Oleh Hang Kafrawi
Tanggal 27 September 2025 akan menjadi momen penting bagi dunia seni komedi di Indonesia. Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan hari itu sebagai Hari Komedi Nasional, sebuah pengakuan atas peran komedi dalam membentuk wajah kebudayaan bangsa. Di Riau, pada tanggal 27 September 2025 ini, pengurus daerah Persatuan Seniman Komedi Indonesia (PaSKI) menyambut momentum ini dengan menggelar pergelaran seni bertajuk “Kenduri Tawa Riau 2025” di Anjung Seni Idrus Tintin, Bandar Serai, Pekanbaru. Nama “kenduri” bukan sekadar pilihan simbolis, tetapi sebuah penegasan bahwa tawa dalam budaya Melayu selalu lahir dari ruang kebersamaan, silaturahmi, dan kegembiraan yang dibagi.
Humor bagi orang Melayu bukan hanya hiburan. Ia adalah cara menjaga kewarasan hidup, menertawakan luka tanpa melupakan keseriusan hidup itu sendiri. Dalam petuah lama, orang Melayu dikenal “berbudi bahasa, berpantun jenaka”, yang menandakan humor hadir sebagai sarana memperhalus teguran, meredakan ketegangan, sekaligus menjaga harmoni sosial. Orang Melayu tidak menyampaikan kritik dengan bentakan, melainkan dengan sindiran halus yang dibungkus dalam kelakar. Inilah keindahan humor Melayu: lembut, tapi menyentuh.
Kenduri Tawa Riau 2025, dalam konteks itu, bukan hanya pergelaran lawak semata. Ia adalah perayaan identitas, sebuah ruang untuk mengingatkan masyarakat bahwa tawa memiliki fungsi sosial dan budaya. Ketika masyarakat dicekam oleh berita-berita duka, tekanan ekonomi, atau konflik sosial, humor menjadi penawar. Dalam kajian budaya, humor sering disebut sebagai “katup penyelamat” (safety valve) dari ketegangan hidup. Dengan tertawa bersama, kita sedang merawat kebersamaan dan mengikis jarak antar individu.
Orang Melayu, sejak lama, sudah membiasakan diri dengan humor dalam bentuk pantun jenaka, teka-teki, hingga cerita rakyat yang berbalut kelucuan. Sosok-sosok seperti Pak Pandir atau Lebai Malang adalah gambaran bagaimana masyarakat Melayu menyampaikan kritik terhadap kebodohan, ketidakadilan, dan nasib buruk melalui kelakar. Dengan cara itu, masyarakat belajar tanpa merasa digurui. Humor bukan sekadar membuat orang tergelak, tetapi menyimpan kearifan kolektif yang membentuk watak bangsa.
Kehadiran PaSKI Riau melalui Kenduri Tawa ini penting karena menegaskan kembali posisi humor sebagai bagian dari kebudayaan. Komedi tidak hanya lahir di televisi atau panggung modern, melainkan berakar dari tradisi Melayu itu sendiri. Dengan mengemasnya dalam bentuk “kenduri”, acara ini meneguhkan bahwa tawa adalah pesta rakyat, pesta kebersamaan, bukan sekadar tontonan satu arah. Dalam kenduri, semua orang diundang: tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat jelata. Semua duduk sama rendah, tertawa sama lebar.
Lebih jauh, Kenduri Tawa Riau 2025 bisa menjadi momentum untuk merekonstruksi humor Melayu agar tetap relevan dengan zaman. Di era digital, humor seringkali kehilangan etika, berubah menjadi ejekan yang kasar atau guyonan yang merendahkan martabat orang lain. Padahal, humor Melayu selalu berpijak pada budi. Maka, melalui pergelaran ini, seniman komedi di Riau diharapkan mampu menunjukkan perbedaan antara kelakar yang mendidik dan kelakar yang melukai. Tawa harus tetap berakar pada nilai-nilai kesantunan.
Kenduri Tawa bukan hanya pesta seni, tetapi juga pesta jiwa. Ia mengingatkan kita bahwa di tengah keseriusan hidup, manusia tetap memerlukan ruang untuk tertawa. Tawa yang lahir bukan dari penghinaan, melainkan dari kebersamaan dan kearifan. Orang Melayu percaya, “hidup ini ibarat sungai; ada pasang ada surut, ada tawa ada tangis.” Dengan humor, kita tidak menolak kenyataan, melainkan belajar menerimanya dengan lebih ringan. Dan di sanalah makna terdalam Kenduri Tawa Riau 2025: menjadikan tawa sebagai warisan budaya yang meneguhkan kemanusiaan. Sukses selalu PaSKI Riau!
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak. Sekarang Hang Kafrawi sedang menempuh pendidikan S3 di UNY dengan mengankat kajian Humor Melayu Riau








