Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Pemimpin Nyanyuk

badge-check

Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DI kampung kami, Wak, orang tua-tua tak perlu sekolah politik untuk mengenal pemimpin, cukup dengar cakapnya di kedai kopi sambil makan lempeng sagu. Dari situ terlihat, mana pemimpin tua bertuah, mana yang muda berakal, dan mana pula yang belum tua tetapi sudah nyanyuk.

Sebab nyanyuk politik ternyata tak mengenal uban, umur, pangkat, bahkan gelar, yang diserangnya bukan kepala, tetapi ingatan terhadap amanah dan kalau bercakap main longgok saja.

Ada orang sudah tua, rambut memutih, langkah perlahan, tetapi masih ingat nama rakyat, kampung terpencil, jalan rusak dan janji yang pernah diucapkannya.

Ada pula yang masih muda, rambut masih bergaya, media sosial penuh kegiatan, tetapi baru sekejab duduk di kursi sudah lupa siapa yang dulu mengantarnya ke sana.

Sebelum menang, rakyat disebut saudara; setelah menang, rakyat berubah menjadi angka, statistik, dan “akan kita tindaklanjuti.”

Dulu katanya rakyat prioritas, budaya Melayu hendak dimuliakan, orang kecil hendak dibela, setelah berkuasa, jawabannya cuma satu: “Itu ada prosesnya.”

Ditagih janji, katanya kewenangan OPD, jalan berlubang, kewenangan pemerintah lain, harga naik, mekanisme pasar, rakyat protes, dinamika demokrasi. Lengkap lah sudah kamus lupa. Hebatnya, Wak, semua masalah punya istilah, semua persoalan punya alasan, tetapi satu benda yang susah dicari: penyelesaian.

Ada pula pemimpin yang lupa rakyat, tetapi tidak pernah lupa kamera, asal lensa menyala, senyum mengembang, sekop dipegang, cangkul diangkat, komitmen pun bermunculan.

Padahal adat Melayu mengajar, tanjak boleh tinggi di kepala, tetapi budi jangan rendah. Pakaian boleh elok, tetapi perangai mesti lebih elok.

Pemimpin bukan ditinggikan supaya memandang rakyat dari atas, tetapi didahulukan selangkah supaya berani berdiri paling depan ketika rakyat susah.

Maka jangan ukur nyanyuk dari umur, ukur dari apa yang masih diingat setelah kekuasaan berada dalam genggaman. Kalau masih ingat rakyat miskin, petani, nelayan, guru, buruh, hutan, sungai dan kampung yang jauh, berarti ingatannya masih sehat.
Tetapi kalau yang diingat cuma proyek untuk difoto, acara untuk diberitakan, pujian untuk didengar dan kursi untuk dipertahankan, itu bukan lagi sekadar lupa, Wak.

Itu nyanyuk kekuasaan, penyakit ketika seseorang terlalu tinggi duduknya sampai lupa bahwa kursi itu dipinjam dari rakyat, bukan diwariskan oleh nenek moyang.

Maka takutlah menjadi pemimpin nyanyuk sebelum waktunya, sebab rakyat mungkin diam, tetapi ingatan rakyat panjang, tanjak boleh jatuh, jabatan boleh habis, tetapi marwah dan sejarah tak mudah dilupakan.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bukan Hanya Cendera Mata, BRK Syariah Dengarkan Curhat Nasabah di Hari Pelanggan Nasional

4 Sep 2026 - 16:45 WIB

Bukan Hanya Cendera Mata, BRK Syariah Dengarkan Curhat Nasabah di Hari Pelanggan Nasional

15 Tahun Jadi Nasabah BRK Syariah, Tak Menyangka Pulang Membawa Hadiah Emas

4 Sep 2026 - 07:47 WIB

15 Tahun Jadi Nasabah BRK Syariah, Tak Menyangka Pulang Membawa Hadiah Emas

16.700 Warga Binaan di Riau, LAMR Diminta Ikut Menjadi Jalan Pulang

3 Sep 2026 - 15:15 WIB

16.700 Warga Binaan di Riau, LAMR Diminta Ikut Menjadi Jalan Pulang

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

3 Sep 2026 - 10:21 WIB

Bupati Afni Ikut KPPD Lemhannas Angkatan IV, Satu-satunya Kepala Daerah dari Riau

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat

3 Sep 2026 - 09:08 WIB

Program BSP Peduli: Salurkan 20 Ribu Masker untuk Masyarakat
Trending di Pekanbaru