Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Lantaklah!

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DALAM hidup orang Melayu, Wak, tidak semua perang berbunyi dentuman. Ada perang yang sunyinya lebih nyaring daripada bunyi meriam. Namanya “lantaklah.”

Orang kota menyebutnya apatis. Orang psikologi menyebutnya mekanisme pertahanan diri. Tapi orang Melayu cukup menghela napas, membetulkan kain gumbang, menyeruput kopi, lalu berkata pelan: “Lantaklah…”

Yang teruknya, orang yang mendengar “lantaklah” biasanya lebih gelisah daripada yang mengucapkannya. Sebab orang yang hendak bergaduh selalu berharap lawannya melompat, menjerit, memaki atau sekurang-kurangnya membalas status di media sosial. Tetapi orang Melayu malah sibuk menyiram pokok lade, memancing ikan di parit, atau membelai cucu sambil bersiul lagu tu bulan tu bintang.

Yang marah makin merah, pedo hati dia. Yang dilantak tetap tenang. Itulah seni perang yang tidak diajarkan di akademi militer, tetapi diwariskan dari serambi rumah panggung.

Dalam adat Melayu, marwah tidak selalu dijaga dengan menghunus keris. Kadang-kadang cukup dengan tidak melayan orang yang sengaja mencari pasal. Sebab melayan semua orang hanya akan membuat kepala cepat beruban.

Orang tua-tua pernah berpesan, jangan berlawan dengan orang yang hilang malu. Kalau kita ikut menari dalam gelanggangnya, akhirnya kita sama-sama menjadi lukah.

Maka lahirlah senjata bernama “lantaklah.”
Bukan menyerah, bukan takut, Wak. Tetapi memilih tidak mengotori marwah dengan perkara yang tidak berfaedah.

Lebih hebat lagi apabila “lantaklah” sudah bercampur dengan merajuk Melayu. Nah, ini bukan lagi ilmu silat. Ini sudah masuk tingkat mahaguru.

Orang Melayu kalau merajuk tidak memecahkan piring. Tidak pula membakar ban atau membuat sidang pers. Dia hanya diam. Tetap tersenyum. Tetap menyapa. Tetapi pintu hatinya ditutup perlahan-lahan.

Yang menzalimi mula gelisah. “Kenapa dia tak marah?”

“Kenapa dia tak melawan?”

“Kenapa dia diam saja?”

Padahal diam itulah jawabannya. Kerana orang yang kehilangan marwah akan menghukum dirinya sendiri. Rasa bersalah, prasangka, dan keresahan menjadi algojo yang bekerja siang malam tanpa diupah.

Orang Melayu tahu, tidak semua luka harus dibalas. Ada luka yang cukup diserahkan kepada waktu. Ada pula manusia yang tidak perlu dikalahkan, kerana kesombongannya sendiri sudah menjadi hukuman.
Maka apabila terdengar seorang tua berkata, “Lantak mike lah…” atau “Lantak situ lah…”, jangan cepat menyangka dia sudah kalah. Boleh jadi dia baru saja menang.

Menang kerana tidak kehilangan adab.
Menang kerana tidak menjual marwah.
Menang kerana tidak membiarkan orang lain mengendalikan emosinya.

Begitulah adat Melayu mengajar. Keris memang pusaka, tetapi kesabaran lebih tajam daripada mata keris. Lidah boleh membalas, namun diam yang bermarwah sering kali lebih menikam.

Jadi, kalau suatu hari ada orang bersungguh-sungguh hendak mengajak bergaduh, sementara hati sudah tidak lagi ingin melayan, cukup senyum sedikit.
Kemudian ucapkan perlahan, dengan logat yang penuh wibawa:
“Lantaklah…”

Biasanya, selepas itu dia gelisah sampai tak bisa tidur malam, salah hemat besok kita dapat kabar dia sudah stroke

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sekolah Libur Karena Karhutla, MBG Tetap Jalan, Orangtua ke Sekolah Ambil Jatah

26 Agu 2026 - 16:57 WIB

Sekolah Libur Karena Karhutla, MBG Tetap Jalan, Orangtua ke Sekolah Ambil Jatah

Peralihan Operator WK Langgak atas Keputusan MA, Haris Kampay: Itu Terjadi Sebelum Saya jadi Direktur SPR

26 Agu 2026 - 10:17 WIB

Peralihan Operator WK Langgak atas Keputusan MA, Haris Kampay: Itu Terjadi Sebelum Saya jadi Direktur SPR

Jika ISPU Memburuk, Bupati Siak: Sebagian Sekolah PJJ dan ASN Hamil Boleh WFH

26 Agu 2026 - 09:35 WIB

Jika ISPU Memburuk, Bupati Siak: Sebagian Sekolah PJJ dan ASN Hamil Boleh WFH

Kualitas Udara Memburuk Akibat Karhutla, Pemkab Siak Gelar Shalat Istisqa

25 Agu 2026 - 14:22 WIB

Kualitas Udara Memburuk Akibat Karhutla, Pemkab Siak Gelar Shalat Istisqa

Hotspot Riau 447 Titik, Udara Pekanbaru Berbahaya

25 Agu 2026 - 08:40 WIB

Hotspot Riau 447 Titik, Udara Pekanbaru Berbahaya
Trending di Pekanbaru