RiauKepri.com, MERANTI – Aroma tepung sagu yang diolah menjadi mie menyambut kedatangan Ketua Jalasenastri Cabang 4 Daerah Kodaeral I (Lanal Dumai), Ny. Genia Agung N. Kusumaji, saat mengunjungi usaha rumahan Mie Sagu Cap Tanjak di Jalan Pusara, Gang Wakaf, Kelurahan Selatpanjang Timur, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (31/10/2026) pagi.
Di balik kesederhanaan tempat produksinya, tersimpan perjalanan panjang sebuah usaha lokal yang tumbuh dari skala kecil hingga mampu menghasilkan ratusan kilogram mie sagu setiap hari. Mie Sagu Cap Tanjak menjadi salah satu gambaran bagaimana potensi pangan lokal dapat berkembang menjadi sumber penghidupan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Kunjungan Ny. Genia bukan sekadar agenda silaturahmi. Bersama pengurus Jalasenastri Cabang 4, Komandan Pos TNI Angkatan Laut (Danposal) Selatpanjang Lettu Laut (P) Hadi Ismanto, serta personel Danposal Selatpanjang, ia melihat langsung aktivitas produksi dan mengenal lebih dekat perjalanan usaha yang dirintis masyarakat setempat.
Di lokasi, Ny. Genia berkesempatan menyaksikan tahapan pengolahan tepung sagu hingga menjadi mie yang siap dipasarkan. Bahkan, rombongan turut mencicipi mie sagu dan lempeng sagu yang baru saja diolah.
“Alhamdulillah, kita disambut baik oleh pemilik dan seluruh karyawan di lokasi. Kita bahkan sempat mempelajari secara langsung proses pembuatannya,” ujar Ny. Genia.
Baginya, kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat secara nyata potensi ekonomi lokal, khususnya usaha mikro yang tumbuh di tengah masyarakat pesisir. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemberdayaan masyarakat serta memperkuat sinergi antara TNI Angkatan Laut dan pemerintah daerah.
“Ini merupakan wujud nyata dukungan TNI Angkatan Laut terhadap pelaku usaha rumahan, sekaligus sarana untuk mengenal lebih dekat potensi ekonomi yang dimiliki daerah ini,” tambahnya.
Di balik berkembangnya Mie Sagu Cap Tanjak, ada perjalanan panjang yang dirintis Jhon Heri sejak 2002. Pada awalnya, usaha tersebut hanya mengolah sekitar 15 kilogram tepung sagu setiap hari.
Dengan ketekunan dan konsistensi menjalankan usaha, kapasitas produksinya terus meningkat. Kini, Mie Sagu Cap Tanjak mampu mengolah hingga 100 kilogram tepung sagu, bahkan lebih, dalam sehari.
Perkembangan itu menjadi bukti bahwa usaha rumahan dengan memanfaatkan bahan baku lokal memiliki peluang untuk tumbuh dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Produk yang dihasilkan tidak hanya dipasarkan di wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti. Mie sagu produksi Jhon Heri juga telah menjangkau daerah lain, di antaranya Kabupaten Bengkalis dan Tanjungbalai.
Bagi Jhon Heri, perjalanan usaha tersebut tentu tidak terlepas dari semangat untuk terus mempertahankan dan mengembangkan produk olahan sagu yang menjadi bagian dari potensi daerah.
Karena itu, kunjungan Ketua Jalasenastri Cabang 4 Daerah Kodaeral I menjadi suntikan semangat tersendiri bagi dirinya dan para pekerja.
“Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran Ibu Ketua Jalasenastri Cabang 4 Daerah Kodaeral I (Lanal Dumai), Ny. Genia Agung N. Kusumaji, di tempat usaha kami. Kehadiran beliau membuat kami para pelaku usaha rumahan semakin bersemangat untuk mengembangkan usaha ini,” ungkap Jhon Heri.
Kunjungan tersebut juga memberikan ruang bagi Jhon Heri untuk memperkenalkan lebih jauh proses pengolahan mie sagu, mulai dari bahan baku tepung hingga menjadi produk siap jual.
Interaksi langsung antara rombongan Jalasenastri dan pelaku usaha memperlihatkan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Perhatian, kunjungan, serta kesempatan untuk mengenalkan produk lokal juga dapat menjadi penyemangat bagi masyarakat yang sedang membangun usaha.
Di tengah persaingan pasar dan tantangan pengembangan usaha, keberadaan UMKM seperti Mie Sagu Cap Tanjak menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas ekonomi masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi pangan khas Kepulauan Meranti.
Jhon Heri pun berharap usahanya dapat terus berkembang dan mampu menjangkau pasar yang semakin luas.
“Kehadiran ini merupakan bentuk dukungan TNI Angkatan Laut kepada kami pelaku usaha mikro. Semoga ke depannya usaha kami dapat semakin berkembang,” harapnya.
Dari 15 kilogram tepung sagu di awal perjalanan hingga kini mencapai 100 kilogram lebih setiap hari, Mie Sagu Cap Tanjak menyimpan cerita tentang ketekunan, keberanian memulai, dan harapan untuk terus tumbuh.
Sebuah cerita sederhana dari Selatpanjang yang menunjukkan bahwa potensi daerah, ketika dikelola dengan kesungguhan dan mendapat dukungan berbagai pihak, dapat menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat. (RK12).












