Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

Ajasman (1950-2018): “Bujang Bayu” Ritual “Togak Balian” dari Sentajo Raya

badge-check


					Ajasman Perbesar

Ajasman

“TOGAK BALIAN” atau “babalian” atau “bebelian” merupakan ritual untuk mengobati orang yang sakit berat, untuk keselamatan ibu-ibu yang sedang hamil beserta kandungannya, dan untuk menolak bala. Dalam ritual Togak Balian dukun biasanya dibantu asisten yang lazim disebut “Bujang Bayu.”

Kendati ritual Togak Balian ini sekarang sudah mati “dimakan” perkembangan zaman, namun masih dikenang masyarakat. Peran sekarang digantikan dokter, bidan, dan mantri (perawat).

Salah seorang “Bujang Bayu” yang tunak menjalani profesinya adalah Ajasman yang akrab disapa Ajai. Pria kelahiran Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau 1950 ini merupakan “Bujang Bayu” terkenal pada masanya.

Ajai merupakan “Bujang Bayu” dari dukun legend Togak Balian, Herman. Ajai adalah Bujang Bayu tetap Herman. Bila dia berhalangan baru digantikan oleh Firdaus, Wasalamu, Munsiar, dan lainnya.

Bujang Bayu ini punya peran penting dalam Togal Balian. Dia mempersiapkan segala kebutuhan dukun yang menjalankan ritual Togak Balian. Tanpa Bujang Bayu, ritual ini tak bisa dilaksanakan. Begitulah pentingnya peran seorang “Bujang Bayu”.

Gelora Muda

KENDATI lahir di Koto Sentajo, Ajai lebih banyak bergaul dengan pemuda di desa tetangganya Muaro Sentajo. Bersama Zainal dan kawan-kawan seperjuangan termasuk adiknya adik iparnya Salamu dan Munsir, mereka mendirikan groub randai “Gelora Muda.”

Randai ini cukup ternama dan sering tampil di berbagai Kecamatan di Kuantan Tengah, Benai, Kuantan Mudik, dan Kuantan Hilir kala itu.

Ketika petunjukkan randai di Tanah Genting Muaro akhir tahun 1960-an, Kepala Desa Muaro M. Said menunjuk Ajai dan Zainal sebagai koordinator kegiatan. Tugas mereka adalah mengundang dan menjemput randai yang akan tampil pada malam yang ditentukan panitia. Biasanya Sabtu dan Minggu malam menyesuaikan dengan saat “menimbang” karet.

Biasanya tiga hari sebelum tampil Ajai sudah membawa bendera yang disebut tonggol randai yang akan tampil. Tonggol itu dipasang di lapangan sehari sebelum randai tampil. Tonggol sebagai penunjuk bahwa akan tampil randai pada malamnya.

Selain itu Ajai juga aktif di Persatuan Olahraga Muaro Sentajo (POMAS) yang mendirikan lapangan sepak bola di Tanah Genting. Lapangan ini menjadi lapangan bola terbaik saat ini di Kuantan Singingi.

Ajai merupakan salah seorang pemain POMAS. Pemain lain di antaranya adalah Zainal (Kapten), Sabaruddin, Wasalamu, Munsiar, Hasan Basri, Syahrial. Sedangkan penjaga gawang andalannya adalah Martiuis dan Latief asal Kopah yang tinggal di Muaro Sentajo

Ikut Transmigrasi

KETIKA pemerintah membuka transmigrasi Sentajo dia termasuk penduduk lokal yang bergabung dengan warga transmigrasi asal Pulau Jawa. Dia ditempatkan di Desa Geringging Baru, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Indragiri Hulu.

Setelah Kabupaten Kuantan Singingi mekar tahun 1999, Geringging Baru yang semula masuk dalam kecamatan Benai pada tahun 2012 masuk dalam wilayah Kecamatan Sentajo Raya.

Ajai termasuk warga lokal (Sentajo) yang pertama hijrah ikut menjadi warga transmigrasi. Selain dirinya ada Abdul Muis, Mawardi, Ragap, Juli, Amir Johan, Bahar, Eldiyusmi, Erdiswan, Tacua, Siri, Siman, Kasim, dan Tarmizi. Kemudian ada Ali Jabbar, Mawardi, Jamaran, Birit, Manan, Syakban, Karnalis, Bahar, dan Aldestan.

Saat ini sudah banyak warga lokal dari Kuantan Singingi yang bergabung dengan eks. Transmigrasi Sentajo itu. Umumnya mereka bekerja sebagai penyadap karet dan buruh sawit di Pabrik Kelapa Sawit milik PT Citra Riau Sarana di Desa Muara Langsat, Kecamatan Sentajo Raya.

Sosok Peduli

AJAI nikah dengan Yasmiati anak dari Bahtiar dan Banun. Yasmiati yang akrab di sapa Jati punya saudara Soma, Wasalamu, dan Munsiar. Dari pernikahan itu mereka punya enam orang anak. Yakni Sipuan Armedi lahir 1971, Arlianto (1974), Arpius (1976 ), Yulda Ningsih (1978), Pondri (1980), dan Parlindungan (1981).

Ajai meninggal pada 2018 di RSUD Taluk Kuantan. Di kebumikan di Desa Geringging Baru, Kecamatan Sentajo Raya. Kepergian Ajai meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Geringging Baru pada khususnya dan Sentajo pada umumnya.

Sebab selama hidup Ajai dikenal sebagai sosok peduli dan selalu membantu. Dia juga selalu diminta pendapatnya bagi orang yang minta pertolongannya.

Bagi anaknya Arlianto, ayahnya adalah sosok tak pernah menolak orang yang minta bantuan. Selagi bisa pasti dibantunya. “Sikap saling membantu itulah yang menonjol dari Bapak,” ujar Anto Jangguik sapaan akrabnya.

Sikap suka membantu sesama itu sebenarnya sudah dimiliki Ajai sejak masih muda dan terbawa hingga tua. Itulah yang menjadikan Ajai terasa ada di manapun dia berada.

Sementara di mata Umar Usman, sosok Ajai adalah orang tua sekaligus tokoh masyarakat yang disegani di Desa Geringging Baru. Disaat ada masyarakat yang sakit beliau mau datang dan mengobati dengan sukarela. Dan disaat muncul masalah di lingkungan desa beliau juga juru runding yang dituakan.

“Semoga arwah beliau diberikan tempat yang layak di sisi-Nya,” ujar Umar Usman.

Naskah: Sahabat Jang Itam: 25-09-2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing