RiauKepri.com, BINTAN – Pemerintah Kabupaten Bintan mengambil langkah progresif dalam menghadapi ancaman bencana, dengan mendorong setiap desa memiliki fasilitas tanggap darurat seperti mini bomba untuk penanganan awal kebakaran maupun bencana lainnya. Langkah ini diungkapkan langsung oleh Bupati Bintan, Roby Kurniawan, saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) dan Focus Group Discussion (FGD) Kesiapsiagaan Bencana di Ruang Rapat II Bandar Seri Bentan, Selasa (12//2025).
Rakor yang melibatkan pemerintah daerah, BPBD, akademisi, dunia usaha, dan perwakilan masyarakat ini tidak hanya membahas strategi pengurangan risiko bencana, tetapi juga mengusung inovasi penggunaan teknologi untuk mitigasi. “Kunci kesiapsiagaan adalah kolaborasi. Semua pihak harus berperan, tidak hanya saat bencana terjadi, tapi juga pada tahap pencegahan dan peningkatan sarana prasarana,” tegas Roby.
Berdasarkan data BPBD Bintan, tahun 2024 terjadi 266 bencana, sementara hingga Juli 2025 sudah tercatat 151 kejadian. Jenis bencana yang sering terjadi di Bintan antara lain banjir, cuaca ekstrem, gelombang tinggi, abrasi, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan. Kondisi geografis membuat daerah ini rentan, sehingga edukasi kesiapsiagaan bagi masyarakat menjadi prioritas.
Sebagai wujud penguatan kapasitas, BPBD Bintan juga menandatangani kerja sama dengan STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang. Melalui kemitraan ini, akan dilakukan kajian dan penelitian mendalam untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan penanganan bencana yang lebih efektif dan terpadu.
Dengan langkah konkret seperti pengadaan mini bomba dan penguatan riset kebencanaan, Bintan menargetkan lahirnya desa-desa tangguh bencana yang siap melindungi warganya dari risiko yang mengancam kapan saja. (RK9)







