Menu

Mode Gelap
Tegas! Kalapas Selatpanjang Gaungkan Zero Narkoba dan HP di Hadapan Warga Binaan Isu Kenaikan Iuran BPJS Kesehatan Mencuat, Bidik Peserta Menengah Atas PT JFC Stone di Kabil Diduga Ingkari Kewajiban terhadap Pekerja Peringati Hari Kartini, Ruang Asa Project Hadirkan Ruang Kreasi Inklusif bagi Anak-anak Istimewa di Pekanbaru Utusan Presiden Ingatkan Dokter Spesialis Siak: TPP Hanya Tambahan Penghasilan Sidak Urine Mendadak di Lingkungan Kecamatan Bengkalis Dua Orang Positif Amfetamin

Ragam

Yahikam Datuk Penghulu Malin (1901-1971): Pelopor Pendidikan “Modern” di Rantau Kuantan

badge-check


					Sekolah Mualimin yang didirikan Yahikam dkk. di Sentajo, Kuantan Singingi, Riau Perbesar

Sekolah Mualimin yang didirikan Yahikam dkk. di Sentajo, Kuantan Singingi, Riau

DUA ilmu yang paling mahal dalam hidup yaitu tahu diri dan tahu batas.

Dengan tahu diri kita menyadari siapa kita, dari mans kita berasal dan apa tujuan kita.

Sedangkan tahu batas mengajarkan kapan
harus berhenti pergi atau kembali

Dua ilmu menjaga kita dari kesombongan dan mencegah luka hati yang dalam.

Saat kita tahu tempat dan sadar batasan hidup lebih bijak, tenang, dan bermakna.

NASEHAT bijak itu selalu diingat dr. Taswin Yac’ub, S.Ps tokoh masyarakat Riau asal Sentajo, Kuantan Singingi.

Itulah nasehat penuh makna yang disampaikan Tantan (baca datuk) Taswin Ya’cub bernama Yahikam Datuk Penghulu Malin kepada keluarga besarnya semasa hidup. Dan secara sadar masuk ke hati sanubari Taswin Yac’ub yang paling dalam

Sosok Yahikam

BANYAK yang bertanya siapa pelopor pendidikan modern di Kuantan Singingi? Ada beberapa nama, satu di antaranya adalah Yahikam Datuk Penghulu Malin dari Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kuantan Singingi, Riau.

Di Sentajo, Yahikam bersama Mahmud, Mudahi, dkk. meng-inisiasi pendirian Sekolah Desa di Sentajo (1920 – 1935), Mualimin (1935-1949), dan SMP Muhammadiyah (1949-1952).

Di Taluk Kuatan Yahikam bersama kawan seperjuangannya Jamal Lako Sutan, Umar Usman, Umar Abdullah, dan Abdoel Raoef mendirikan Mualimin.

Sahabat Yahikam yang merintis sekolah modern di Kuantan Singingi menjadi orang penting di kemudian hari. Sebut saja Umar Usman: Bupati Militer Indragiri (1949 -1952), Jamal Lako Sutan: Bupati Pesisir Selatan (1957-1960).

Kemudian Abdoel Raoef: Patih Kabupaten Indragiri. Umar Abdullah: Patih Kabupaten Indragiri Hilir dan Ketua DPRD Indragiri Hulu (1972-1977) .

Murid-murid Yahikam juga mewarnai perjalanan panjang bangsa ini. Sebut saja Wakil Gubernur Riau 1999-2003 Rustam S. Abrus dan Djamalan Halimi dari Baserah – Kuantan Hilir, Minsyar Rasyid (Direktur APDN Pekanbaru) dari Teratak Air Hitam, Yacob Ali (Dosen Unri Pekanbaru) dan lainnya.

Yahikam adalah putra daerah kelahiran Sentajo 1901. Gelar Datuk Penghulu Malin yang melekat pada dirinya merupakan gelar adat dari Kenegerian Sentajo. Dia Datuk dari Suku Paliang Ujung Tanjungpinang.

Setelah Yahikam meninggalkan gelar Datuk Penghulu Malin dilanjutkan oleh kemenakan kandungnya Ya’cub. Dan setelah Ya’cub meninggal tahun 1983 diteruskan oleh Arliyusman yang akrab disapa Etot hingga kini.

Dari salah seorang cucu Yahikam, Taswin Ya’cub diperoleh informasi bahwa Yahikam adalah pribadi yang mandiri, haus dengan ilmu, tokoh pendidikan, dan juru runding yang sulit cari tandingannya.

Sedari kecil Yahikam sudah menuntut ilmu ke berbagai tempat di Sumatra Barat.
Dia juga belajar ke banyak guru. Satu di antara gurunya adalah ayah HAMKA, Syekh Abdul Karim Amrullah dikenal sebagai H. Rasul.

Syekh Abdul Karim Amrullah adalah seorang jurnalis dan ulama terkemuka sekaligus reformis Islam di Indonesia. Ia pendiri Perguruan Sumatra Thawalib, sekolah Islam modern pertama di Indonesia yang berdiri di Pandang Panjang.

“Tak banyak yang abang ketahui tentang Tantan Yahikam. Ada baiknya dinda bertanya kepada keluarga Tantan di Muaro Sentajo,” ujar Taswin Yac’ub merendah.

Tantan adalah panggilan dari cucu kandung kepada bapak dari ibu kandungnya sesuai dengan adat yang berlaku di Kenegerian Sentajo. Kalau di bahasa Indonesiakan panggilan itu sama dengan Kakek.

Namun setelah ditelusuri mendalam saudara-mara Yahikam di Muaro Sentajo pun sudah meninggal dunia. Sebut saja Josam, Samsuddin, Karamin, Tassar, Aliwang, Rohani, dan Mawi. Yang hidup hanya cicit-cicitnya seperti Rosmol Hayat, Syafwanis, Hidayat yang merupakan anak dari Talamas alias Isai dan Rohani.

Tak Mau Takluk

MERASA penasaran saya coba menelusuri rekam jejak Yahikam melalui literatur sejarah. Saya tersadar, Yahikam berjuang dengan otak bukan otot. Dia sangat disegani di rantau Kuantan pada masanya.

Yahikam tidak mau tunduk di bawah kekuasaan Datoe Bisei seorang pemimpin lokal di Taluk Kuantan. Sebab, Datoe Bisei memilih setia kepada Ratu Belanda dan mengakui Gubernur Jendral Hindia Belanda melalui perjanjian pada 1905 di Taloek Koeantan.

Yahikam melakukan perlawanan. Tidak dengan senjata tapi melalui meja perundingan dengan Belanda. Ujung dari perlawanan itu adalah Belanda memberikan “Otonomi Khusus” kepada Sentajo juga kepada Benai, Kopah, dan Koto Rajo.

Otonomi itu dikenal dengan Bunga Setangkai. Ibarat pohon Sentajo sebagai batang. Kopah dan Benai jadi dahannya.

Yahikam telah mengangkat harkat dan martabat masyarakat Kuantan Singingi. Hebat….. mungkin banyak yang tidak tau, tapi saya temukan literaturanya.

Yahikam adalah sebuah fenomena yang pantas diangkat ke permukaan. Orang boleh saja tidak tahu dan tidak mengenalnya lagi. Tapi namanya harum sampai ke negeri Belanda. Dalam dokumen Belanda namanya tertulis Dt. Yahikam Orang Gedang Sentajo.

Melalui sahabat dekat saya seorang peneliti dan sejarawan berkebangsaan Belanda, Karel saya mendapat sedikit data tentang Yahikam.

“Yahikam Penghulu adalah orang yang disegani Belanda di Kuantan. Yahikam orang cerdas, hebat, dan disegani karena otaknya encer dan berisi, ” kata Karel.

Karel berani menyebut Yahikam, Jamal Lako Sutan, Umar Usman, dan Umar Abdullah, Abdoel Raoef sebagai
reformis Islam di rantau Kuantan. Setelah itu baru menyusul Radja Roesli, Samad Thaha, Radja Intan Djuddin, M. Yusuf, M. Noer Raoef, M.Yusuf, Mukthar Lutfi, dan lainnya.

Mereka mendirikan sekolah Islam modern pertama Mualimin di Taluk Kuantan, Kuantan Singingi, Riau. Sedangkan Syekh Karim Amrullah mendirikan Sumatra Thawalib di Padang Panjang, Sumstea Barat.

Empat Istri

YAHIKAM punya empat istri yakni Ohalia, Lama, Nurisyam, dan Siti Bidah. Dua istrinya Nurisyam dan Siti Bidah berasal dari Lintau, Sumatra Barat. Dua lagi Ohalia dan Lama dari Sentajo.

Sedangkan anak-anaknya adalah: Dari Ohalia: Ramisah, Siti Nurbaya, Rusman, dan Rifa’i. Dari Lama: Abdul Hamid, Anas, Lukman, Lisniwar, Jasri, dan Syamsiwarti. Kemudian dari Nurisyam: Iyan, Sias, dan lainnya. Dari Siti Bidah: Anwar.

Salah seorang istri Yahikam yakni Nurisyam dikenal sebagai pendidik dan tokoh emansipasi wanita kelahiran Lintau. Dialah partner Yahikam Dkk. dalam memajukan pendidikan di Kuantan Singingi “tempoe doeloe”

Kemudian salah seorang menantu Yahikam yakni Letkol TNI (Purn) Rizaldi Azhar pernah bertugas di Timor Timur. Rizaldi adalah suami Sias anak Yahikam dari istrinya Nurisyam). Setelah pensiun Rizaldi tinggal di Koto Gadang Bukittinggi, Sumatra Barat.

YAHIKAM meninggal 1971 di kediaman anaknya Yusniwar di Jalan Diponegoro. Dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) di Jl. Diponegoro, Pekanbaru. Kemudian ketika pendirian Fakultas Kedokteran Universitas Riau (Unri) di areal TPU tersebut, makamnya dipindahkan ke TPU Tangkerang.

“Waktu Tantan meninggal abang masih duduk di bangku SMA Negeri 1 Pekanbaru. Tantan meninggal sekitar tahun 1971 di rumah Ociak Lisniwar/Abdullah Tasin,” ujar Taswin Ya’cub mengenang.

Tetap Dikenang

HARIMAU mati meninggalkan nana. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama.

Yahikam memang sudah pergi untuk selama – lamanya. Namun namanya tetap dikenang. Dia adalah sosok panutan, ulama, pendidik, cerdik pandai, dan juru runding yang tiada duanya.

Yahikam “sibujang pelala” alias orang yang suka berjalan menutut ilmu dimasa mudanya mengaplikasikan ilmunya di kampung halamannya (Kuantan Singingi).

Selamat jalan Datuk. Kami bangga dengan integritas dan ketokohannmu kendati kami tak pernah bersua denganmu, Datuk. Amin.

Naskah: Sahabat Jang Itam: 27-09-2025

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

LAMR Minta Menteri Kehutanan Batalkan Rencana Relokasi Warga TNTN di Tanah Adat Cerenti

10 Maret 2026 - 19:21 WIB

Pendulang Tradisional Terjaring, Polisi Bongkar Dapur Emas Ilegal di Kuansing

3 Februari 2026 - 11:19 WIB

Jadwal Nisfu Syaban 2026 dan Amalan yang Dianjurkan

1 Februari 2026 - 06:35 WIB

Relokasi Eks Penghuni TNTN di Cerenti Dinilai Lemah Secara Hukum

31 Januari 2026 - 08:16 WIB

Sekolah Rakyat ke-4 Dibangun di Kuansing, Pemprov Riau Perluas Akses Pendidikan Gratis

22 Januari 2026 - 13:43 WIB

Trending di Kuansing