RiauKepri.com, KUANSING- Batang Kuantan tampak tenang. Di tepian Narosa, sejumlah warga berkumpul, mereka tak hanya ingin melihat lokasi Pacu Jalur tapi juga ingin menyaksikan bagaimana pemimpinnya, Gubernur Riau Abdul Wahid, bersebati dengan tradisi yang telah mendarah daging di Kuantan Singingi.
Rabu pagi (31/7/2025) itu, usai meninjau dan memasang plang konservasi yang menandai kawasan itu hanya untuk Pacu Jalur, alih-alih Wahid melakukan sesuatu yang tak terduga. Dia naik ke sebuah jalur kebanggaan masyarakat. Pakaian Dinas Harian (PDH), tak dilepaskan. Beliau menyusuri Batang Kuantan, disemangati seorang bocah berusia 11 tahun yang wajahnya sudah dikenal luas di media sosial, Rayyan Arkan Dikha, si “Aura Farming.”
Sontak, tepian sungai pecah oleh sorak-sorai. Ada haru, ada bangga, ada rasa terhubung. “Ini bukan hanya pemimpin yang datang meresmikan. Ini pemimpin yang tahu rasanya mendayung,” kata Rita, warga Teluk Kuantan yang sejak pagi datang bersama anaknya.
Lebih dari Sekadar Event
Pacu Jalur bukan sekadar lomba perahu panjang tapi warisan, nadi masyarakat di sepanjang aliran Batang Kuantan. Di desa-desa, anak-anak tumbuh dengan mimpi menjadi Togak Luan atau penari pemandu jalur. Kaum ibu menyiapkan bekal, kaum lelaki memahat jalur dari batang kayu pilihan, dengan doa dan harap diselipkan di tiap bilahnya.
Ketika Wahid duduk di atas Jalur Tuah Koghi, bukan sekadar tubuhnya yang menyentuh kayu perahu itu, tapi juga penghormatan pada nilai-nilai budaya yang selama ini dirawat oleh rakyat kecil.
Wahid mendayung seirama dengan Dikha. Anak itu memegang kendali seperti seorang pawang, sesekali melirik ke arah gubernur dan dibalas dengan senyuman, lalu mengimbangi kecepatan jalur dengan kecipak dayung. Di darat, ada tarian tradisional mengiringi dari tepian sungai, menambah magis momen pagi itu.
Tradisi Terjaga, Alam Dilindungi
Langkah Wahid tidak berhenti pada seremoni. Dia memastikan kawasan lintasan Pacu Jalur kini masuk zona konservasi. “Tidak boleh ada kegiatan lain di sini, hanya untuk pacu jalur,” katanya, sebagai bentuk komitmen menjaga ruang hidup tradisi.
Bukan hanya melindungi budaya, tapi juga alam yang menjadi panggung utama tradisi itu sendiri. Sungai yang dulu nyaris tercemar kini perlahan dibersihkan, hutan-hutan yang menyimpan batang kayu untuk jalur kembali dijaga. Di Riau, budaya dan lingkungan adalah satu napas yang tak bisa dipisahkan.
Wahid bahkan sempat melontarkan pantun Melayu, dengan nada penuh keyakinan:
Jalur bukan sembarang janur//Jalur dijalin dengan tali benang//Ini jalur bukan sembarang jalur//Jalur ini sering jadi pemenang.
Pantun itu seperti mantra yang mengikat keakraban hari itu. Sorak-sorai kembali menggema. Warga menyambut Wahid bukan sebagai pejabat, tapi sebagai bagian dari mereka.
Lebih Dekat, Lebih Bermakna
Kehadiran Wahid pagi itu bukanlah pidato di podium atau tanda tangan di atas dokumen. Itu adalah langkah kecil penuh makna, membaur bersama rakyat dan menjadi bagian dari tradisi yang mereka banggakan.
“Dulu penontonnya kebanyakan orang sini. Sekarang dari luar daerah sampai luar negeri datang,” ujarnya.
Pacu Jalur, sambung Wahid, kini milik dunia. Tapi akarnya tetap di sini, di batang sungai yang dijaga, di peluh pendayung, dan di harapan warga akan tradisi yang terus hidup.
Pagi itu, seorang bocah memandu gubernur menyusuri sungai. Tapi sesungguhnya, mereka sedang mengarungi arus sejarah, menuju masa depan Riau yang tak lupa pada indentitas diri sebagai marwah darimana dia berasal. (RK1)







