Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

Buslinar Ary (1941-2011): Pemain Sepakbola, Wartawan, dan Politikus dari Kuantan Hilir

badge-check


					 Buslinar Ary pemain Perbesar

Buslinar Ary pemain "Timnas Baserah" dan penerusnya Dedeng Multatuli dan Andi Lala

MASYARAKAT Kuantan Hilir pendukung berat Persatuan Sepakbola Baserah (PSB) era 1960 s.d 1970-an pasti mengenal sosok yang satu ini. Perjalanan hidup pemain sepakbola multi talenta ini banyak dihabiskan di dunia sepakbola, selain dunia jurnalistik (wartawan), dan politik.

Sosok yang dimaksud adalah Buslinar Ary – lahir Desa Kampung Tengah Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, 14 Agustus 1941. Buslinar merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Ayub dan Bulih. Adik kandungnya adalah Alhijar Ayub, Mukhtamar, dan Mashuri.

Pemain Bola

SEBAGAI pemain bola, Buslinar Ary merupakan striker andalan Persatuan Sepakbola Baserah (PSB) era 1960-1970-an. Dia adalah pemain serba bisa yang disegani kawan dan ditakuti lawan ketika berada di tengah lapangan.

Larinya yang kencang serta tendangannya yang akurat mengingatkan orang akan aksi pemain Timnas Portugal Cristiano Ronaldo atau David Beckham dari Inggris. Betul-betul seru. Riuh rendah sorak sorai penonton menyaksikan “mega bintang” PSB itu beraksi di tengah lapangan adalah pemandangan itu sangat menyesakkan dada.

“Kalau Buslinar sudah membawa bola di tengah penonton akan bersorak. Penonton terpukau melihat gocokan bola Buslinar itu,” kata Rabuanis. Pria yang akrab disapa Manit adalah pendukung fanatik dan mantan pemain PSB yunior era 1980-an yang kini menetap di Kelurahan Kampung Bugis, Tanjungpinang, Kepulauan Riau ini.

Pemain PSB seangkatan Buslinar di antaranya adalah Puteh, Nurdin, Rekan, Salami, dan lainnya. Sedang yuniornya adalah Fendi, Jibo, Muslim, Julius, dan Raja Sofyan.

Adik-adik Buslinar semuanya pesebak bola andalan PSB. Alhijar Ayub posisi gelandang, Mukhtamar Back, dan sibungsu Mashuri sayap kanan.

Setelah pensiun dari pemain sepak bola Buslinar Ary diangkat sebagai coach (pelatih) sekali manager PSB. Dan, dia sangat disiplin dan menjunjung tinggi sportovitas antar pemain saat melatih pemainnya.

“Pak Buslinar suka taktik tiki taka,” ujar Firman Ismail “Kiper Timnas” PSB era 1990-an. Firman yang dikenal dengan nama keren di medsos Iyotoshi Manata menyebut sebagai coah (pelatih) dan manejer di PSB, Buslinar sangat disiplin dan bertanggungjawab terhadap anak asuhnya.

Pada masa Buslinar, setiap Agustus sampena helat pacu jalur di Baserah selalu ada tim luar yang diundang. Misalnya PS. Makhudum dari Padang, PS Unri (Pekanbaru), Isdoli (Lirik), PSPS Pekanbaru. “Pak Buslinar itu supel, pandai bergaul, dan sangat ulung melobi klub-klub dari luar tersebut,” tambah Firman.

Menurut Firman, pada setiap Juli sampai Agustus setiap tahunnya PSB juga mengadakan turnamen Prof. Dr. Mukhtar Lutfi Cup. Turnamen itu untuk menyambut HUT RI di Kecamatan Kuantan Hilir.

Mukhtar Lutfi Cup diikuti di antaranya Remaja Koto (Remaja Koto) dan Tunas Muda Pasar (Tumpas) Telukkuantan (Kuantan Tengah), Tunas Olahraga Pemuda (TOP) Benai dan Persatuan Sepakboa Simandolak (SSI) (Benai), PSB (Kuantan Hilir), Persires (Rengat) Isdoli (Pasir Penyu).

Sekarang, sejak Buslinar tiada sampai kini tak ada lagi even exebisi, maupun turnamen lain di Baserah. Entah kenapa hal itu bisa terjadi. Tepuk dada Tanya selera. Ketika kepentingan politik sudah bicara, dunia politik akan menjadi kenangan.

Diikuti anak

JEJAKNYA sebagi pemain sepakbola diikuti anaknya anaknya dari istri kedua Dedeng Multatuli dan Andi Lala. Dua anaknya Rudi Hartono dan Tri Jaya Putra yang digadang-gadang mengikuti jejak sang ayah meninggal diusia muda.

Waktu kuliah Dedeng pernah ikut dalam team PS Unri, Pekanbaru asuhan coach Margono, Jupri Ujang, dan Wan Amhar. Dedeng bergabung dengan pemain asal Kuantan Singingi lainnya seperti Eva Hendri dari Sawah, Feri (Baserah), Miskardi (Kari), Alfikra (Jake), dan Apriadi (Benai).

Kemudian pemain PS Unri lainnya adalah: dari Pekanbaru ada Philip Hansen, Mulyadi, Trimai, Kurniawan, Irwanto, Ali Akbar Tabano, dan Eli Sukamto. Kemudian Iwan Susandra (Peranap), Supriadi dan Indra Surya dari Kepulauan Riau.

Tiga pemain PS Unri: Indra Surya, Eva Hendri, dan Miskardi pernah jadi pemain andalan PSPS Pekanbaru pada era 1990-an. Kini ketiganya menjadi coach yang berlisensi nasional.

Patah tumbuh hilang berganti. Setelah era Indra Surya dkk. pemain PS Unri masih banyak yang jadi pemain inti di PSPS Pekanbaru dan klub sepakbola lainnya di tanah air.

Alfikra menyebut Dedeng dengan sapaan Sedeng. Orangnya pendiam dan senang bersenda gurau. Tandem yang solid di lini belakang. Sedeng juga pemain serba bisa, striker gacor, back yang kuat dalam pertahanan, dan gelandang yang mematikan.

Dedeng meninggal pada 17 Desember 2017 akibat penyakit jantung. Dia meninggalkan istri: Indrawati dan tiga orang anak: Nur’afni Multi, Dwi Reany Multi, dan Auzan Tri Multi yang kini beranjak remaja.

Kemudian Andi Lala sebagai gelandang andalan PSB yang punya umpan akurat serta tendangannya selalu on target. Andi pernah meciptakan gol lewat tendangan sudut.

Wartawan

BUSLINAR juga dikenang sebagai Wartawan Haluan yang terbit Padang, Sumatra Barat kurun waktu 1980-an. Dia menjadi salah seorang koresponden Haluan di Kabupaten Indragiri Hulu yang bertugas di Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir. Rekan kerjanya adalah Su’di Yusuf di Taluk Kuantan, Kuantan Tengah.

Sebagai wartawan di daerah liputan Buslinar biasanya dimuat di Kolom: “Riau, Jambi, dan Bengkulu.” Dan, dia termasuk wartawan yang produktif menulis, terutama liputan olahraga. Sejak Haluan diambil alih Basrizal Koto keberadaan salah satu koran tertua di Pulau Sumatra itu sudah digantikan oleh Riau Pos, dan koran lokal lainnya terbitan Pekanbaru, Riau.

Politik

BUSLINAR juga aktif di Partai Politik. Dia pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Indragiri Hulu 1997-200 dari Partai Golkar dari Daerah Pemilihan Kecamatan Kuantan Hilir. Ketika Kuantan Singingi terbentuk sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu berdasarkan UU Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Siak, Natuna, Karimun, Kuantan Singingi, dan Kota Batam, dia ikut pindah ke Kuantan Singingi.

Akhirnya pada pertengahan tahun 2000, DPRD Kabupaten Kuantan Singingi berhasil dibentuk dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang. Nama-nama dan asal partai politiknya adalah sebagai berikut: Dari Partai Golkar Sukarmis, Mansyur Furdi, Syariful Anwar, Muslim, Sukamto, Yurnalis, Arifin Jaiz, Buslinar Ary, Siri Sayuti, Fitri Fita, dan Mardianto Lubis.

Kemudian dari PDIP: Fahmi Umar Usman, Said Usman, Halwis Hs, R. Fajar Restu Hadi. Dari PPP: Nurlisman, Syaifullah Afrianto, Lendrizal, Jon Tikal, dan Muhammad Jais. Kemudian dari Fraksi TNI/Polri: Sukamto, RM Abu Bakar, dan Sus Jamingun. Dari PAN: Amir Syukri, Triwan Hadi, dan Mustamsir. Kemdian Parlis dari PKS, Syarif Usman (PBB), Bamba Riyanto (Partai Merdeka), dan Ahmad Sarmidin PKB

Sebagai politikus Buslinar ikut membidani dan membesarkan Partai Golkar di Kabupaten Kuantan Singingi. Dan, hingga kini partai berlambang Pohon Beringin masih eksis kendati pada Pemilu 2024 lalu kalah oleh Partai Gerindra.

Panutan

BUSLINAR punya istri dua orang. Istri pertamanya Nurdiana dan punya dua anak perempuan: Beti Marhenis dan Elda Derita. Sedangkan dari Istri Raja Yulimas, dia punya empat anak lelaki: Rudi Hartono, Dedeng Multatuli, Andi Lala, dan Tri Jaya Putra.

Kepergian Buslinar membawa kenangan sendiri bagi pemain muda yang pernah dibinanya. Alfikra mantan pemain PS Unri era 1990-an menyebut Buslinar adalah sosok yang ramah, ceria, dan mudah bergaul. “Pak Buslinar adalah panutan dan juga bisa sebagai teman,” kenang pemain asal Jake, Kecamatan Kuantan Tengah ini.

Buslinar memang tiada. Sebagai pemain sepakbola andalan pada masanya namanya pantas diabadikan yang berhubungan dengan olahraga. Entah itu sebagai nama GOR, lapangan olahraga, dan lainnya supaya namanya tetap abadi dan dikenang sepanjang masa sebagai tokoh pemuda dan olahraga.

#Esa hilang dua terbilang. Tak Melayu hilang di bumi Kuantan Singingi.

Penulis: Sahabat Jang Itam 23-09-2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing