Menu

Mode Gelap
BMKG Prakirakan Hujan Ringan hingga Petir Guyur Sejumlah Wilayah Kepri pada Selasa 26 Mei 2026 Imigrasi Selatpanjang Perketat Pengawasan Orang Asing di Meranti, Jalur Tikus hingga Overstay Jadi Sorotan Perkuat Keamanan Maritim, Ditpolairud Polda Riau dan Polis Marin Johor Bahru Gelar Rendezvous di Selat Malaka Perkuat Korwas PPNS, Polres Meranti Bahas Implementasi KUHAP 2025 Polsek Kundur dan Media Bentuk Panitia Qurban Bersama Sidak PKS dan Keluarkan Surat Edaran, Bupati Siak: Jangan Permainkan Harga TBS Petani!

Minda

Aladin Melayu

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

WAK, hidup orang Melayu ini kadang penuh cerita dan itu semua menjadi teladan, tapi tak sedikit pula hanya jadi bahan ketawa di warung kopi. Sekali ini saya nak bercerita soal Aladin Melayu sebagai penangkal orientalisme.

Kisah Aladin Melayu ini, kalau diselami betul-betul, bukan sekadar dongeng, tapi sindiran halus buat kita yang kadang lupa diri yang tak mau dicap pemalas dan joluh.

Ceritanya bermula dari jin yang konon punya kuasa besar, siap memberi dengan aturan tiga permintaan. Tapi naasnya, sang tuan Aladin budak Melayu Telukbelitung itu, justru tak mau minta satupun permintaan. Di situlah orang kampung mulai heran, bahkan ada yang panas hati, ada juga mengempas badan, sangking dak geramnya, Wak.

Bagi setengah orang, peluang macam itu ibarat durian runtuh. Belum jatuh pun nghage sudah nunggu di bawah. Tapi Aladin Melayu ini lain, Wak. Dia tahu batas. Dia paham betul, bukan semua yang bisa diminta itu patut diminta.

Di sinilah ajaran adat Melayu mulai nampak. Orang beradat itu bukan diukur dari banyaknya yang dia ambil, tapi dari banyaknya yang dia tahan. Menahan diri itu lebih susah dari meminta.

Sebaliknya, ada pula watak seperti orang lobe, jenis yang cepat nampak peluang, tapi lambat berfikir akibatnya. Dalam kepalanya cuma satu, kalau bisa dapat mudah, buat apa bersusah payah.

Ini lah penyakit yang dari dulu sudah ditegur orang tua-tua kita. Melayu tak diajar jadi pemalas. Tapi kalau terlalu lama berharap pada “jin”, akhirnya jadi lemah.

Kalau adat dan budaya tersemat di hati dan diri berteduh di bawah rindangnya ajaran agama, jin jadi bingung dengan Aladin. Dia sudah siap mengabdi, tapi tak ada yang mahu menyuruh. Ibarat orang siap jadi pembantu, tapi tuannya tak mau jadi tuan.

Dari situ, kita nampak satu hal penting, kuasa tanpa marwah itu kosong. Aladin tak mau jadi “tuan” kalau harus bergantung pada makhluk lain. Dia lebih rela hidup susah, tapi berdiri di kaki sendiri.

Tapi, bila cerita tentang jin ini sampai ke telinga orang kampung, mulailah ramai yang berangan. Ada yang terfikir, “kalau bukan Aladin, biar aku saja yang ambil kesempatan.”

Nah, di sinilah muncul perangai lama, menumpang tuah orang lain. Padahal dalam adat Melayu, menumpang tuah itu bukan salah, tapi kalau sampai hilang marwah, itu sudah jadi aib. Orang beradat tahu mana batas, mana malu.

Sementara Aladin, diam-diam dia mengajar satu perkara besar, marwah itu tak boleh digadai, walau dengan emas segunung. Orang Melayu hidup bukan sekadar untuk senang, tapi untuk terhormat. Dan orang kampung akhirnya sedar, harapan pada jin itu cuma angan-angan. Yang nyata tetap usaha sendiri. Rezeki tak turun dari langit tanpa keringat.

Dari situ juga kita faham, kenapa orang Melayu dulu bisa berdiri tegak. Bukan karena mereka tak punya godaan, tapi karena mereka tahu menolak yang tak patut.

Akhirnya, Wak, cerita ini bukan soal jin atau pelite. Ini soal manusia, soal kita. Mau jadi Aladin yang tahu diri, atau jadi sultan asam urat yang pandai mengaku tapi tak mampu membuktikan.

Kalau hendak tinggi, tinggilah budi. Kalau hendak besar, besarlah jiwa. Sebab dalam adat Melayu, yang paling mulia bukanlah yang banyak meminta, tapi yang paling tahu menjaga marwahnya.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sidak PKS dan Keluarkan Surat Edaran, Bupati Siak: Jangan Permainkan Harga TBS Petani!

25 Mei 2026 - 14:16 WIB

Ruang Asa Project Bersama HIMA Fisioterapi Universitas Awal Bros Hadirkan Kepedulian untuk Lansia Lewat Program “Lansia Sehat”

25 Mei 2026 - 08:10 WIB

Global Sumud Flotilla for Gaza

25 Mei 2026 - 08:06 WIB

Tim FIB UNILAK Laksanakan Pengabdian Masyarakat Usung Randai Kuantan Singingi di SMAN 10 Pekanbaru

24 Mei 2026 - 22:17 WIB

Kurban Masjid Ar-Rahim Gading Marpoyan Ditargetkan 16 Ekor Sapi

24 Mei 2026 - 20:43 WIB

Trending di Kampar