RiauKepri.com, PEKANBARU- Dini hari itu, hujan turun deras di Siak, berharap ingin menghapus jejak. Di dalam kamar sempit Blok B Rutan Kelas IIB Siak Sri Indrapura, delapan pria terlelap. Tapi tidak semua. Tiga di antaranya begadang malam itu. Mereka sudah menyusun rencana selama sepekan, menyimpan serpihan gerinda kecil di atas ventilasi, mengintai waktu ketika dunia tertidur dan penjaga lengah.
Satu dari tiga pria itu kini masih dalam pelarian. Namanya Epi Saputra, 34 tahun, budak Bandul, Kecamatan Tasik Putri Puyu, Kepulauan Meranti. Seorang terpidana mati kasus penyelundupan narkotika. Tapi pagi ini, ia adalah bayangan yang belum tertangkap. Sementara dua rekannya, Satria Adi Putra dan Safrudis, telah kembali meringkuk di balik jeruji besi, kelelahan setelah mencoba merengkuh kebebasan yang hanya bertahan beberapa jam.
Masih Mau Hidup
Di dalam sel itu, tak ada yang tahu pasti bagaimana Epi bisa menemukan mata gerinda, alat potong logam yang biasanya tak mungkin masuk ke dalam ruang tahanan. Ia dan dua rekannya memotong grendel pintu sedikit demi sedikit, lalu menutup bekasnya dengan abu rokok agar tak tampak dari luar. Saat hujan mengguyur atap seng dan mengaburkan suara, mereka mulai beraksi.
Bayangan mati itu dekat sekali buat mereka bertiga, mereka masih mau hidup dan tersebab itu agaknya terpidana mati- proses banding- ini memilih untuk kabur.
Menembus Jeruji
Dari rekaman CCTV, terlihat tubuh kurus Epi memanjat dan melompat dari atap rutan, bayangannya nyaris tersamar hujan. Beberapa menit kemudian, petugas mendengar suara mencurigakan dan berhasil menangkap dua orang. Tapi Epi lenyap di kegelapan malam.
Malam itu, bukan hanya pintu penjara yang dijebol. Tapi juga dinding antara harapan dan keputusasaan. Tiga orang yang menunggu mati, memutuskan untuk memilih jalan yang bahkan lebih nekat, melarikan diri dengan risiko ditembak mati saat itu juga.
Wajah di Layar Ponsel
Berita resmi menyebutkan: Epi sebagai “terpidana mati,” “pengedar narkoba,” “pelaku kabur”. Tapi di luar label itu, Epi seperti banyak orang lain, mungkin pernah membuat pilihan buruk, dan kini dihantui sisa waktu yang tinggal hitungan hari.
Aparat masih memburu Epi. Tim gabungan TNI, Polri, dan aparat sipil dikerahkan. Wajahnya ada di layar ponsel warga, beredar kencang di group WhatsApp, dicap sebagai penjahat. Tapi di balik itu semua, seorang manusia sedang menimbang langkah, antara menyerah, atau tetap berlari.
Hujan di Siak malam itu, mungkin jadi saksi bisu keputusasaan yang tak lagi mau menunggu mati. (RK1/*)







