KALAU nak tahu, Wak, pembelot itu lebih hina daripada Malin Kundang. Malin Kundang durhaka kepada emak sendiri, yang sakit hati mungkin hanya emak dan kaum keluarganya. Tapi pembelot, lain pula ceritanya. Yang kena getah bukan setakat emak-bapak, bukan pula sekadar anak-beranak, satu negeri boleh dibuatnya jadi jahaman, susah.
Makanya, orang tua-tua di kampung kami dulu selalu berpesan, jangan jadi pembelot. Sebab pembelot ini kalau mati, konon tak diterima bumi. Bukan karena tanah tak cukup luas, tapi karena tanah pun malu menanggung orang yang tak tahu mengenang budi. Langit pun seolah-olah enggan menaungi. Ini bukan lagi dosa kering, Wak, sudah masuk kategori dosa basah. Terkena ke mana-mana, membasahi orang sekampung.
Sebab dalam adat Melayu, pembelot bukan perkara kecil. Ia bukan sekadar salah langkah, salah cakap atau tersalah duduk di tikar orang. Pembelot itu merusak amanah, memutuskan tali kepercayaan, sekaligus mencampakkan marwah ke dalam lubang jamban.
Dalam khazanah Tunjuk Ajar Melayu karya budayawan (Alm) Tenas Effendy, amanah, kesetiaan dan marwah merupakan sendi penting kehidupan orang Melayu. Orang yang mengkhianati kepercayaan bukan saja mencederai orang yang memberinya amanah, tetapi juga merusak persatuan dan menjatuhkan harga dirinya sendiri.
Orang Melayu punya banyak perumpamaan untuk menggambarkan perangai semacam ini. Ada yang disebut gunting dalam lipatan, musang berbulu ayam, lidah bercabang, muka bertalam. Semuanya menggambarkan orang yang di depan bersalaman, di belakang mengasah pisau.
Kalau di depan berkata, “Hidup mati bersama, Wak!” Tapi di belakang sibuk menghitung berapa harga kawan yang bisa dijual.
Kalau di majelis adat duduk bersila, mengangguk-angguk mendengar petuah, tapi selepas keluar pintu, amanah pula yang digadaikan.
Beginilah kalau manusia sudah kehilangan pegangan. Sumpah dianggap hiasan bibir, janji dianggap angin lalu, sedangkan kepercayaan diperlakukan macam barang dagangan di pasar Pagi Arengka.
Padahal, orang tua-tua kita sudah lama mengingatkan:
Siapa suka membelot kaumnya,
Alamat hidup beroleh nista.
Siapa suka mengkhianati kawan,
Hilanglah marwah sepanjang zaman.
Jangan pula dikira pembelot itu hanya merugikan orang yang dikhianatinya. Tidak, Wak. Dampaknya bisa lebih panjang daripada ekor biawak. Orang kehilangan kepercayaan, lembaga kehilangan wibawa, negeri kehilangan kehormatan. Yang paling celaka dan jahanam dibuatnya, rakyat pula yang menanggung akibatnya, padahal mereka tak pernah diajak bermufakat dalam perkara pengkhianatan itu.
Dalam adat Melayu, orang yang sudah kehilangan kepercayaan ibarat perahu kehilangan kemudi. Terombang-ambing ke sana ke mari. Mau berlabuh tak tahu ke mana, mau berlayar tak tahu arah.
Ada pula petuah yang patut direnungkan:
Ke laut tidak dapat menjala,
Ke darat tidak dapat menoreh.
Ke kanan orang tak percaya,
Ke kiri orang tak menoleh.
Begitulah nasib orang yang sudah kehilangan marwah. Berjalan tegak dipandang serong, duduk bersandar orang menjauh. Kalau bercakap, orang mencari maksud tersembunyi. Kalau tersenyum, orang bertanya-tanya, apa pula yang hendak dijualnya kali ini?
Makanya, bagi orang yang diberi amanah besar, pantang sekali bermain dua kaki. Apalagi mereka yang bersumpah menjaga negeri dan keselamatan bangsa. Jangan sampai mulut mengucapkan setia, tetapi tangan sibuk mengirim rahasia.
Orang Melayu punya petuah:
Pantang Melayu membelot janji,
Pantang Melayu menjual diri.
Amanah orang wajib dijaga,
Marwah kampung jangan dinista.
“Jadi, apa hukuman paling berat bagi pembelot, Wak?”
“Kalau menurut aku, bukan penjara saja. Sebab penjara ada ujungnya, masa hukuman ada akhirnya. Tapi kehilangan kepercayaan orang, itu susah mengobatinya. Duit boleh dicari, pangkat boleh diraih, jabatan boleh diwarisi, tetapi marwah yang sudah pecah, belum tentu dapat disusun kembali.”
“Lah, kalau begitu, masih adakah tempat bagi pembelot untuk bertobat, Wak?”
“Ada. Selagi nyawa dikandung badan, pintu tobat tak pernah dikunci. Tapi bertobat itu bukan sekadar membuat pengakuan, apalagi menyusun alasan. Harus berani mengakui kesalahan, mempertanggungjawabkan perbuatan, dan menerima akibatnya.”
“Kalau begitu, pesan Wak kepada orang-orang yang sedang memegang amanah?”
“Jangan jadi gunting dalam lipatan. Jangan jadi musang berbulu ayam. Jangan pula jadi pagar yang memakan tanaman.”
“Kalau sudah terlanjur?”
“Pulangkan amanah, buka segala yang patut dibuka, dan hadapilah hukum. Jangan pula sibuk mencari kambing hitam untuk menutupi kandang yang sudah kau rusakkan.”
“Hahaha! Betul juga cakap Wak. Rupanya pembelot ini lebih berbahaya daripada biawak dan Malin Kundang.”
“Jauh lebih berbahaya! Biawak kalau mencuri telur, kita tahu lubang mana hendak ditutup. Tapi kalau pembelot mencuri kepercayaan, lubangnya bisa berada di dalam rumah sendiri.”
Itulah, Wak. Dalam adat Melayu, setinggi mana pun pangkat seseorang, sehebat apa pun gelarnya, kalau amanah sudah dikhianati, tak ada gunanya berlagak menjadi orang terhormat. Sebab marwah bukan terletak pada baju kebesaran, bukan pada keris tersisip di pinggang, bukan pula pada kursi empuk yang diduduki. Marwah terletak pada kesetiaan kepada kebenaran.
Jangan sampai ketika hidup dielu-elukan sebagai penjaga negeri, tetapi kelak dikenang sebagai orang yang membuka pintu bagi kehancurannya. Sebab pembelot boleh saja pandai menyembunyikan jejak, tetapi jangan lupa, Wak, sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga ke tanah.
Dan tanah itu, tanah Melayu pula. Tanah yang tahu siapa menanam budi, siapa menabur bakti, dan siapa diam-diam menjual negeri.
Takkan Melayu hilang di bumi, tetapi jangan pula bumi Melayu dipenuhi manusia yang hilang marwahnya!
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.












