Menu

Mode Gelap
Siak Masuk Daftar Daerah Terbaik untuk Investasi Versi Fortune Indonesia Prakiraan Cuaca Kepri, Ahad 26 Juli 2026: Mayoritas Wilayah Berawan, Hujan Ringan Berpotensi Terjadi di Sejumlah Daerah Reses di Jemaja Timur, Ismeth Abdullah Tegaskan Aspirasi Masyarakat Akan Diperjuangkan ke Pusat 34 Lansia Sebong Lagoi Diwisuda, Bukti Komitmen Bintan Wujudkan Daerah Ramah Lansia Antusias Warga Sambut KM Bukit Raya, UPP Tarempa Tingkatkan Pengamanan Pelabuhan Pemprov Riau Percepat Implementasi SP2D Online, Pembayaran Gaji ASN Kini Lebih Cepat

Ragam

Ismaidah: Qoriah Nasional Asal Kuantan Singingi: Dari Surau ke Pentas Nasional

badge-check

Ismaidah bersama cucu-cucunya. Perbesar

Ismaidah bersama cucu-cucunya.

KENEGERIAN Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau pernah punya dua qoriah hebat. Keduanya pernah mengharumkan nama Riau di tingkat nasional.

Mereka tercatat dalam sejarah pernah mewakili Provinsi Riau pada ajang Seleksi Tilawatil Quran (STQ) dan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional.

Qoriah yang dimaksud adalah Yusna Ali – qoriah tuna netra dari Pulau Komang Sentajo dan Ismaidah dari Kampung Baru Sentajo.

Yusna pernah mewakili Riau pada MTQ tingkat nasional di Pontianak (Kalimantan Barat) tahun 1970-an. Ia meninggal dunia di RSUD Arifin Ahmad Pekanbaru, Rabu 24 Februari 2024 pukul 08.30 WIB. Alfatihah untuk almarhumah.

Sementara Ismaidah bersama May’ari mewakili Riau pada ajang STQ tingkat Nasional tahun 1978 di Jakarta dan MTQ di Semarang (Jawa Tengah) tahun 1980.

Kemudian pada tahun 1981, Ismaidah utusan Indragiri Hulu bersama Hudar Ahmad (Bengkalis), Nur’aini Toha (Kampar), dan Nurhasanah (Pekanbaru) mewakili Riau pada MTQ Tingkat Nasional di Nanggroe Aceh Darussalam. Pada ajang ini Ismaidah meraih Juara Harapan 3 (Juara 6).

Di Sentajo, jejak kedua Qoriah Nasional Riau ini diikuti oleh H. Supriadi.

Bagaimana kisah Ismaidah?

ISMAIDAH lahir di Kampung Baru pada 18 Oktober 1959. Ia anak kedua dari pasangan Abu Kasim dan Siti Ros. Ia punya tujuh saudara kandung yakni: Eliza, Adek Hendra, Alpido, Deba Sukarsih, Elfarida, dan Ijmal.

Perjalanan Ismaidah sampai ke tingkat nasional tak semuda dibayangkan. Bermula belajar Alquran dari surau ke surau dengan guru yang juga otodidak pula. Namun kerja keras itu tidak pernah mengkhianati hasil.

Kawan seangkatan Ismaidah belajar mengaji quran di antaranya adalah Isa, Rosneli Zabet, Khairanis sekarang masih di Kampung Baru Sentajo. Kemudian Astuti kini tinggal di Malaysia bersama anak dan suaminya Ali Hanafiah. Sedangkan Kasmiawarti dan dirinya kini tinggal di Pekanbaru.

Ismaidah pertamakali belajar mengaji sa’at berumur 6 tahun. Tempatnya di Surau Sungai yang kini bernama Nurul Huda, Koto Sentajo. Gurunya H. Ja’it yang tinggal di Dusun Bukik, Koto Sentajo. “Dengan Niniak Jait kami mengenal huruf-huruf hijaiyah dan sekaligus belajar bacaan salat,” jelasnya.

Ketika belajar mengaji di Surau Sungai kata Ismaidah, mereka hanya pakai lampu strongkeng sebagai alat penerangan karena belum ada listrik waktu itu. Di perjalanan ketika hendak pulang ke rumah mereka hanya menggunakan “palito dendeng” dan “sulua” dari daun kelapa sebagai alat penerangan.

“Senter merupakan barang langka bagi kami. Namun demikian tak mengurangi semangat kami untuk belajar mengaji. Walaupun pulangnya dalam keadaan gelap gulita, semangat tetap menyala,” kenangnya.

Dari Surau Sungai Ismaidah kemudian pindah ke Surau Tembok Kampung Baru Sentajo. Guru mereka adalah Zulpan. “Kami memanggilnya Bang Upan,” ujarnya.

Kemudian dari Surau Tembok pindah lagi ke Surau Bukik. Di surau ini guru kami Dulah. Barulah beberapa tahun kemudian didirikanlah surau dekat rumahnya yang diberi nama “Surau Pulai.”

Dinamakan Surau Pulai karena dekat surau itu ada pohon besar dan rimbun namanya kayu pulai. “Di sini guru kami Abbas Salimu. Kami memanggilnya Bang Abai,” jelas Ismaidah.

Ismaidah mengenang pertama kali dapat juara 1 itu di Surau Parik di Koto Sentajo. Hadiahnya berupa kain sarung dengan sabun mandi merek Bahagia. Bukan main senangnya karena dapat sabun mandi. Waktu itu sabun mandi itu barang langka karena susahnya hidup.

Perjalanan karier?

ISMAIDAH memulai perjalanannya mengikuti perlombaan MTQ antar surau di Kenegerian Sentajo. Biasanya rutin dilaksanakan pada setiap Ramadhan. Untuk berpergian mengikuti MTQ tersebut mereka berjalan kaki dengan jarak tempuh yang lumayan jauh.

“Seringkali kami baru tiba di rumah ketika waktu sahur tiba. Oleh Bang Abai, kami di antar ke rumah masing-masing,” kenang Ismaidah.

Abbas Salimu sapaan akrab Abai adalah guru mengaji di Surau Pulai Kampung Baru Sentajo. Dia pernah menjadi guru Pendidikan Guru Agama (PGA) Sentajo, Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Telukkuantan Filial Tembilahan – kini MAN 1 Kuantan Singingi. Pensiun sebagai guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Ikhlas Sentajo – kini MTs Negeri 2 Kab. Kuantan Singingi.

Selain Abai guru mengaji di Kampung Baru di antaranya adalah H. Ja’it dan Dullah tinggal di Dusun Bukik, Koto ada Zulpan dan Dahik (Kampung Baru), dan Ya’cuf (Muaro).

“Alhamdulillah sejak sa’at itu, saya selalu juara 1 setiap ada MTQ dari surau ke surau. Prestasi itu terus berlanjut. Alhamdulillah dari tahun 1975 saya mulai mewakili Desa Kampung Baru Sentajo ke tingkat Kecamatan Kuantan Tengah. Selanjut ke tingkat Kabupaten Indragiri Hulu, dan Provinsi Riau,” ujarnya.

Pada akhirnya tahun 1978 s.d 1981 Ismaidah mewakili Provinsi Riau ke tingkat nasional pada ajang STQ dan MTQ. Sebuah pengalaman yang sangat berharga.

“Siapa yang mengira anak desa yang belajar mengaji dari surau sampai ke tingkat nasional? Kalau Tuhan berkehendak jadi, ya jadilah,” katanya.

Kendati belajar dari surau prestasi Ismaidah sungguh menggumkan. Suara merdunya bagaikan bulu perindu.

Sebagai qoriah dengan segudang prestasi pada eranya, kini Ismaidah menikmati masa-masa pensiunnya sebagai guru SD. Dia tinggal di Jl. Pembangunan Gg. Rukun No. 4 Pekanbaru, Riau.

Dari pernikahannya dengan Syarifuddin asal Peranap, Indragiri Hulu yang meninggal tahun 2018 lalu, Ismaidah punya tiga orang anak. Yakni Novrezza Isaputra, S.T (Guru SMA Negeri 1 Sentajo Raua), Mayasitthah Ramaningsih, S.T. Telkom (Pegawai ANRI di Jakarta), dan M. Fahrurrozi, S.E (swasta).

Sebagai qoriah Ismaidah adalah sosok yang selalu dekat di hati masyarakat. Dia tidak pernah bosan memberikan pelajaran mengaji bagi anak-anak yang datang ke rumahnya. Dia guru yang layak “digugu, ditiru, dan tidak menggurui.”

Nama besarnya akan tetap dikenang kendati banyak generasi zaman now lupa kiprahnya dan kejayaan pada masa lalu.

Penulis: sahabat Jang Itam

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Presiden Suku Laut Sedunia Meninggal Dunia

23 Juli 2026 - 09:49 WIB

Sulap Limbah Kelapa Jadi Nilai Ekonomis, SDN 002 Seri Kuala Lobam Lahirkan Inovasi BRIKOLA

12 Juli 2026 - 11:10 WIB

Siak Naik Peringkat di MTQ Riau, Bupati Afni Siapkan Pembinaan Berkelanjutan

4 Juli 2026 - 08:54 WIB

Perah! Duit Petani pun Diembat Bupati Suhardiman, KPK: SHU KUD Dipotong Setengahnya

2 Juli 2026 - 10:34 WIB

Berapa Harga Jabatannya, Pak? Suhardiman Langsung Terdiam

1 Juli 2026 - 16:39 WIB

Trending di Kuansing