RiauKepri.con, PEKANBARU– Di tengah riuhnya hiruk-pikuk pembangunan, ada sesuatu yang tak kasat mata tapi begitu terasa di Provinsi Riau, kehangatan dalam keberagaman. Di Taman Rekreasi Alam Mayang, Ahad pagi yang cerah tak hanya menjadi saksi pelantikan pengurus DPW Generasi Muda Pujakesuma Riau, tetapi juga perayaan atas sesuatu yang lebih besar, persaudaraan lintas suku yang hidup dan tumbuh di bumi Lancang Kuning.
Melayu, Jawa, Minang, Batak, hingga suku-suku lainnya, hidup berdampingan, bukan hanya saling menghormati, tapi juga saling menguatkan. Inilah wajah Riau hari ini, mozaik budaya yang justru menjadi kekuatan dalam membangun masa depan bersama.
Bagi Gubernur Riau, Abdul Wahid, kekompakan lintas etnis ini bukan sekadar simbol, melainkan fondasi yang kokoh bagi kemajuan daerah. “Saya lihat bahwa ini sungguh luar biasa. Kekompakan kita adalah kekuatan kita,” ucapnya, menatap antusiasme ratusan warga yang hadir dari berbagai penjuru provinsi.
Gubernur Wahid menekankan pentingnya peran paguyuban tidak hanya sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga sumber cahaya bagi masyarakat sekitarnya. Ia mengutip petuah Melayu. “Hidup jangan menyusahkan, tapi jadi suluh agar cahaya tak pernah padam,” katanya.
Pesannya jelas, keberadaan paguyuban dan organisasi masyarakat harus memberi manfaat nyata. Bukan hanya menjaga warisan budaya, tapi juga menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat, antara tradisi dan kemajuan.
Di tengah dunia yang makin terpolarisasi, Riau memberi pelajaran berharga, bahwa keberagaman bukan alasan untuk terpecah, melainkan peluang untuk saling mengisi. Dan selama semangat gotong royong itu menyala, cahaya harmoni tak akan pernah padam di tanah ini. (RK1)








