RiauKepri.com, PEKANBARU- Penyaluran bantuan pangan beras oleh pemerintah, melalui kerja sama antara Badan Pangan Nasional (Bapanas), Perum Bulog, dan Pemerintah Provinsi Riau, diharapkan mampu menekan angka kemiskinan ekstrem di wilayah Riau. Penyaluran bantuan secara simbolis telah dimulai dari Kota Pekanbaru, Kamis (17/7/2025).
Kepala Perum Bulog Kanwil Riau dan Kepulauan Riau, Ismed Erlando, mengatakan bahwa program bantuan pangan tidak hanya ditujukan untuk meringankan beban ekonomi penerima manfaat, tetapi juga sebagai bagian dari strategi menurunkan kemiskinan ekstrem dan kerawanan pangan.
“Penyaluran bantuan pangan ini bertujuan untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem, kerawanan bahan pangan, kekurangan gizi, serta mengurangi gejolak harga pangan,” ujar Ismed.
Data tahun 2024 mencatat jumlah penerima bantuan pangan di Riau mencapai 316.751 orang. Namun pada tahun 2025, jumlah tersebut mengalami penurunan, yang diindikasikan sebagai hasil dari menurunnya angka kemiskinan ekstrem di beberapa wilayah.
Penyaluran bantuan dimulai dari Kota Pekanbaru, dengan total 52.340 kilogram beras yang disalurkan kepada 2.617 penerima manfaat. Rinciannya, 822 penerima di Kecamatan Pekanbaru Kota, 878 penerima di Kecamatan Lima Puluh, dan 917 penerima di Kecamatan Sukajadi.
Secara keseluruhan, bantuan pangan akan disalurkan kepada 278.250 penerima manfaat di 12 kabupaten/kota se-Provinsi Riau. Setiap penerima akan menerima 10 kilogram beras per bulan selama dua bulan, dengan total bantuan sebanyak 5.565 ton beras.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Provinsi Riau, M. Job Kurniawan, saat melepas tim distribusi di Gudang Bulog Jadirejo Pekanbaru, menegaskan pentingnya ketepatan penyaluran bantuan.
“Penyerahan beras harus lebih baik karena Bulog langsung turun mendistribusikannya. Mari kita kawal bersama agar berjalan lancar dan tepat sasaran, tepat waktu, dan tepat jumlah,” kata Job.
Distribusi bantuan pangan akan dilakukan melalui delapan gudang Bulog yang tersebar di wilayah Riau, dan ditargetkan selesai pada 31 Juli 2025. Pj Sekda Riau juga menegaskan bahwa ukuran keberhasilan program ini bukan dari banyaknya volume beras yang disalurkan, melainkan sejauh mana bantuan tersebut benar-benar sampai dan dinikmati oleh masyarakat penerima. (RK1)









