Menu

Mode Gelap
LAMR Siak Ajak Masyarakat Doakan Warisan Budaya Siak pada Sidang Cagar Budaya Nasional Gandeng Big Tech Hingga Festival UMKM, PWI Fest 2026 Siap Digelar di Jakarta Desember Mendatang Audiensi dengan Bupati, KONI Meranti Perkuat Sinergi Hadapi Porprov Riau dan Pembinaan Atlet Di Hadapan Perwira TNI, Bupati Afni: Menjaga Siak, Menjaga Ketahanan Energi Nasional Tiga Cagar Budaya Siak Masuk Seleksi Nasional, Bupati Afni Mohon Dukungan KADIN Riau Jajaki Kolaborasi Porang dan Geronggang di Bengkalis, Buka Peluang Ekonomi Berbasis Agroforestri

Minda

Mentang-mentang Jadi Pejabat

badge-check

Hang Kafrawi Perbesar

Hang Kafrawi

Oleh Hang Kafrawi

Hidup ini tiada yang kekal. Semuanya akan mengalami perubahan. Muda akan bergerak menua, kecil akan bergerak besar, atas akan turun ke bawah. Begitulah hidup akan berubah wajah dengan bergantinya waktu. Maka Atah Roy selalu berpesan kepada pemuda kampung, janganlah sesekali menjadi sombong apabila sesuatu amanah dititipkan kepada mereka. Menjadi Ketua Pemuda, menjadi Ketua RT, menjadi Ketua RW sampai menjadi bupati, gubernur, bahkan presiden sekali pun hanyalah kesementaraan.

“Kalau orang sombong ketike mendapat jabatan, make siap-siaplah menuai perih,” pesan Atah Roy kepada pemuda kampung yang sedang berkumpul di rumahnya.

“Kenape Atah berpesan macam itu kepade kami?” tanya Dullah Kokang kawan Leman Lengkung.

“Mike harus tahu, bahwa kehancuran suatu negeri itu disebabkan manusienye terlalu sombong. Contoh yang paling nyate adalah Firaun. Mike tahu Firaun kan?” tanye Atah Roy.

“Tentulah kami tahu, Tah. Firaun itu adelah contoh yang paling nyate,” jawab Kahar Botak.

“Kami heran, kenape Atah tibe-tibe aje berpesan kepade kami macam tu?” Suib Tawa bertanye.

“Kami kan belum jadi pejabat atau pun pembesar negeri ini, Tah,” jelas Buzar Ojol.

“Sebelum mike jadi pejabat atau menjadi pembesar negeri inilah, aku dapat berpesan. Kalau dah jadi pejabat atau orang besar di negeri ini, pasti mike semue tak dapat dicakap. Salah satu lagi penyebab kahancuran negeri ini adalah pemimpinnye tak dapat dicakap, dan menganggap dirinye yang paling betul,” jelasa Atah Roy.

“Ape sebabnye Atah bersungut macam ni?” Leman Lengkung pula bertanya. “Biasenye, Atah bersungut pasti ade sebabnye,” tambah Leman Lengkung.

“Kadang kale, ade sesuatu hal yang mesti kite sembunyikan kepade orang lain,” ujar Atah Roy.

“Tak bisa macam tu, Tah. Atah sudah mendedahkan kepade kami, dan kami harus tahu,” Pian Cengkung menambahkan.

“Betul tu Tah, kalau dah diucapkan kepade umum, pihak umum juge berhak tahu sebab dan akibatnye, itu yang baru dinamekan keterbukaan,” tambah Kahar Botak.

“Aku bukan mengumpat atau mengata-ngatai orang, tapi ini kenyataan,” ujar Atah Roy.

Pemuda kampung bertambah penasaran, dan mereka saling berpandangan satu dengan yang lainnya.

“Maksud Atah?”

“Siape orangnye, Tah?”

“Jangan membuat kami bertambah penasaran, Tah.”

Pemuda kampung terus bertanye kepada Atah Roy. Atah Roy memandang satu persatu pemuda kampung yang sedang berkumpul di rumahnya.

“Kalau punye jabatan, janganlah lagak ye,” ujar Atah Roy. Pemuda kampung bertambah penasaran.

“Siape orangnye, Tah?” Leman Lengkung serius.

“Safar Limon tu macam kacang lupe dengan kulit,” suara Atah Roy lirih.

“Sektretaris Penghulu tu,” teriak Pian Cengkung.

“Ye betul,” jawab Atah Roy singkat.

“Ngape die, Tah?” Pian Cengkung bertanye.

“Mentang-mentang die menjabat sebagai sekretaris, dengan orang tak ade sopan santun lagi,” ungkap Atah Roy.

“Ape yang dibuatnye, Tah?” Kahar Botak agak geram, karena ada dendam di hati Kahar Botak kepada Safar Limon.

“Ade kan patot di depan orang ramai, die menghina Yusup Tambal sebagai penambal ban motor. Aku tahu betul, sebelum menjadi sekretaris, Safar Limon tu menumpang di rumah Yusup, sampai Safar nikah. Bahkan waktu nikah Safar, Yusup-lah bertungkus-lumus mencari duit dan membantu untuk pesta. Memang tak patot Safar menghina Yusuf tu,” jelas Atah Roy panjang lebar.

“Ooo… macam tu ye, Tah. Aku memang dah lame geram dengan Safar Limon, Tah. Anak aku nak ngurus surat miskin pun dipersulit. Padahal ketike ebah aku jadi Penghulu, semue untuk Safar Limon tu dipermudah. Perlu kite bantai Safar Limon tu, Tah!” Kahar Botak bertambah geram.

“Jangan, ade masenye kite bertindak. Seandainye kalau nasehat kite tak didengo lagi, make kekerasan itu wajib dilaksanekan,” jelas Atah Roy.

Pemuda kampung tak mau peduli dengan nasehat Atah Roy. Mereka berdiri dengan emosi dan dengan langkah pasti menuju ke rumah Safar Limon. Pemuda kampung sudah lama geram dengan tingkah laku Safar Limon, dari bininya suka pamer kemewahan, anaknya juga sama. Kemarahan pemuda kampung sudah menembus ubun-ubun dan langsung bergerak. Atah Roy terganga.

“Aku ni pulak, mentang-mentang Atah Roy,” Atah Roy kesal memberi tahu kepada pemuda kampung. “Mentang-mentang memang selalu hadir di diri kita,” tambah Atah Roy dalam hati.

Hang Kafrawi adalah nama pena Muhammad Kafrawi, dosen Program Studi Sastra Indonesia FIB Unilak.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Tiga Cagar Budaya Siak Masuk Seleksi Nasional, Bupati Afni Mohon Dukungan

29 Juli 2026 - 14:06 WIB

KADIN Riau Jajaki Kolaborasi Porang dan Geronggang di Bengkalis, Buka Peluang Ekonomi Berbasis Agroforestri

29 Juli 2026 - 13:45 WIB

Momen “Buka Lawang” di Balai Adat, Sekda Ersan: Mari Bersama Rawat Warisan Leluhur Demi Bengkalis yang Lebih Berkemajuan

29 Juli 2026 - 13:25 WIB

Di Antara Nisan Para Tokoh, LAMR Bengkalis Meneguhkan Janji Tak Melupakan Sejarah Negeri

28 Juli 2026 - 13:31 WIB

152,3 Km Jalan Kabupaten Siak Ditangani dan Libatkan CSR Perusahaan

28 Juli 2026 - 07:37 WIB

Trending di Riau