Menu

Mode Gelap
Upaya Pemkab Siak Menghadirkan Listrik ke Pelosok Mulai Berbuah Hasil BSP Turunkan Long Arm Bersihkan Kanal Ring 1 di Dosan, Banjir Berangsur Surut Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam Sempena HPN, PWI Kepri Utus Tiga Anggotanya Ikuti Pelatihan Militer di Akmil Magelang Intelektualitas Tanpa Etika Cuaca Kepri Senin, 19 Januari 2026: Hujan Ringan hingga Sedang Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Riau

Datuk Kasam Sang Penanam Mangrove di Selatpanjang Itu Sudah Tiada

badge-check


					Datuk Kasam Usman dengan latar mangrove yang ditanam dan dijaganya. (Foto: ist) Perbesar

Datuk Kasam Usman dengan latar mangrove yang ditanam dan dijaganya. (Foto: ist)

RiauKepri.com, MERANTI- Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Nama yang baik akan selalu dikenang dan selalu disebut atas ketulusan berbuat baik untuk orang lain dan lingkungannya.

Setiap tanggal 26 Juli, Ketua Umum DPH LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, pasti akan teringat Datuk Kasam Usman. Karena pada tanggal tersebut, adalah hari Mangrove Sedunia atau World Mangrove Day. Terus apa hubungannya?

“Beliau adalah salah seorang penggiat yang sudah bertungkuslumus menyelamatkan hutan Mangrove dan pantai di Kabupaten Kepulauan Meranti, kini Datuk Kasam Usman sudah tiada,” kata Datuk Seri Afrizal Cik dengan suar berat menahan tangis, Jumat (5/12/2025).

Di hari Mangrove Sedunia, bebagai kalangan penggiat lingkungan dan pencinta alam di seluruh dunia memperingati hari Mangrove Sedunia itu dengan berbagai cara. Selanjutnya berbagai bentuk ucapan Perayaan Hari Mangrove Sedunia itu ditampailkan di berbagai media. Intinya, masih ramai orang yang peduli dengan tanaman magrove yang telah terbukti dapat menyelamatkan bibir pantai dari kikisan abrasi. Namun, di sisi lain, ramai juga orang yang menjadi pelaku musnahnya tanaman mangrove ini.

Akibat ramainya orang yang berburu tanaman mangrove, membuat tidak sedikit tanah yang runtuh ke laut, air laut yang merembes masuk ke daratan, permukaan pulau yang semakin menurun serta musnahnya berbagai jenis biota laut. Pemusnahan tanaman mangrove ini disebabkan banyaknya panglung arang yang menjadikan tanaman mangrove sebagai bahan bakunya. Prihatin akan punahnya tanaman mangrove dan runtuhnya tebing pantai, beberapa penggiat lingkungan tampil di berbagai daerah.

Di Kepulauan Meranti, tepatnya di sudut kota Selatpanjang, terdapat seorang tokoh yang gigih dalam hal penyelamatan hutan mangrove dan pantai. Dia adalah Datuk Kasam Usman. Sejak tahun 2005 Datuk Kasam Usman atas kesadaran sendiri menanam tanaman mangrove berupa kayu api-api, perepat, nyirih, dan bakau. Kini, tanaman mangrove yang ditanamanya itu telah besar dan menjadi pelindung pantai tersebut dari terkikis abrasi yang bisa menyebabkan runtuhnya tanah ke laut. Tempat yang menjadi lokasi menanam tanaman mangrove yang dilakukan oleh Datuk Kasam Usman adalah bekas sebuah pabrik pengolah kayu (sawmill) yang dulunya dikenal oleh masyarakat Selatpanjang dengan nama Kilang Peng. Setelah Kilang Peng tidak beroperasi tempat tersebut terbiar kosong. Puing-puing bangunannya satu per satu telah roboh dan hilang. Akhirnya tanah tersebut menjadi hamparan tanah kosong di bibir pantai.
Sebagai warga terdekat dengan keberadaan bekas Kilang Peng ini, Datuk Kasam Usman merasa terpanggil untuk melakukan penyelamatan di atas tanah yang sebagian besarnya pantai itu. Maka, terbesitlah di hatinya untuk menanam tanaman mangrove. Maka mulailah lelaki yang biasa disapa Wak Kasam itu, mencari bibit tanaman mangrove ke berbagai tempat. Setelah itu, aksi penanaman pun dilakukannya sendiri.

Hampir tiap hari Datuk Kasam Usman turun ke pantai berlumpur untuk menanam berbagai jenis tanaman mangrove. Tak ada gaji, tak ada yang menyuruh, hanya kesadaran diri sendiri. Berbagai resiko telah dihadapi dalam menanam tanaman mangrove di pantai seluas lebih kurang 3,5 hektar tersebut.

Kini, usaha menanam mangrove yang telah dilakukannya hampir 20 tahun itu telah membuahkan hasil. Di antara tanaman mangrove yang ditanamnya telah dapat di bangun jalan untuk menghubungkan desa Alah Air bagian laut dengan kelurahan Selatpanjang Barat. Siang malam kendaraan bisa melewati jalan tersebut. Orang bisa lebih dekat menuju ke pasar.

Walaupun begitu Datuk Kasam Usman tidak bisa berdiam diri. Setiap saat selalu saja ada orang-orang berniat untuk menebang pohon mangrove yang telah besar itu. Dengan segala kemampuan dan alasan Datuk Kasam Usman menghalang upaya penebangan pohon mangrove yang ditanamanya. Mulai dari cara yang paling santun sampai ke cara yang paling keras, semua telah dilakukan untuk menyelamatkan tanaman magrovenya ini. Bahkan ketika ada yang datang membeli, dia tak pernah mau menjual sebatangpun pohon mangrove yang ditanamnya.

“Menanam tanaman mangrove ini tidak sama sulitnya dengan menjaganya ketika sudah berbatang besar. Waktu kecil dulu musuhnya bimbang terbawa arus dan gelombang, tapi setelah besar bimbang dicuri orang, bimbang ditebang orang, baik dari darat maupun dari laut. Jadi siang malam saya selalu berjaga, takut tanaman mangrove ini diganggu orang,” ujar Datuk Kasam Usman yang masih terniang di telinga Datuk Seri Afrizal Cik.

Di sela-sela waktunya, semasa hidup, hampir tiap hari Datuk Kasam Usman rutin memeriksa tiap batang tanaman mangrovenya. Kalau ada yang mati, dia segera mengantikan dengan tanaman yang baru. Masuk ke celah-celah tanaman mangrove itu menjadi rutinitasnya saban hari. Begitulah tekunnya Datuk Kasam Usamna yang juga Ketua Dewan Penasehat Adat LAMR Kepulauan Meranti dalam upaya menjaga hutan mangrove. Kemanapun dia pergi, perhatiannya selalu tertuju ke tanaman mangrove.

Kini, Datuk Kasam Usman sudah bisa senyum puas manakala berbagai jenis burung laut, bangau dan elang sudah pula sudi datang dan bersarang di hamparan tanaman mangrove yang ditanamnya. Begitu juga ketika air pasang berbagai jenis ikan, udang dan kepiting telah datang pula ke celah-celah tanaman mangrove itu. Ramai juga anak-anak dan orang dewasa yang datang untuk memancing di sini ketika air pasang naik.

Datuk Seri Afrizal Cik yang juga Ketua Yayasan Lestrai Warisan Meranti,
dalam pengamatannya menilai Datuk Kasam Usman sangat pantas diberikan penghargaan sebagai penyelamat lingkungan. Apa yang dilakukakan oleh Datuk Kasam Usman cukup memberi arti dan motivasi bagi semua orang, untuk meneladani apa yang dilakukan oleh lelaki yang terbilang tua itu. “Semangatnya menjaga tanah ini dari abrasi sangat saya kagumi dan perlu kita beri apresiasi. Dia menjaga pulau ini laksana menjaga warisan untuk anak cucunya sendiri. Tak ada upah dan untung penjualan yang didapatnya. Tanah pantai itupun bukan milik dia. Datuk Kasam Usman hanya ingin menyelamatkan tanah ini, dan tanaman mangrove tetap lestari. Niatnya sungguh luar biasa,” kata Datuk Seri Afrizal Cik.

Kalau bisa, sambung Datuk Seri Afrizal Cik, kepada Pemerintah Provinsi Riau, Pj. Gubernur Riau, Bapak Ir. H. SF Haryanto, M.T., terketuk pintu hati memberikan suatu penghargaan kepada Datuk Kasam Usman, tak banyak orang tua seperti ini lagi di sini. (RK1/*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bupati Kepulauan Meranti Hadiri Pembukaan Rakernas XVII APKASI di Batam

19 Januari 2026 - 09:50 WIB

Selamatkan Ribuan Honorer Non ASN, Ini Langkah Terukur dari Pemkab Siak

18 Januari 2026 - 17:36 WIB

K.H. Muhammad Mursyid Hadiri Milad Muhammadiyah ke-113 di Kuok, Tekankan Pentingnya Ukhuwah dan Peran Ormas untuk Kemajuan Daerah

18 Januari 2026 - 14:30 WIB

Menampi Dedap

18 Januari 2026 - 09:43 WIB

Siak Terima Sertifikat Bebas Frambusia dari Kemenkes RI

18 Januari 2026 - 06:02 WIB

Trending di Riau