Menu

Mode Gelap
Zikir Listrik Prakiraan Cuaca Kepri Ahad 24 Mei 2026: Batam hingga Natuna Berpotensi Diguyur Hujan Kepala Desa Ulu Maras Apresiasi Program Padat Karya Bandara Letung, 430 Warga Terlibat Dukung Pemulihan Ekonomi, UPBU Letung Libatkan Ratusan Warga dalam Padat Karya Tangan yang Dulu Merangkulku Walikota Batam ‘Dikerubungi’ Wartawan Nasional di Tanah Suci Makkah

Minda

Kesetiaan

badge-check


					Ilustrasi olahan (net) Perbesar

Ilustrasi olahan (net)

JIKA kesetiaan itu bernama marwah, maka ia bukan barang dagangan yang boleh tawar-menawar. Ia tidak lapuk dek hujan, tidak lekang dek panas. Sekali setia, setialah ia sampai ke hujung nyawa, Wak.

Kesetiaan tidak pandai memilih jalan mudah. Dia tidak bertanya apa untungnya, apa ruginya. Yang dia tahu cuma satu: kebersamaan. Kalau susah, sama susah. Kalau senang, jangan lupa daratan.

Dalam hikayat Melayu lama, kita diajar makna setia melalui kisah Hang Tuah dan Hang Jebat. Dua sahabat seperguruan, bersumpah setia sejak kecil, mandi sungai yang sama, makan nasi dari periuk yang serupa.

Hang Jebat setia pada sahabatnya. Ketika Hang Tuah dizalimi, Jebat bangkit. Raja dilawan bukan kerana gila kuasa, tapi kerana rasa persaudaraan. Kesetiaannya tinggi, Wak. Setinggi sampai nyawa jadi taruhan.

Hang Tuah pula setia pada rajanya. Walau dirinya dizalimi, titah tetap dijunjung. Bahkan ketika terpaksa menghunus keris ke dada sahabatnya sendiri, perintah tetap dilaksana. Inipun setia, tapi setia yang membuat hati terasa perit.

Akhirnya, kebenaran terbuka. Raja mengaku zalim. Di sinilah kita belajar, kesetiaan yang tinggi bukan hanya diuji oleh kematian, tapi juga oleh kebenaran. Kadang setia itu menampar tuannya sendiri.

Hari ini, Wak, kesetiaan orang jangan dinilai dari manis mulutnya. Tengoklah kepentingannya. Di situlah ukuran sebenarnya. Bila kepentingan berubah, setia pun ikut bertukar baju.

Yang sering merusakkan kesetiaan bukan musuh jauh-jauh, tapi nafsu dekat-dekat. Di atas kepentingan inilah syaitan berjoget serampang 12, mengipas telinga, menjadi batu api hati, sampai kawan jadi lawan, saudara jadi orang asing.

Yang paling ngetren di kampung kami, Wak, kesetiaan hilang kerana kuasa. Waktu berjawatan, semua nampak mesra. Bila jawatan melayang, salam pun tinggal angin lalu. Alamak, pedih juga rasanya.

Kerana kuasa pula, jangankan kawan lama, adik-beradik sekandung pun boleh tak bersua di pagi raya. Padahal jabatan itu sekejap saja umurnya. Celik mata, tahu-tahu sudah tamat kena penggal.

Lebih lucu dan lebih malang lagi, Wak, ialah kesetiaan selepas tidak berkuasa. Waktu berkuasa dulu, hasilnya entah ke mana. Tapi bila orang lain memerintah, lidahnya pula panjang mengata sana-sini.

Ibaratnya, Wak, sibuk memandang sudut kain samping orang, kain sendiri koyak di belakang tak disadari. Maka ingatlah, kesetiaan sejati itu bukan setia bermusim, tapi setia yang berakar pada marwah dan akal budi.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Zikir Listrik

24 Mei 2026 - 07:32 WIB

Adat Merantau

23 Mei 2026 - 09:26 WIB

Dekatkan Diri dengan Warga Pesisir, Polda Riau Hadirkan Program JALUR di Teluk Leok

22 Mei 2026 - 14:41 WIB

Cap “Cancel Departure” Bongkar Dugaan Haji Nonprosedural, Enam WNI Ditunda Berangkat di Bandara Pekanbaru

22 Mei 2026 - 13:32 WIB

Memanjat Jambat, Menyeberang Sungai dan Jalan Berlumpur, Bupati Afni Antar Seragam ke Pelosok

22 Mei 2026 - 10:06 WIB

Trending di Riau