Kalau bercakap, beragaklah siket Wak.
Adakan tepung dicakap boleh memadamkan api, apalagi api akibat kebakaran hutan dan lahan. Jangan-jangan yang dimaksud tepungging, agaknya?
Maklumlah, orang kampung kami di pesisir Riau ini kalau mendengar perkataan tepung, telinga sebelah kiri mendengar tepung, telinga sebelah kanan pula teringat tepungging. Bukan tepung untuk goreng pisang. Bukan pula tepung untuk buat kue.
Tepungging! Nah, ini lain kes lah. Dalam adat percakapan kampung kami, tepungging itu kira-kira perbuatan meremehkan lawan. Biasanya berlaku selepas satu permainan selesai. Yang menang bergembira, yang kalah menahan malu. Tapi kadang-kadang yang kalah belum habis akal. Lantas? Tepungging juga lah.
Yang menang bisa tepungging, yang kalah pun boleh membalas tepungging. Akhirnya bukan lagi soal siapa menang siapa kalah, tapi siapa paling panjang akal untuk mengejek lawannya.
Itulah perangai di kampung kami. Kalau sudah bergurau, memang tajam lidah. Tapi jangan pula dibawa sampai ke hati.
Ada pula satu makhluk yang terkenal dengan perangai tepungging ini. Kami di kampung, Wak, memberi namanya
Kera Bokuh.
Kera Bokuh ini bukan kera sembarangan. Badannya agak lebih besar daripada kera biasa. Pontotnya besar, warnanya agak kemerah-merahan. Kalau berhadapan dengan manusia di hutan bakau, jangan harap dia terus melawan. Kadang-kadang dia takut.
Tapi karena marwah seekor kera harus dijaga, sebelum lari dia boleh pula membelakangi manusia sambil menunjukkan pantatnya. Itulah tepungging!
Maka orang kampung pun punya lagu ejekan: “Kere bokuh pontot merah, Wan bodoh aki marah…”
Begitulah adat Melayu. Kalau marah jangan sampai bergaduh. Kalau hendak mengejek, cukup pakai petatah petitih. Kalau hendak menegur, pakailah kias. Kalau hendak menyindir, jangan terus menunjuk batang hidung orang. Tapi kalau sudah sampai tepungging, itu tanda sindirannya sudah naik kelas. Haaa…
Secara bahasa, kata dasarnya adalah nungging: posisi tubuh membungkuk dengan kepala atau dada mengarah ke bawah, sementara panggul dan pantat terangkat ke atas. Dalam KBBI pun menungging memang bermakna membungkuk dengan posisi kepala di bawah dan pantat terangkat.
Jadi, jangan salah paham. Tepung bukan tepungging. Walaupun bunyinya dekat, maknanya boleh membuat orang kampung berkerut dahi.
Belakangan ini perkataan tepung pula yang viral. Konon, ada inovasi berbahan dasar tepung ubi atau singkong yang hendak diuji untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan.
Wah hebatnye! Kalau mendengar ini, orang kampung boleh saja berkata: “Kalau begitu, nanti kalau rumah terbakar, jangan cari air. Cari tepung!”
Eit! Jangan pula begitu, Wak. Di sinilah pentingnya beragak ketika bercakap. Tepung ubi murni tidak boleh begitu saja dilempar ke api seperti orang menabur tepung ke adonan kue. Malah tepung atau serbuk pati yang mudah beterbangan mempunyai risiko terbakar. Dalam kondisi tertentu, debu pati halus di udara juga dapat menimbulkan bahaya ledakan debu. Jadi jangan sampai hendak memadamkan api, tepung pula yang membuat api tambah besar.
Bisa-bisa bukan water bombing, tapi tepung bombing. Dan akhirnya orang kampung bertanya:
“Api padam ke tidak?”
“Entahlah.”
Yang sebenarnya sedang dibicarakan adalah inovasi bahan berbasis singkong, bukan tepung dapur yang langsung disiramkan ke api. Bahan tersebut perlu diformulasikan sedemikian rupa agar dapat membantu meredam panas dan mengisolasi api.
Gagasan yang disebut “ubi bombing” ini dilaporkan bermula dari gagasan anggota Babinsa di Lubuklinggau dan kemudian disampaikan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
BRIN juga melihat adanya potensi untuk dikembangkan dan diuji lebih lanjut. Presiden Prabowo Subianto bahkan mendorong agar inovasi tersebut diuji dalam skala lebih besar sebagai alternatif pendamping water bombing.
Nah, ini barulah boleh kita dukung. Sebab inovasi memang perlu dicoba. Tapi menguji inovasi dengan ilmu, bukan dengan cerita kedai kopi, Wak. Paham?
Lagipun air sendiri bukan sembarang bahan pemadam. Air bekerja terutama dengan menyerap panas. Ketika air disiramkan ke benda yang terbakar, panas diserap sehingga suhu bahan bakar turun. Sebagian air kemudian menguap dan membantu mengurangi kondisi yang memungkinkan pembakaran terus berlangsung.
Makanya sejak zaman nenek moyang, kalau api menyala, orang mencari air. Bukan mencari tepung. Kalau orang Melayu dulu melihat api membesar, paling tidak yang dicari tibe, bukan ayak tepung.
Jadi, Wak. Kalau hendak bercerita soal inovasi pemadaman Karhutla, berpade-padelah siket. Jangan sampai orang kampung mendengar “tepung bisa memadamkan api,” lalu besok pagi satu kampung pergi ke kedai membeli tepung ubi.
Bukan untuk membuat lempeng, bukan untuk membuat kue. Tapi hendak menyiram api. Nanti kalau apinya tambah menyulat, orang kampung pula yang tepungging.
Dan kalau ada yang bertanya siapa yang mengajar? Jawablah dengan adat Melayu:
“Entahlah Wak, dengar-dengar dari orang bercakap.”
Padahal dalam budaya Melayu, orang tua-tua sudah lama mengingatkan, berkata biar beradat, bergurau biar beragak, dan kalau membawa ilmu jangan separuh-separuh. Sebab, lidah yang tidak beragak boleh menyalakan api. Dan api yang sebenar-benarnya api, jangan pula kita padamkan dengan tepungging.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.









