TAK banyak puan (putri) asal Kuantan Singingi yang berjaya atau mentas di tingkat nasional. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari, saking sedikitnya. Satu di antarannya adalah Dr. Nelly Nailatie Ma’arif, M.B.A. Dia pernah menjadi Ketua Umum Pengurus Pusat Wanita Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PP Wanita PERTI) periode 2011-2016.
Puan kelahiran Taluk Kuantan 10 Desember 1947 merupakan anak pertama dari sebelas bersaudara pasangan Buya Ma’rifat Mardjani dan Ummi Fatimah Hadi. Dia seakan “ditasbihkan” mengikuti jejak kedua orang tuanya yang dikenang sebagai pejuang kemerdekaan, politisi, dan tokoh pergerakan pendidikan di Riau.
Nelly menjalani pendidikan dasar hingga menengah atas di Jakarta. Yakni SD Taman Siswa Matraman, SMP Negeri 1 Cikini, dan SMA Negeri 8 Manggarai. Kemudian pendidikan tinggi jenjang strata satu di FE – UNKRIS Jakarta. Kemudian strata dua di Management of Business Administration, Asian Institute of Magement, Manila, Phillipines, dan strata tiga program Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Wanita Perti
NELLY adalah tokoh emasipasi yang kenyang asam garam pergerakan di Pusat. Dia terpilih sebagai Ketua Umum PP Wanita Perti pada 4 Desember 2011. Bnyak yang bertanya-tanya dan meragukan kemampuan manajerialnya.
“Meski baru di organisasi wanita Perti, bukan berarti saya tidak punya pengalaman di organisasi. Sejak muda, saya sudah melalang buana menjadi trainer dan memanajerial perusahaan multi nasional,” katanya memberi jawaban.
Lalu Nelly menambhkan, menjadi Ketua Umum PP Wanita Perti bukanlah simbol kenaikan status. Ini adalah awal dari sebuah kerja keras yang harus dilakukan secara strategis. “Saya ingin mengabdikan diri untuk menjadikan Wanita Perti sebagai organisasi besar yang kukuh dan solid,” tambahnya.
Nelly pun pun sadar, di antara koleganya di Perti meragukan kemampuannya. Terlebih lagi, dia orang baru dan mulai aktif di kepengurusan Perti sejak tahun 2005. Secepat itu melesat jadi Ketua Umum.
Semula ketika dipercaya menahkodai organisasi perempuan islam tertua di Indonesia, Nelly mengaku ada sedikit keraguan dan ketakutan. Dia ragu bila organisasi yang dipimpinnya tak ada perubahan. Dia pun takut bila wanita Perti terseret arus politik praktis sebagaimana lazimnya organisasi kebanyakan.
Tapi Nellu Yakin keraguan dan ketakutan itu buru-buru ditepisnya. Sebagai putri dari orang tua kader Perti, dia siap mengorbankan jiwa raga untuk membesarkan organisasi wanita Perti.
Pengalaman dan Penghargaan
ALUMNUS Master Degree in Management pada Asian Institute of Management, Manila, Philippines ini punya seabrek pengalaman manajerial di berbagai perusahaan. Pernah menjadi executive perusahaan multi national seperti Unilever, Nestle Indonesia, Nestle Malaysia, Metro Sellular Nusantara dan TPJ.
Jabatan yang pernah dipegangnya seperti Direktur Pemasaran, Vice President Marketing, Sales dan Customer Service, Industrial Sales Manager. Tak hanya itu, Nelly sering diundang sebagai fasilitator, nara sumber pada berbagai institusi seperti Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, PT. ASKES, PT. Perum Pegadaian, PT. Pepsi Cola Indonesia, PT. Fritolay , PT. Quaker Oath Indonesia, PT. Hutchitson Cellular Network, PT. Indofoor Group.
Nelly juga sering diundang sebagai Dosen tamu diberbagai universitas seperti CEO Forum of MB – IPB, Magister Manajemen Programme Unri, FE Universitas Bangka Belitung, FE Universitas Bina Nusantara, Kemanggisan,Pusat Data dan Informasi Perempuan Riau, Binus International dan STIKOM London school of Public Relation, Jakarta.
Kemampuan intelektual Nelly juga tak bisa diragukan begitu saja. Sebab, banyak tulisan-tulisan tangannya menjadi referensi dan dia juga penulis buku ”Power Of Marketing, The Practitioner Perspective in Asia” (Penerbit Salemba, Jakarta – 2008). Buku ini digunakan sebagai referensi pada beberapa perguruan tinggi seperti STIKOM – The London School of Public Relation, FE – Universitas Bangka Belitung, dan International Business dan Finance.
Buku lain yang ditulisnya adalah “Perempuan Riau Bicara“ yang diterbitkan oleh Madjlis Taklim Riau (2008), dan “Lima Kebanggaan Anak Melayu“ yang juga hasil kerja kelompok Persatuan Masyarakat Riau Jakarta (PMRJ) 2004.
Kemampuannya itu, kemudian dibuktikan ketika ia memperoleh beberapa penghargaan seperti Competent Toastmaster Award dan Able Toastmaster Award dari Toastmaster International USA. Dia juga pernah menjadi pemenang Lomba Pidato pada Wyoming Toastmaster Club, Wyoming – USA dan pemenang Tall Tale Speech Contest diselenggarakan oleh Univ. Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.
Nelly mendapatkan penghargaan sebagai penyelenggara Public Speaking Seminar untuk Institut Kemajuan Wanita Malaysia yang diberikan oleh Timbalan PM Malaysia Datuk Dr. Siti Zahara Sulaiman. “Sejak muda, saya memang hobi menulis,”ujarnya.
Interview di Luar Negeri
NELLY bercerita tentang romantisme muda membawanya menulis cerpen, puisi maupun artikel. Bahkan, dia pernah menginterview istri Presiden Guetamala, Amerika Tengah, Ny. Cerezo di Istana Kepresidenan Guetamala. Bahkan, dari berbagai pengalaman itu, yang paling berkesan baginya ketika berhasil masuk ke kamp militer Filipina.
“Ketika itu tahun 1985. Pada saat revolusi dimana rakyat Filipina mengadakan demonstrasi menuntut Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos Sr turun dari jabatan sebagai presiden. Saya mendapat tugas dari majalah Femina untuk mewawancarai suami dari Imelda Marcos tersebut,” ceritanya.
Lantaran tak tahu bagaimana caranya menemui Marcos, Nelly pun berusaha mencari tahu lewat sang ajudan Presiden. Nelly dengan piawainya berhasil masuk ke kamp militer Filipina bahkan bertemu langsung dengan Gregorio “Gringo” Ballesteros Honasan II.
Honasan adalah politikus Filipina dan seorang perwira Angkatan Darat Filipina yang memainkan peran kunci dalam Revolusi EDSA 1986 yang menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos. Setelah 1986, ia memimpin serangkaian upaya kudeta kekerasan namun gagal melawan pemerintahan Corazon Aquino.
Presiden Fidel Ramos memberikannya amnesti pada 1992. Honasan masuk politik dan menjadi senator dari 1995 s.d 2004, dan 2007 s.d. 2019. Honasan maju untuk jabatan wakil presiden berpasangan dengan Jejomar Binay pada 2016, tetapi keduanya dikalahkan Leni Robredo dan Rodrigo Duterte.
“Ya, itu semua pengalaman yang akan menuntun saya untuk membesarkan organisasi,” tandasnya.
Mengapa Teta?
Dra. Hj. Suzanna Hadi Ma’rifat, M.Si putri kedelapan Buya Ma’rifat Mardjani dam Umi Fatimah Hadi menyebut semua adik-adik Kak Nelly memanggilnya dengan sebutan Teta. Kenapa? Ini cerita Suzzana yang kini bermukim di kota Mihara, Hiroshima, Jepang yang kami muat utuh.
Waktu duduk duduk di bangku SD, saya bertanya kepada Ummi, “Mengapa harus memanggil dengan sebutan tersebut?” Ummi menjawab, “Sebutan Teta itu berasal dari bahasa Arab yakni dari kata Iftah yang bermakna membuka, meluaskan, atau memberikan kemenangan. Dalam konteks yang lebih abstrak, Iftah dapat bermakna membuka peluang atau memberikan kemenangan.”
Singkatnya, arti Iftah adalah pembuka atau tindakan membuka. Buya dan Ummi berharap, Teta dapat menjadi pembuka jalan bagi adik-adiknya untuk memperoleh pendidikan dan penghidupan yang lebih layak dari yang di peroleh oleh kedua orang tuanya.
Sebagai putri sulung dari sebelas orang bersaudara, Teta memikul tanggungjawab yang sangat berat. Pada usia yang masih sangat muda (SMA), Teta sudah harus berpisah dengan Buya, Ummi, dan juga adik-adiknya. Teta bersekolah di Jakarta, sementara Buya, Ummi dan adik-adik harus kembali ke Riau.
Hal ini terjadi karena Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit Presiden untuk membubarkan parlemen. Ketika itu, Buya menjadi salah satu anggota Parlemen dari Perti hasil Pemilu 1955. Buya mewakili Provinsi Sumatera Tengah.
Kemudian Buya dan Ummi menitipkan Teta pada saudara sekampung (dari Kuantan Singingi) yang saat itu sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Buya, Umi dan ke tujuh orang anaknya kembali ke Riau setelah satu orang putrinya (Zahra) meninggal dunia karena sakit.
Mereka kembali ke daerah dengan seadanya (tidak memadai). Perpisahan ini terasa begitu berat. Berpisah dengan anak gadisnya yang masih sangat belia tanpa bekal yang memadai bagi kedua belah pihak.
Keputusan Teta untuk menetap di Jakarta sudah bulat. Teta bertekad untuk menjemput kesuksesan sehingga kelak dapat membantu keadaan ekonomi orang tua dan adik-adiknya. Keadaan seperti apa pun akan Teta hadapi.
“Ketika kelas II SMA, Teta mulai memberi les untuk adik-adik kelasnya. Les tersebut dilaksakanan di sekolah setelah belajar usai Dengan begitu Teta mendapatkan sedikit uang untuk menghidupi dirinya. Setamat SMA, Teta kuliah sambil bekerja,” ujar .
Beberapa tahun kemudian, karier Teta perlahan tapi pasti merangkak naik. Mulai dari staf administrasi pada sebuah perusahaan asing hingga capaian tertinggi yaitu Direktur Marketing, Vice Presiden dari beberapa perusahaan multi nasional. Puluhan tahun Teta bergelut dalam dunia bisnis di Jakarta.
Sepanjang perjalanan karier Teta, hampir seluruh provinsi di Indonesia sudah Teta kunjungi, dan negara-negara di lima benua sudah Teta datangi dalam rangka kunjungan kerja maupun liburan. Pencapaian ini membuat Buya, Ummi, dan adik-adik merasa bangga.
Teta tidak ingin merasakan kesuksesan tersebut hanya untuk dirinya sendiri. Satu-persatu adik-adiknya diajak ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan mencari nafkah. Hingga tujuh orang adik-adiknya bersekolah dan berkeja di Jakarta. Teta kemudian mengajak serta adik-adiknya yang sudah bekerja untuk mau berbagi membiayai sekolah adik-adik lainnya. Hal baik ini terus Ia tularkan kepada keponakan-keponakannya, mau berbagi untuk keluarga yang membutuhkan terutama untuk melanjutkan pendidikan.
Teta rutin mengirim uang setiap bulan kepada orang Buya dan Ummi untuk membiayai semua kebutuhan sekolah dan biaya hidup adik-adik di Pekanbaru. Teta menjadi tulang punggung keluarga, mengambil alih tanggung jawab Buya dan Ummi demi keberlangsungan hidup keluarganya. Teta berhasil mengantar kesembilan orang adiknya mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi.
Dimata Sahabat
SEMENTARA di mata sahabatnya Radja Bambang Suritno yang akrab di RBS mengenal Neli sebagai rekan sesama trainer. Kami sama tinggal di Jakarta dan orangtua kami sama berasal dari Kuantan Singingi. Tidak hanya itu, hubungan mereka sudah erat bagaikan bersaudara.
“Jika ada permintaan group yang mau training bidang Marketing/ Sales, saya merekomendasikan Kak Nelly sebagai Trainer. Jika ada permitaan group yang mau training bidang HRD/Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) maka Kak Nelly merekomendasikan saya sebagai Trainer,” ujarnya.
Nelly kata RBS pernah memmintanya mengajar satu semester di Universitas Bina Nusantara (BINUS). Plus beberapa program training di sejumlah Public Training dan In-house Training. Beliau adalah tokoh Perempuan dari Kuantan Singingi yang gigih dalam mengejar ilmu dan dalam berkarier.
RBS mengatakan setelah Kabupaten Kuantan Singingi berdiri, beberapa tokoh asal Kuantan Singingi yang di Jakarta mengajaknya mendirikan Paguyuban Ikatan Keluarga Kuantan Singingi (IKKS) Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi disingkat Jabodetabek. Ide yang sangat bagus.
“Saya ditunjuk sebagai Ketua IKKS Jabodetabek dan untuk periode pertama. Periode berikutnya Kak Nelly yang jadi Ketua. Alhamdulillah, organisasi ini tetap eksis hingga kini,” jelas RBS.
Sementara itu Sekretaris Umum IKKS Jabodetabek, Asmaredy menyebut Nelly sangat gigi khususnya di bidang pendidikan. “Sayang Kak Nelly terlampau cepat berlalu disaat orang masih membutuhkan pemikirannya,” kata Asmaredy.
Asmaredy terus terang mengakui Nelly adalah salah seorang pejuang emansipasi modern. “Sulit mencari sosok seperti Kak Nelly. Sosok yang tak pernah lelah dalam berjuang,” tambah Asmaredy.
Lalu apa yang paling kesan dari Nelly, Asmaredy spontan menjawab pesannya. Dia selalu bilang: lelah boleh menyerah jangan. Hidup itu harus diperjuangkan.”
Di akhir hidup kata Asmaredy, Nelly masih mengajar pada London School of Public Relation. Ia menghadap Sang Khalik setelah menyelesaikan bimbingan tugas akhir mahasiswa bimbingannya. Ia meninggal di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta hari Jum’at, 3 Juni 2022 jam 22.30 WIB. Jenazah disemayamkan di Komp.Cipinang indah Jl.Mawar II Blok G No.17 dan dikebumikan di Pemakanan Kebon Nanas, Jakarta Timur, Jakarta.
Selama jalan Teta. Doa kami bersamamu!
Penulis Sahabat Jang Itam: 1-10-2025







