JADILAH hebat tanpa bantuan
Jadilah sukses tanpa menyusahkan
Berjuanglah sendiri
Jangan tampakan kelemahanmu pada orang lain
Biarkan orang lain meremehkanmu
Tapi jangan remehkan dirimu sendiri
Ketika kamu terjatuh maka berdirilah segera
Jangan menunggu ditolong orang
Karena tak jarang orang menghindar ketika kita tak berdaya
Gagal jangan menangis
Berhasil jangan sombong
Hidup laki-laki tidak dirayakan
Kecuali kematian
Ingatlah!
Kita kerja tanpa gelar sarjana
Harus punya fisik dan mental sekuat baja
Dan tetaplah pada jalur takdir
Karena laki-laki ditakdirkan hidup untuk menghidupi
PESAN itu selalu diingat Syafrizal M. Nur yang akrab dipanggil Ucok dari ayahnya Nurmin. Sang Ayah berkeinginan Ucok sebagai anak lelaki harus bermental baja, jangan cepat menyerah. Jadilah “lekaki” seutuhnya. Dan, pesan itu tak akan pernah dilupakannya sepanjang hidup. Itulah pesan abadi yang selalu memberikan semangat untuk terus berkaya.
Sosok Nurmin
NURMIN adalah tentara “legend” pada masanya. Bersama rekan seperjuanganya seperti Pak Tala, Ramli, Nazaruddin, dan Baharuddin, Nurmin, dikenal masyarakat Kuantan Singingi karena kumis tebalnya yang melintang.
Nurmin dilahirkan Pulau Komang Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau pada 8 Agustus1945. Dia anak bungsu dari dua saudara kandung pasangan Insan Ari dan Boriman. Abang kandungnya adalah Darwis yang akrab disapa Ruwi.
Nurmin menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat Sentajo tamat tahun 1958. Kemudian lanjut ke Sekolah Usaha Tani di Air Molek, Kecamatan Pasir Penyu, Indragiri. Tamat pada 1961. Dari Air Molek, dia banting stir masuk TNI-AD yang menjadi impian dan cita-citanya sedari kecil.
Lalu pendidikan militer dilalui Nurmin di Padang, Sumatra Barat. Usai pendidikan dia ditempatkan di Komando Distrik Militer (Kodim) 0304 atau Kodim 0304/Agam di Bukittinggi pada tahun 1962 – 1975. Dari Bukittinggi dia dipindahkan ke Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti atau Yonif 132/Bima Sakti Bangkinang, Kabupaten Kampar (1975 – 1980).
Kemudian Nurmin pindah ke Komando Rayon Militer (Koramil) yang merupakan satuan teritorial TNI AD di tingkat kecamatan. Yakni di Koramil Taluk Kuantan – Kuantan Tengah (1980-1986), Muara Lembu – Singingi (1986-1988). Lalu pindah ke Kodim 0302 Indragiri Hulu (1988 – 1995).
Pada tahun 1995-1997, Nurmin diangkat menjadi Komandan Rayon Militer (Danramil) Lubuk Jambi – Kuantan Mudik (1995-1997). Lalu mengakhiri pengabadiannya di Kodim 0302 Indragiri Hulu (1997-1998). Pensiun pada 1998 dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu).
Tugas di Timor-timur
NURMIN pernah mendapat penugasan di Timor Timur tahun 1976-1977 dalam Operasi Seroja. Ketika itu dia masih bertugas Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti atau Yonif 132/Bima Sakti Bangkinang, Kampar. Di Timor-Timur, ia bergabung dengan pasukan yang dipimpin Kapten Yunus Yosfiah melawan pasukan Fratelin yang dipimpin oleh Nicolau dos Reis Lobato.
Yunus Yosfiah adalah tokoh militer penting di Indonesia. Dia pernah menjabat Menteri Penerangan RI yang terakhir pada masa Presiden BJ. Habibie. Kemudian pada 10 Agustus 2025, ia diberikan pangkat kehormatan menjadi Jendral (Kehormatan) oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
Seperti kebiasaannya sebelum berangkat ke Timor Timur, Nurmin melakukan ziarah ke makam leluhurnya di Dusun Koto Tuo, Desa Pulau Komang Sentajo. Ada tiga ulama yang dianggap keramat di situ yakni Tengku Kuning, Tengku Aur, dan Tengku Karak.
Ketiga ulama itu penganut Tarekat Nagsyabandiah di Kuantan Singingi ini punya tempat pengajian di Dusun Koto Tuo. Murid-murid mereka tersebar sampai ke Kampar dan Indragiri. Hingga kini mereka masih menziarahi makam ketiga ulama tersebut.
Sebagai penanda ketiga makam tersebut diberi tanda berupa kelambu oleh ahli waris atau keturunanya dari suku Melayu di Sentajo. Tengku Kuning kelambu kuning, Tengku Karak kelambu putih. Sementara Tengku Aur belum ada kelambu.
Pada tahun 1985, Nurmin kembali ke Timor Timur. Kali ini bukan ke medan operasi tapi mewakili keluarganya saat pemakaman Kopda TNI (Purn) Mahmis yang mati ditembak pasukan Fratelin. Taman makam ini khusus bagi TNI yang gugur selama bertugas di Timor Timur kurun waktu 1975 s.d. 1999.
Mahmis merupakan anak dari Ali Spau dan Rahnia asal Desa Pulau Komang Sentajo. Dia punya saudara saudara kandung Ajisman, Rosmaniar, Umi Sria, dan Jamaran. Mahmis adalah satu di antara tentara asal Kuantan Singingi yang gugur di medan perang di Timor Timur.
Nurmin merupakan satu di antara putra asal Kuantan Singingi yang pernah bertugas di Timor Timur kurun waktu 1975 s.d 1999. Yang lain dari Kecamatan Sentajo Raya: Baharuddin, Mahmis, Yoasril, Sudirman, Awaludin, Nurasmi, Sasmito, dan Yunasri.
Dari Kuantan Tengah: Suardi MS, Dasalan, Supriantoni, Des Alwi, Damhuri, Samsi, Awatarianson, Desri, Akbari, Parlis, Sabirin, Nendrial, Aprion, Marlius, Syafrinis, Aguspan, dan Aprius. Hulu Kuantan: Syamsul Rela, Kamar Zaman, Arben, Sai, Aplison, Noprijon, dan Apliadi. Dari Kuantan Hilir: M. Yatim, Alexander, Kamus R, Jonson Uma. Kemudian Edison dari Gunung Toar dan Apriadi dari Benai.
Pulang Kampung
SETELAH pensiun tahun 1998 di Kodim 0302 Indragiri Hulu, Nurmin memilih pulang ke kampung halaman istrinya di Rumbio, Kecamatan Kampar, Kabupaten Kampar, Riau. Dia memilih bekerja sebagai bertani.
Dari pernikahan dengan Syamsiar asal Kampar, Nurmin punya empat orang anak. Yakni Amsiswanto, lahir di Rumbio – Kampar 1966, Misnawati, lahir di Bukittinggi 1970, Syafrizal M. Nur, lahir di Bukittinggi 1973, dan Eka Susi Nuryati lahir di Bukittinggi pada 1975.
Nurmin meninggal di Desa Padang Mutung, Pada 11 Januari 2020. Di makamkan di Rumbio, Kampar, Riau.
Dimata Keluarga
NURMIN di mata anaknya adalah sosok orang tua berwatak keras, berhati baik, disiplin, dan bertanggung jawab. Di sisi lain juga guru bagi anak-anaknya yang mengajarkan ilmu agama.
“Ayah sosok orang tua yang jadi panutan dan contoh bagi kami. Kendati keras tapi ayah berhati mulia,” ujar Ucok.
Sementara di mata Helfian Hamid, Nurmin adalah sosok tentara yang selalu mengayomi yang muda dari dirinya. Dia sosok tentara yang rajin melakukan silaturrahim, memberikan nasehat, dan bercerita tentang masa-masa perjuangannya.
“Waktu bertugas di Kodim 0203 Indragiri Hulu di Rengat, dia tinggal di perumahan Komplek Kodim. Dia selalu ke rumah kami silaturahim walau dari segi umur dia jauh lebih tua. Banyak nasehat dan cerita sejarah sekitar Sentajo diungkapnya,” ujar mantan Kepala Dinas Perternakan Kabupaten Indragiri Hulu dan Ketua Bappeda Kabupaten Kuantan Singingi ini.
Helfian menyebut kenal baik dengan keluarga besar Nurmin. Sayang tidak ada di antara dua anak lelakinya yang mengikuti jejak ayahnya menjadi tentara. Jejaknya hanya diikuti oleh ponakannya Aldestam alias Sial yang kini bertugas sebagai Babinsa di Kelurahan Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau.
Itulah Nurmin. Tentara legend asal Kuantan Singingi pada masanya.
Penulis: Sahabat Jang Itam, 24-09-2025







