengkap saat screening (penyaringan) mereka yang tidak menerima tunjangan (pensiunan). Ada juga putus nyambung, putus lagi, nyambung lagi, putus lagi.
Razali – seorang pejuang kemerdekaan RI dari Desa Koto Sentajo, Sentajo Raya, Kuantan Singingi Riau salah satu contohnya. Tunjangan pensiunannya putus-putus nyambung. Menyedihkan memang tapi itu realitasnya.
Padahal mereka sudah berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka korbankan nyawa untuk mempertahankan Indonesia dari cengkraman penjajah.
Kisah Razali
TUJUH tahun sejak “diberhentikan” sebagai TNI berdasarkan SK Komandan Brigade Banteng Sumatra Tengah pada 1 Januari 1950 Razali tidak terima tunjangan. Baru pada 1957 dia “kembali” menerima tunjangan. Dasarnya adalah PP 6/50 No. 10254/PP.6/50/57 tanggal 5 September 1957.
Ini diperkuat dengan dengan SK Kepala Staf TNI-AD No. Skep. 07215/D 4686/U 7- IX/73, tertanggal 3 September 1973. Dalam SK itu disebut masa kerja Razali dihitung delapan tahun (termasuk masa bhakti PCM 1950). Kemudian dalam SK Kesatuan: KI. I. BN. II. RES. V. DIV. X. TER. I disebutkan akan diberikan pensiun terus menerus atas ABRI terhitung Oktober 1968.
Namun dunia itu terasa runtuh bagi Razali. Tiba-tiba keluar SK Kepala Staf TNI-AD No. Skep. 30837/XLV-X/1984 tanggal 13 Oktober 1984 yang mencabut SK pensiunnya. Dasar SK tersebut terbit karena dia tidak lulus screening dari Opstibpus Operasi Purna Yudha II.
“Data pendukung bapak untuk pemberian pensiun kurang lengkap,” ujar Mohammad Akhir – salah seorang anakya memberi alasan.
Barulah kemudian pada 1984 Razali kembali menerima hak tunjangan. Dasar nya adalah Nota Dinas Opstibpus (Dan Satgasgab OPY-II) Nomor ND. 275//OPY-II/XII/1984 tertanggal 22 Desember 1984. Nota dinas yang ditujukan kepada Ketua Team Laksda OPY Riau di Sumatra Bagian Tengah ditandatangani Wadan Satgasgab OPS PY –II Kolonel Laut M.L. Ma’ala.
Bantuan Komandan
RAZALI kembali menerima tunjangan tak lepas dari bantuan Mayor Jendral TNI (Purn) Darmawel Ahmad. “Waktu Bapak bertugas di Kompi II pada YON I di Indragiri di Rengat (1947-1949) Pak Darmuwel Ahmad jadi Komandan Kompi (Danki). Bapak saya Komandan Regu (Danru) nya,” ujar Akhir – sapaan akrabnya.
Waktu bertugas sebagai Danru, Razali terakhir tergabung dalam Kesatuan TNI BN I Res IV DIV IX Ter I B Banteng. Kesatuan ini turut bertempur menghadapi Paratroep Belanda di Rengat dan Air Molek pada 5 Januari 1949.
Sebagai parjurit tempur, Razali merupakan prajurit kesayangan dari Durmawel Ahmad. Sebab, selain berpendidikan, Razali suka menyanyi dalam kesatuan dan juga loyal pada pimpinan. Bila Durmawel dinas ke luar daerah atau tidak berada di tempat tugas, Razali selalu dipercayai untuk menggantikan pelaksanaan tugas-tugasnya.
Ada kisah menarik atasan dan bawahan ini. Suatu ketika Razali pulang dari latihan dengan perut lapar. Dia pun masuk ke kamar sang komandan (Durmawel). Dia melihat makanan enak-enak di atas meja komandannya itu lalu mengambilnya.
Durmawel yang kemudian tahu hal itu tidak marah. Orang lain jangan coba-coba melakukan hal yang sama, mendekat ke ruangannya pun tidak berani. Itulah salah satu kisah menarik yang disampaikan Razali kepada anak dan cucunya kelak di kemudian hari
Dengar dari RRI
DUA tahun bersama (1947-1949), Durmawel kemudian pindah tempat tugas ke Bukittinggi dan seterusnya ke Jakarta. Setelah 34 tahun terpisah pada 1984, Razali mendengar siaran RRI Jakarta. Dalam siaran tersebut dinyatakan bahwa Mayor Jendral TNI Durmawel Ahmad, S.H sedang mengadili seseorang dalam sidang di Pengadilan Militer.
Mendengar hal tersebut timbul tanda tanya pada diri Razali. Apakah ini Durmawel, sang Komandan Kompinya saat di Rengat dan Air Molek dulu. Namun karena pangkatnya terlalu tinggi (Mayor Jendral), timbulah keraguan pada dirinya. Namun dia tetap mencari-cari jalan bagaimana caranya untuk dapat kepastian mengenai berita tersebut.
Tak lama setelah itu, Abbas Chewang yang sudah lama menetap di Jakarta pulang kampung ke Sentajo. Singkat cerita, Abbas bercerita dirinya mengajar mengaji Al-Quran anak Mayor Jendral TNI (Purn) Durmawel Ahmad, S.H di rumahnya di Bogor.
Setelah bercerita panjang lebar tabir yang sempat terputus itu mulai terbuka. Razali memastikan bahwa Durmawel yang diceritakan Abbas adalah benar komandan kompinya ketika bertugas di Rengat dan Air Molek.
Permasalahan yang muncul kemudian adalah bagaimana caranya bisa bertemu dengan Durmawel. Abbas bersedia mengantar Razali ke rumah Durmawel di Bogor. Tapi apa daya jauhnya jarak antara Sentajo dan Bogor membuat Razali tidak berdaya.
Pada waktu itu anak Razali yaitu Akhir sedang melaksanakan pendidikan di PT. Telkom Bandung. Razali minta kepada anaknya agar menemui Durmawel di Bogor bersama Abbas. Pada waktu yang telah disepakati Abbas dan Akhir berangkat dari Jakarta ke Bogor menuju rumah Durmawel Bogor tepatnya Jl. Atletik No. 8. Tanah Sareal Bogor.
Saat bertemu dengan Durmawel, Abbas dan Akhir menyampaikan maksud dan tujuan mereka. Yaitu mohon bantuan terkait surat keterangan dari Durmawel untuk Razali. Intinya mereka minta bahwa Razali adalah benar anak buahnya waktu dinas militer di Indragiri.
Surat tersebut dibutuhkan guna melengkapi data pendukung untuk pencairan pensiun Razali yang dihentikan oleh Opstib Purna Yudha II. Sebab, data yang diminta oleh Opstib Purna Yudha II kurang lengkap.
Waktu pertemuan pertama dengan Durmawel, Akhir menyerahkan foto ayahnya ukuran pasfoto 3 X 4 Cm. Ini untuk meyakinkan Durmawel soal kebenaran informasi tentang orang tuanya itu. Sebelum menulis surat yang diminta, Durmawel meneliti foto Razali.
Cukup lama Durmawel meneliti foto Razali. Maklum wajah sudah tua jauh berbeda dengan wajah waktu muda dulu. Seorang Jendral tidak akan gegabah mengeluarkan surat keterangan untuk seseorang karena akan berefek masalah hukum.
Sambil meneliti foto Razali, Abbas dan Akhir memberi keterangan tambahan yang dapat membantu meyakinkan Durmawel tentang foto Razali tersebut. Akhirnya Durmawel yakin foto tersebut benar Razali anak buahnya dulu di Indragiri. Keyakinan tersebut karena adanya tahi lalat di pipi Razali. Tanda yang tidak lapuk dimakan masa.
Kemudian Durmawel mengambil alat tulis dan menulis surat keterangan yang diminta. Surat itu ditujukan kepada Kaopstibpus Mayor Jendral TNI (Purn) E.Y. Kanter, S.H di Jakarta. Isi surat tersebut intinya agar meninjau kembali surat penolakan permohonan claim a.n Razali Ex Sersan Non NRP.
Dijelaskan Razali adalah benar anggota TNI, Komandan Regu dalam Kompi II Yon I di Indragiri (Rengat) dan dia (Durmawel) adalah Komandan Kompinya kurun waktu 1947 s.d 1949.
Dalam keterangannya Durmawel menyatakan bahwa benar Razali turut bertempur menghadapi Paratroep Belanda di Rengat dan Air Molek pada 5 Januari 1949.
Sambil menulis surat, Durmawel mengatakan, “Kalau ada orang yang tidak percaya dengan tandatangannya silakan melihat tanda tangan pada uang kertas Rp500 tahun 1982.”
“Di situ ada tanda tangan Bapak. Waktu itu Bapak menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia,” ujar Darmawel kepada Akhir. Tak lupa Durmawel menyerahkan satu lembar pos card foto dirinya dan segenggam uang kertas untuk Razali.
Setelah Abbas dan Akhir mengucapkan terima kasih kepada Durmawel, mereka mohon pamit pulang. Dengan hati gembira mereka melangkah menuju jalan raya menunggu oplet untuk menuju terminal Bus Bogor. Abbas kembali ke Jakarta sedangkan Akhir kembali ke Bandung.
Tenui Mayjend Kanter
SELANJUTNYA, muncul tugas baru bagi Akhir yaitu menemui Mayjend TNI (Purn) E.Y. Kanter S.H di Jakarta untuk mengantarkan surat dari Durmawel. Akhir menceritakan hal tersebut kepada pengelola asrama. Syukurnya pengelola asrama bersedia menemani Akhir ke Jakarta menemui Mayjend TNI E.Y. Kanter.
Sesampainya di Jakarta, surat keterangan dari Durmawel diserahkan kepada staf E.Y Kanter dan selanjutnya staf tersebut menyerahkannya kepada E. Y Kanter. Surat tersebut didisposisi E.Y Kanter yang bunyinya: Segera, Kolonel Rono/ Kolonel Maala, harap kasus claim ini dicek kembali alasan-alasan apa penolakan.
Dari Opstibpus (DAN SATGASGAB OPY – II) terbit Nota Dinas No. ND. 275//OPY-II/XII/1984 tertanggal 22 Desember 1984, yang ditujukan kepada Ketua Team Laksda OPY Riau di Sumbagteng, perihal: Pencairan Pensiun /Onderstan a.n Sersan Razali, yang ditandatangani oleh Wadan Satgasgab OPS PY –II Kol. Laut M.L. Maala. Setelah diterima surat dari Opstibpus tersebut, dengan hati yang lega Mohd Akhir dan pengelola asrama kembali ke asramanya di Bandung.
Pulang Kampung
PADA waktu libur pendidikan, Akhir pulang kampung. Dia menyerahkan foto copy surat, satu lembar foto pos card, surat cair-pensiun/onderstan dan segenggam uang kertas dari Durmawel kepada Bapaknya itu.
Waktu menerima barang-barang tersebut, Razali mengatakan “Daripada sebungkal emas kamu serahkan kepada saya, lebih berharga barang ini bagi saya.”
Begitulah ternyata tingginya nilai suatu “pengakuan” dari seorang mantan Komandan Kompi bagi Razali. Selanjutnya Razali dan Akhir berangkat ke Pekanbaru menghadap Opstib Daerah Riau Letkol Ir. Wiryono.
Di Opstib Daerah Riau mereka mendapat jawaban bahwa claim pensiun a.n Razali sudah terlambat/ masa transisi, sehingga tidak dapat lagi dicairkan.
Kalau saja berkas-berkas Razali disertai surat keterangan dari Durmawel waktu Screening (Penyaringan), tentu pensiunan Razali dapat dicairkan. Namun begitulah rezeki yang sudah ditentukan Allah Subhanahu Wata’ala untuk Razali.
Pertemuan Mengharuskan
PADA 1993 Razali ke Bandung berkunjung ke rumah anaknya Akhir yang bekerja di Kantor Pusat PT. Telekomunikasi Indonnesia di Bandung. Dan kesempatan baik digunakan Razali berkunjung ke rumah Durmawel di Bogor yang telah lama dia idam-idamkan.
Pada waktu yang telah disepakati dengan Durmawel, Razali dan Akhir berangkat ke Bogor naik bus. Setelah sampai dan bertemu dengan Durmawel di rumahnya, betapa sukacitanya mereka berdua karena sudah terlalu lama tidak bertemu. Dalam pembicaraan Durmawel Ahmad dan Razali yang penuh keakraban itu. Tofik pembicaraan mereka pada umumnya mengenai masa dinas mereka di Indragiri. Sekali-kali menyinggung masalah yang lain.
Setelah melakukan pembicaraan panjang lebar lepas sudahlah uneg-uneg Razali yang sudah lama dipendamnya itu. Pada sore harinya mereka pamit untuk kembali ke Bandung. Setelah pertemuan itu Razali merasa gembiranya walaupun pencairan pensiunnya ditolak oleh Opstib Purna Yudha II, karena data pendukung kurang lengkap.
Dari Bandung Razali pulang kampung ke Sentajo bersama Akhir. Sang anak pindah tugas ke Kantor Daerah PT Telekomunikasi Riau Daratan di Pekanbaru.
Jadi Petani
DIMASA tuanya Razali banyak beraktivitas di rumah dan aktif beribadah di Masjid Usang Raudhatul Jannah Koto Sentajo. Pada tahun 1997 Razali menunggal di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Jenasahnya kemudian dikebumikan di Koto Sentajo.
Sebelum meninggal kegiatan Razali sehari- hari yaitu bertani, memotong karet, dan mencari ikan. Hobbynya membaca buku-buku, majalah dan Koran tak pernah lepas. Cerita yang sangat disukainya adalah cerita sejarah dan perang.
“Datuk Razali senang sekali bercerita mengenai masalah perang dan perjuangannya. Jika ada yang bertanya, dengan panjang lebar datuk akan menceritakan tentang perjuangannya di Rengat dan Air Molek,” ujar cucunya Amril yang akrab dispa Sandal Jopang.
Itulah Razali. Darinya kita belajar kenyataan itu terkadang tak seindah yang dibayangkan. Kita hanya berkehendak tapi Tuhan berksta lain.
Selamat jalan Pahlawanku…
Biodata
Nama: Sersan TNI (Purn) RAZALI
Tempat/Tgl Lahir: Koto Sentajo/ 1928
Pendidikan:
1. Sekolah Negeri (Kepandaian Istimewa )
2. Sekolah Gubernemen (Kecakapan Bahasa).
Istri: RAHMANIA
Tempat/ Lahir: Koto Sentajo/ 1930
Anak-anak: Elismah lahir 1951), Mohd. Akhir (1953), Bismar (1956), Rukmini (1957), Maizur (1958), Masnur (1960), Warnis (1965), dan Iskandar (1969).
Saudara-saudara: Agoeschan, Nursiah, dan Darmiah.
Penulis: Sahabat Jang Itam: 22-09-2025







