Menu

Mode Gelap
TJA Minta Maxim Stop Rekrutmen Driver Baru, Tunduk Terhadap Pergub Tarif Atas Bawah MTI Kepri: DPRD dan Dishub Sebaiknya Beri Pemahaman, Bukan Harapan Palsu kepada Driver Online Prakiraan Cuaca Kepri Rabu, 11 Februari 2026: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah Telan Anggaran Rp233,48 Juta, DPRD Meranti Tinjau Pembangunan Duiker Simpang Puskemas Zona Integritas Diresmikan, Imigrasi Selatpanjang Bidik WBK dan WBBM Kades Batu Berapit Apresiasi Wartawan Anambas, Berkah Terima Bantuan Sembako HPN 2026

Ragam

M. Kasi Rapin (1926-2000): Mantan Sekwan yang Anaknya Jadi Ketua Dewan

badge-check


					M. Kasi Rapin Perbesar

M. Kasi Rapin

JUJUR kami menangis mengenang kembali perjalanan bapak kami. Bagi kami anak-anaknya, Bapak adalah pahlawan sesungguhnya yang tak pernah mengenal kata menyerah dalam mendidik kami. Bapak adalah sosok guru yang tidak pernah mengurui.

Tutur katanya lembut dan bersahaja. Cucuran keringat, tetesan air mata, kerja keras, dan nasehat-nasehatnya mampu memacu kami dalam artian positif untuk selalu mempersembahkan yang terbaik dalam mengejar ilmu yang bermanfaat.

Ada satu ungkapan peribahasa Bapak yang selalu kami ingat: “Hidup itu harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Tidak ada seorang pun yang bisa merubah nasib kalian kecuali kalian sendiri. Kejarlah ilmu itu. Raihlah impian kalian melalui pendidikan. Impian jangan ditunggu tapi harus dijemput!”

Kendati Bapak pernah jadi pejabat pada masa pemerintahan Orde Baru, tapi saat pensiun Bapak tidak meninggalkan harta yang melimpah untuk kami anak-anaknya. Hanya gaji pensiun itulah modal Bapak untuk kami anak-anaknya.

Ketika Bapak pensiun, saya baru kelas 3 SD di SD 02 Rengat. Sebagai anak tertua dari lima bersaudara Bapak tiada henti memberikan memotivasi untuk sekolah dan jadi contoh dan teladan untuk adik-adik.

Bapak selalu bercerita. Tengok abang-abang kalian Sudir dan Sukas. Tirulah agar kelak bisa mengikuti jejak mereka! Bila perlu melampaui apa yang telah mereka raih. Tak ada yang tak mungkin di atas dunia ini jika Tuhan sudah berkendak. Yakinlah kerja keras itu tidak pernah menghianati hasil.

Bagi orang lain ucapan Bapak itu mungkin menyakitkan karena membandingkan kami dengan anaknya yang sudah berhasil. Namun bagi kami, ucapan Bapak itu justru menjadi motivasi dan insiprasi karena mampu mendorong kami untuk belajar lebih keras. Pahit memang, tapi ucapan Bapak itu kami anggap obat. Jika ditelan orang sakit dia akan sembuh.

Itulah Bapak. Sangat penyabar, tidak pemarah, motivator, inspirator, dan sahabat bagi kami sekeluarga.

CERITA singkat ini disampaikan Supri Andayani tentang sosok orang tuanya M. Kasi Rafin. Nani sapaan akrabnya adalah anak tertua pasangan M. Kasi dengan istri keduanya Supridah asal Kampung Baru Sentajo. Supridah anak dari pasangan H. Abdullah Yusuf dan Fatimah.

Saat ini Nani bertugas di Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kuantan Singingi. Di keluarga, Nani merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Adiknya adalah Surmaini, Susanti, Supriandi, dan Sulfi Anggraini.

Yang unik adalah semua anak M. Kasi diawali dengan kalimat “Su”. Dari istri pertamanya Samiah, M. Kasi punya lima orang anak yang nama anaknya juga diawali “Su” yakni Sunardi, Sudirman, Sukasmi, Sujasman, dan Sudiarlisti. Sementara dari istri keduanya Supridah ada lima anak yakni Supri Andayani, Surmaini, Susanti, Supriandi, dan Sulfi Anggraini.

“Pernah kami tanya ke Bapak mengapa kesepuluh nama anak dari dua istrinya itu diawali dengan “Su”. Bapak hanya tersenyum.

“Semasa Bapak masih hidup kami tidak tahu apa makna di balik senyuman Bapak itu,” ujar Nani.

Namun setelah Bapak meninggal barulah kami tersadar. Dalam bahasa Sansakerta “Su” memiliki makna sangat mulia. “Su” berarti unggul, lebih, paling, dan terbaik. Sebagai orang tua, M. Kasi berharap semua anaknya menjadi pribadi yang lebih baik, lebih unggul, sesuai namanya.

William Shakespeare pernah mengatakan “What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” Artinya, apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.

Sebaliknya, bagi M. Kasi, nama adalah doa; permohonan. Salah satu asa yang diharapkan orang tua pada anaknya. Bukan hanya sebatas untuk identitas diri, seperti memanggil, ditulis di akte kelahiran, di ijazah, di surat izin mengemudi, di kartu tanda penduduk, registrasi ‘simcard’ dan sebagainya.

M. Kasi berharap dengan pemberian nama “Su” kepada anak-anaknya adalah agar ia dikenal dan untuk memuliakannya. Bukankah para ulama bersepakat akan wajibnya memberi nama kapada anak laki-laki dan perempuan. Karena, jika seseorang tak diberi nama, maka ia akan menjadi seorang yang majhul (tidak dikenal) oleh masyarakat.

Dalam perjalanan hidup kariernya sebagai pegawai M. Kasi pernah diperbantukan sebagai Sekwan di DPRD Indragiri Hulu (1980 s.d 1981), Kepala Bagian Umum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hulu. Sebuah jabatan yang patut perhitungan kala itu.

Namun bagi M. Kasi jabatan itu hanya amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan untuk menjadi kebanggaan.

Sebagai pejabat pada masanya, M. Kasi dikenal sebagai pegawai yang sederhana. Perhatiannya selain dengan pekerjaannya juga tercurah untuk keberlangsungan pendidikan anak-anaknya. Dan, perhatian itu berhasil mengantarkan seluruh anak-anaknya berhasil di bidangnya masing-masing.

Bahkan Sudirman salah seorang anaknya dari istri pertama, Samiah pernah menjadi Ketua DPRD Indragiri Hulu (1999-2002). Tempat di mana dulu dia pernah menjabat sebagai Sekretaris DPRD Indragiri Hulu. Sementara anaknya yang lain Sukasmi pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kuantan Singingi.

Yang membanggakan bagi Susanti salah sorang anak M. Kasi adalah hingga kini interaksi dan hubungan anak, ponakan, cucu, dan cicit terjalin dengan baik. “Alhamdulillah baik-baik saja,” ujar Susanti.

M. Kasi lahir di Sentajo pada 3 Januari 1926 sebagai anak pertama dari lima bersaudara pasangan Rafin dan Zam Zam. Saudara yang lain adalah Ramisah, Rasulin, Adwar dan Lisar. Di Sentajo M. Kasi seangkatan dengan Syamsuddin, Saam, Musahid, Hamid Yus, M. Samin dan Uni Curai.

M. Kasi termasuk anak yang beruntung. Di tengah himpitan ekonomi keluarga, orang tuanya bisa menyekolahkan anaknya mulai dari Sekolah Rakyat (SR) di Sentajo, Sekolah Guru Bawah (SGB) di Telukkuantan hingga Pendidikan Sekolah Guru Atas (SGA) di Tanjungpinang.

Tentu tak mudah menjalani pendidikan kalah itu. M. Kasi melalui pendidikan saat pergolakan. Hanya orang bermental baja bisa menyelesaikan pendidikan dikala itu.

Kemudian tahun 1946 M. Kasi melanjutkan pengabdiannya sebagai PNS. Semula dia mengajar di SR Teluk Kuantan. Pada tahun 1950-an dia pindah tugas ke Rengat. Di kota “Kedondong” inilah dia pernah menjabat sebagai Kepala di SD Negeri 008 Kampung Besar Rengat.

Selanjutnya atas dedikasi dan loyalitas yang tinggi M. Kasi dipindahkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hulu. Di sini dia pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Umum.

SETELAH pensiun dari PNS tahun 1981 di kantor DPRD Kabupaten Indragiri Hulu dengan jabatan terakhir sebagai Sekretaris Dewan, M. Kasi memilih pulang kampung ke Sentajo. Tepatnya di Kampung Baru Sentajo.

Di sinilah petualangan hidupnya kembali dimulai. Sebab, selama menjadi PNS hati M. Kasi tercurah dengan pekerjaan dan keberlanjutan pendidikan anak-anaknya. Dia tak membawa harta selain gaji pensiunan ke kampung. Dengan gaji pensiunan itulah dia membesarkan anak-anak dari istri keduanya yang mulai memasuki usia sekolah.

Alhamdulillah, berkat kesabaran, kerja keras, ketekunan, keikhlasan, dan doa, anak-anaknya sekarang sudah berhasil sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tuhan itu tidak pernah diam.

TEPAT 26 Juli 2000 M. Kasi meninggal dunia di Kampung Baru Sentajo. Sepuluh tahun kemudian tepatnya 2019, istrinya Supridah menyusul. Keduanya di makamkan di Desa Kampung Baru Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya.

“Bapak meninggal dunia saat kami baru lulus test CPNS tahun 2000. Sedangkan adik-adik waktu ada yang duduk di bangku SMP, SMA, dan kuliah,” ujar Nani.

Nani mengingat nasehat Bapaknya sebelum ajal menjemputnya. Dalam keadaan sakit Bapak berpesan. “Nani…! Tolong bantu pendidikan adik-adikmu. Hanya pendidikan yang akan menyelamatkan kalian….”

Alhamdulillah apa yang dipesankan oleh almarhum Bapak bisa terwujud. Atas doa dan kerja keras ibu kami berhasil menyelesaikan pendidikan. Namun bagi kami keberhasilan yang sesungguhnya adalah kami mampu menjalankan amanah dan pesan orang tua kami.

Nani menyebut ayahnya adalah sosok yang penyabar, penyayang, dan tidak pernah sekalipun marah atau bersikap kasar terhadap anak-anaknya. Akhlak dan budi pekertinya begitu sempurna sebagai sosok seorang bapak. Tindakan bapak sesuai dengan apa yang diucapkanya.

Lalu ketika ditanya seandainya disuruh untuk menuliskan satu saja kekurangan Bapaknya, Nani mengatakan kami tidak dapat menemukanya. Perhatian, kasih sayangnya tumpah kepada kami anak-anaknya. Inilah realitas yang kami rasakan,“

Bagi kami, Bapak adalah cinta sejati kami, sang inspirator dan motivator yang ulung dalam mengapai cita-cita. Alfatihah untuk Bapak dan Ibu. Semoga Allah Swt mengampuni semua dosa dan kesalahannya. Dan menempatkan mereka bersama dengan orang-orang yang sholeh. Amin…

Penulis: Sahabat Jang Itam: 1082025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

BRK Syariah Perkuat Peran sebagai Mitra Strategis Daerah, Buka Peluang Pembiayaan Pembangunan Kuansing

9 Januari 2026 - 17:01 WIB

Trending di Bisnis