Oleh Hang Kafrawi
Dalam dunia yang penuh kepalsuan, seniman seharusnya menjadi satu dari sedikit jiwa yang masih menyuarakan kebenaran. Karya seni bukan sekadar penghibur. Ia bukan alat propaganda. Ia bukan pemoles kenyataan. Seniman adalah saksi zaman, dan kesaksiannya tak akan berarti bila tidak jujur.
Karya seni yang agung bukan dilahirkan dari kemewahan, melainkan dari keberanian mengungkap isi hati. Puisi yang tajam tak lahir dari pencitraan, melainkan dari luka yang benar-benar dirasakan. Musik yang menyentuh tak bersumber dari formula pasar, tapi dari getar batin yang paling murni. Teater yang menggugah bukan karena tata cahaya atau kemewahan panggung, tapi karena tubuh aktor yang membawa kejujuran dalam setiap geraknya.
Zaman kini tak selalu ramah terhadap kejujuran. Banyak seniman dipaksa mengikuti selera pasar, tren digital, atau tuntutan tema proyek yang sempit. Ada yang diminta menjadi “seniman ekologi”, “seniman religi”, “seniman budaya”, seolah seni harus dipasung ke dalam kotak-kotak. Lalu di manakah letak kebebasan berkarya?
Seni tidak bisa diarahkan. Ia harus tumbuh, seperti benih yang disirami kesadaran. Bila seni hanya bergerak ke satu arah karena tekanan luar, karya seni kehilangan ruhnya. Seorang seniman yang jujur mungkin tidak populer, tapi karyanya akan terus hidup. Sebaliknya, seniman yang memoles kenyataan demi pesanan akan terlupakan bersama pamflet yang menampilkannya.
Kejujuran tidak selalu manis. Kadang getir. Kadang menyakitkan, tapi justru di sanalah letak kekuatan seni. Dalam sejarahnya, seniman besar seperti Chairil Anwar, WS Rendra, atau Vincent van Gogh, adalah mereka yang tidak tunduk pada selera zaman, tetapi jujur pada suara batinnya. Mereka membayar mahal atas kejujuran itu dengan penderitaan, pengasingan, bahkan kemiskinan. Namun hari ini kita mengingat mereka bukan karena mereka mengikuti arus, melainkan karena mereka melawan dengan jujur.
Kejujuran adalah nafas. Jika ia berhenti, maka matilah seni. Jangan takut dianggap aneh. Jangan takut tak dimengerti. Jangan takut ditertawakan. Selama kau jujur dalam berkarya, berarti kau masih bernapas sebagai seniman.
Seorang seniman yang merdeka akan memilih jalan sunyi daripada kemewahan semu. Ia tahu bahwa puisi yang lahir dari luka lebih berarti daripada seribu pujian palsu. Ia sadar bahwa satu pertunjukan yang jujur bisa mengubah hati lebih kuat daripada seribu panggung yang megah tapi hampa.
Kejujuran bukan hanya urusan batin, tapi juga keberpihakan. Seorang seniman yang jujur akan berdiri di sisi rakyat yang tertindas. Ia tidak bisa diam melihat tanah dirampas, sawah diganti beton, atau suara rakyat dibungkam atas nama pembangunan. Seniman tak hanya menciptakan keindahan, tapi juga kegelisahan. Ia tidak menjual senyuman palsu, tapi memperdengarkan jeritan yang tak terdengar di layar media.
Seniman seperti ini tahu bahwa seni adalah alat kesaksian tentang kelaparan yang disembunyikan statistik, tentang penggusuran yang dilapisi janji manis, tentang penderitaan yang tak sempat menjadi headline. Ia tahu bahwa suara yang jujur bukan hanya soal estetika, tapi etika; etika untuk menolak ikut diam ketika rakyat dibungkam.
Karya seni yang jujur juga menjadi penting ketika demokrasi mulai kehilangan napasnya. Di negeri-negeri yang mengaku demokratis, kita menyaksikan bagaimana suara rakyat makin tak didengar. Kritik dianggap gangguan. Protes dianggap makar. Perbedaan pendapat dijawab dengan pelabelan. Dalam situasi seperti ini, kekuasaan yang mestinya menjaga ruang demokrasi malah sibuk membangun pagar tinggi untuk mempertahankan tahta.
Ketika parlemen hanya menjadi ruang tukar kepentingan, maka seni harus menjadi ruang yang membangunkan kesadaran. Ketika media diseragamkan, maka puisi harus menjadi jerit alternatif. Ketika rakyat dipaksa pasrah, maka seniman harus menjadi penggugat yang merdeka.
Akhirnya, menjadi seniman bukan soal keterampilan menciptakan bentuk. Ini soal keberanian menyuarakan isi. Bukan siapa yang paling ramai disorot, tapi siapa yang paling dalam menyelam. Hanya dengan kejujuranlah, seniman bisa benar-benar sampai pada makna sejati dari keberadaannya. Nafas seniman adalah kejujuran, tanpa itu, seniman hanya patung yang dipajang dalam pameran kemunafikan.
Jadi, jangan paksakan seniman dengan materi, namun berikanlah mereka ruang yang memang diperuntukan bagi mereka berekspresi. Di Riau sendiri banyak ruang bagi seniman, namun harus membayar untuk menggunakannya, seperti Anjung Seni Idrus Tintin. Mengatasnamakan Pendapatan Asli Daerah seniman seniman harus membayar, bukan dibayar. Mampukah seniman tetap jujur? Entahlah…
Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi dosen Program Studi Sastra Indonesia, FIB Unilak








