Menu

Mode Gelap
Pengedar Sabu 4,21 Gram Digerebek di Bantan, Sempat Kabur Lewat Pintu Belakang Oknum PPPK Satpol PP Bantan Ditangkap, Simpan 7 Paket Sabu dengan Berat Kotor Total 2,13 Gram Pengedar Sabu Sembunyikan dalam Bungkus Permen, Pria Inisial H Ditangkap Di jln Sudirman Bengkalis Ny. Sinta Aneng Hadiri Pengukuhan Pengurus Yayasan Kanker Indonesia Wilayah Kabupaten/Kota Masa Bakti 2026–2031 Polda Riau Hadirkan Jalur Klinik Terapung dan Bantuan Sosial Sapa Warga Pesisir Sungai Siak Lepas 44 Jemaah Calon Haji, Bupati Roby : Khusyuk Beribadah, Selamat Pergi dan Selamat Kembali

Minda

Malu Melayu

badge-check


					Ilustrasi. Perbesar

Ilustrasi.

DI alam Melayu Wak, hukum paling tinggi itu adalah malu. Kalau sudah kena hukum yang satu ini, alamat bukan saja yang bersangkutan yang terasa pedih, tapi bisa satu keluarga ikut menunduk, satu kampung ikut mengelus dada, atau satu dunie.

Orang Melayu dulu cakap, malu itu mahkota diri. Kalau mahkota jatuh, habislah seri muka, jadi kedal. Makanya orang tua-tua sering berpesan, “Jagalah malu seperti menjaga marwah.” Sebab bila malu sudah hilang, orang pun bisa berubah macam kerbau lepas tali, lantak sana dan lantak sini.

Tapi zaman kenen, kadang kita tengok, Wak, orang sudah macam kebal muka. Orang Melayu dulu menyindir hal begini dengan bahasa yang halus tapi tajam. Ada yang cakap, “budak itu muka tak beraib.” Ada pula yang lebih pedas sedikit, “muka tembok.” Tembok mana pula? Tembok yang sudah ditembak meriam pun tak runtuh. Adoi…

Dalam hikayat Melayu lama pun sudah diajarkan soal malu ini. Dalam kisah perjanjian Sang Sapurba dengan Demang Lebar Daun, orang sering menyangka itu cuma cerita tentang kekuasaan raja. Padahal kalau ditelik sedikit, ada urusan harga diri dan malu keluarga di situ.

Ceritanya begini, dah matan ni, Wak. Sang Sapurba ini sakti bukan main, tapi entah kenapa perempuan yang dinikahinya sebelum itu semuanya jadi kedal. Kedal ini bukan sembarang penyakit, Wak. Kulit berubah jadi hitam legam. Bagi perempuan zaman dulu, itu bukan sekadar perubahan warna kulit, tapi malu yang menimpa diri dan keluarga. Sampai ada yang memilih mengasingkan diri dari kampung.

Ketika anak Demang Lebar Daun, Wan Sundari, hendak dinikahkan dengan Sang Sapurba, tentu ayahnya berpikir panjang. Bukan soal kuasa atau tidak, tapi soal jangan sampai anaknya dipermalukan. Maka dibuatlah perjanjian. Jadi sebenarnya, di balik kisah besar itu, terselip pesan sederhana: harga diri jangan diinjak, malu jangan dipermainkan, karena dia mahkota diri.

Begitulah tinggi nilai malu dalam adat Melayu. Orang yang masih punya malu dianggap orang beradat, orang berakal, orang bertuah. Sebaliknya, orang yang hilang malunya, orang dulu cakap, hilanglah cahaya Melayu pada dirinya. Sudah macam perahu tanpa kemudi, jalan, tapi entah ke mana arahnya.

Makanya orang tua-tua dulu memberi petuah yang sangat sederhana, tapi dalam maknanya: “Berbuat baik berpada-pada, berbuat jahat jangan sesekali.”
Artinya, jangan berlebihan dalam bertindak. Jangan pula sekali-sekali buat hal yang mencoreng muka sendiri.

Di kampung dulu, hukum adat juga tidak main-main. Kalau ada orang membuat malu, hukumannya bertingkat. Yang ringan-ringan, misalnya potong kerbau untuk jamuan adat, sebagai tanda minta maaf pada masyarakat. Tapi kalau sudah berat benar kesalahannya, bisa-bisa dibuang dari pergaulan adat atau diusir dari kampung. Itu hukuman yang paling pedih, Wak. Sebab bagi orang Melayu, hidup tanpa masyarakat itu seperti hidup tanpa udara.

Sekarang ini kadang kita tertanya juga. Apakah hukum malu itu masih hidup? Atau sudah pindah kampung entah ke mana? Sebab kalau benar malu masih dijunjung, tentu banyak orang akan berpikir dua kali sebelum berbuat. Tapi kalau malu sudah pergi jauh, alamat kita hanya tinggal cerita hikayat saja, sementara muka tembok makin banyak mengembai.

Jadi begitulah, Wak. Di alam Melayu ini, sebelum undang-undang bicara, sebelum hakim mengetuk palu, sebenarnya ada satu hakim yang lebih dulu mengadili: rasa malu dalam diri. Kalau hakim yang satu ini masih hidup, Insya Allah negeri aman. Tapi kalau dia sudah mati, kita cuma bisa cakap pelan-pelan sambil mengelus dada: “Entah ke mana perginya malu orang Melayu hari ini.”

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polda Riau Hadirkan Jalur Klinik Terapung dan Bantuan Sosial Sapa Warga Pesisir Sungai Siak

17 April 2026 - 17:12 WIB

Bupati Siak Buka Pelatihan Guru RA, Tekankan Pendidikan Berbasis Cinta

16 April 2026 - 12:47 WIB

Haru dan Penuh Makna, BRK Syariah Lepas 12 Pegawai Menuju Tanah Suci

16 April 2026 - 11:19 WIB

Milad ke-33 Dapen Bankriaukepri, Bukti Konsistensi dan Kepercayaan yang Terjaga

15 April 2026 - 18:00 WIB

Hikayat Kerendahan Hati dan Jejak Seorang Pemimpin: Kisah Saleh Djasit dari Mata Para Tokoh

15 April 2026 - 11:36 WIB

Trending di Pekanbaru