RiauKepri.com, TRAT – Krisis kemanusiaan membayangi Asia Tenggara saat konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja memasuki hari keempat pada Ahad (27/7/2025). Pertempuran sengit yang terus meluas ke berbagai titik perbatasan telah memaksa lebih dari 130.000 warga mengungsi, sementara lebih dari 30 orang tewas, termasuk warga sipil dan tentara dari kedua negara.
Konflik yang dipicu oleh insiden penembakan tentara Kamboja pada Mei lalu kini berubah menjadi perang perbatasan terbuka, dengan area terbaru pecah di Provinsi Trat, Thailand, dan Provinsi Pursat, Kamboja—lokasi yang sebelumnya relatif tenang namun kini berubah menjadi medan tempur baru sejauh lebih dari 100 kilometer dari titik konflik utama.
“Situasi ini berkembang menjadi krisis regional yang mengancam stabilitas ASEAN,” ungkap analis hubungan internasional dari Universitas Malaya, Dr. Rezza Farhan. Ia menambahkan bahwa keterlibatan diplomatik lebih luas sangat dibutuhkan sebelum konflik ini menjalar lebih jauh.
Upaya untuk meredam ketegangan melalui gencatan senjata masih menghadapi jalan buntu. Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang bertindak sebagai mediator regional, mengakui bahwa kedua negara membutuhkan waktu untuk menarik pasukan mereka. Namun, Thailand menyatakan bahwa Kamboja belum menunjukkan itikad baik.
“Pasukan Kamboja terus melancarkan serangan tanpa pandang bulu ke wilayah kami. Gencatan senjata tidak bisa sepihak,” tegas pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Thailand yang disampaikan melalui platform X.
Thailand mencatat 7 tentara dan 13 warga sipil tewas, sementara Kamboja melaporkan 5 tentara dan 8 warga sipil gugur dalam pertempuran terbaru. Ribuan warga dari desa-desa perbatasan telah meninggalkan rumah mereka, sebagian besar menuju pusat-pusat penampungan darurat yang disiapkan pemerintah dan relawan internasional.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik bilateral ini dapat meluas menjadi ketegangan kawasan, terlebih jika tidak ada kesepakatan damai yang segera tercapai. ASEAN dan PBB didesak untuk segera turun tangan sebelum krisis kemanusiaan berkembang menjadi tragedi lintas negara.
Berikut kronologis konflik antara Kamboja vs Thailand, khususnya terkait sengketa perbatasan dan Candi Preah Vihear:
1. Awal Sengketa (Abad ke-19 – Awal Abad ke-20)
- 1863 – Kamboja menjadi protektorat Prancis. Wilayah perbatasan dengan Siam (sekarang Thailand) belum jelas.
- 1904–1907 – Komisi Prancis-Siam membatasi garis perbatasan. Dalam peta yang dibuat tahun 1907, Candi Preah Vihear dimasukkan ke wilayah Kamboja. Thailand kemudian menandatangani perjanjian tersebut.
2. Sengketa Preah Vihear (1950-an – 1960-an)
- 1954 – Thailand menguasai Candi Preah Vihear setelah pasukan Prancis meninggalkan Indochina.
- 1959 – Kamboja mengajukan gugatan ke Mahkamah Internasional (ICJ).
- 15 Juni 1962 – ICJ memutuskan bahwa Candi Preah Vihear adalah milik Kamboja, dan Thailand harus menarik pasukannya.
3. Memanasnya Hubungan (2008–2011)
- Juli 2008 – UNESCO menetapkan Candi Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia, memicu protes di Thailand.
- Juli 2008 – 2011 – Terjadi bentrokan bersenjata antara militer Thailand dan Kamboja di sekitar candi, menewaskan puluhan prajurit dan warga sipil di kedua sisi perbatasan.
- Februari & April 2011 – Pertempuran besar terjadi di area sekitar Preah Vihear dan Ta Moan, Ta Krabei, dengan penggunaan artileri berat.
4. Putusan ICJ Kedua (2013)
- November 2013 – ICJ menegaskan bahwa wilayah di sekitar Candi Preah Vihear (zona 4,6 km²) adalah milik Kamboja. Thailand diminta menarik semua pasukannya.
5. Kondisi Pasca-Putusan (2014 – Sekarang)
- 2014 – Setelah kudeta militer di Thailand, hubungan diplomatik dengan Kamboja membaik.
- 2015–2023 – Ketegangan mereda, kedua negara fokus pada kerja sama ekonomi dan pariwisata.
- 2024–2025 – Tidak ada laporan konflik bersenjata besar. Kedua pihak membentuk mekanisme patokan batas bersama (JBC – Joint Boundary Commission).
Penyebab Utama Konflik
- Sengketa batas wilayah yang belum sepenuhnya disepakati, terutama di sekitar Preah Vihear.
- Faktor nasionalisme di kedua negara.
- Kepentingan politik domestik, terutama di Thailand saat terjadi gejolak politik dalam negeri. (Red)
Editor: Dana Asmara







