RiauKepri.com, PEKANBARU- “Aduh, aduh, ampun, ampun, Pak.” Kalimat itu yang terus diingat Rizaldi (44) ketika sekelompok orang menyerang dirinya dan puluhan pekerja lain di sebuah kebun sawit di Kecamatan Tambusai Utara, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau.
Rizaldi tak melawan. Begitu pula rekan-rekannya. Mereka hanya bisa menahan sakit saat kepala dihantam balok kayu, mata ditendang, dan tubuh diseret-seret oleh para penyerang.
“Kami hanya bisa bilang ‘aduh, aduh, ampun, ampun, Pak’. Kalau teriak minta tolong, semakin disiksa kami,” kata Rizaldi saat ditemui wartawan, Sabtu (15/8/2026).
Kedua matanya tampak merah dan bengkak. Pandangannya sempat kabur setelah ditendang, meski perlahan mulai kembali normal.
Rizaldi dan rekan-rekannya sebelumnya hanya menjalankan pekerjaan seperti biasa. Pada Jumat (14/8/2026), mereka baru selesai membersihkan kebun dan sedang berada di mess. Tak lama kemudian, datang gerombolan orang menggunakan tiga truk colt diesel dan dua mobil double cabin. Menurut kesaksian korban, jumlah penyerang mencapai ratusan orang.
Gunawan (31), korban lainnya, mengatakan suasana berubah seketika ketika para penyerang tiba. “Mereka berteriak ‘serang’, jadi kami langsung diserang,” ujar Gunawan.
Gunawan mengaku dipukul menggunakan kayu dan besi. Hidung dan tangannya terluka hingga harus diperban. Dia
bahkan mengaku diancam menggunakan senjata api. Dua telepon selulernya juga disebut dirampas.
Di tengah luka yang mereka alami, ada satu hal lain yang membuat para korban gelisah, rekan-rekan mereka yang masih berada di dalam kebun.
Rizaldi menyebut sekitar 28 orang masih tertinggal di lokasi dan belum diketahui bagaimana kondisinya. “Yang kami pikirkan kawan-kawan di dalam kebun sekitar 28 orang lagi. Belum tahu nasibnya sekarang,” katanya.
Sementara itu, sekitar 25 orang dilaporkan mengalami luka. Salah seorang di antaranya disebut berada dalam kondisi kritis. Setelah penyerangan, para korban dikumpulkan dan dibawa keluar dari kawasan kebun menggunakan truk. Ketika kendaraan melintas di depan Polsek Tambusai Utara, mereka berteriak meminta pertolongan.
Sehari setelah kejadian, satu per satu korban kemudian mendatangi Polsek Tambusai Utara untuk melapor. Sebagian masih harus menahan sakit. Ada yang terluka di kepala, tangan, kaki, rusuk hingga mata. Beberapa korban tampak terbaring dan duduk di teras musala dekat polsek sambil menunggu pemeriksaan polisi.
Bagi mereka, persoalan yang sebelumnya hanya mereka dengar sebagai konflik lahan kini berubah menjadi pengalaman kekerasan yang nyata.
Gunawan mengaku tidak mengetahui siapa para penyerang maupun apa alasan mereka menyerang. “Kami cuma bekerja,” katanya.
Menurut Gunawan, dirinya mengetahui adanya persoalan lahan antara masyarakat dan PT Agrinas Palma Nusantara. Namun, ia mengaku mendapat informasi bahwa lahan tersebut merupakan milik warga sehingga ia bekerja di lokasi itu. Konflik lahan itu kemudian menjadi latar belakang perkara yang lebih besar.
Juru bicara masyarakat, Abdul Aziz, mengatakan lahan perkebunan yang dipersoalkan berada di Afdeling 19 dan 21 dengan luas sekitar 2.000 hektare. Menurut dia, sekitar 1.015 orang menggantungkan hidup dari lahan tersebut.
Aziz menyebut lahan itu sebelumnya dikelola PT Torganda dengan pola “Bapak Angkat” melalui Koperasi Karya Bakti. Pada 2025, lahan tersebut kemudian disita Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) karena disebut masuk kawasan hutan dan pengelolaannya diserahkan kepada PT Agrinas Palma Nusantara.
Masyarakat, kata Aziz, kemudian berupaya mendapatkan kembali lahan yang mereka klaim sebagai milik mereka. Upaya tersebut kini berujung pada bentrokan dan penyerangan.
Aziz menduga penyerangan melibatkan pihak Agrinas. Namun, dugaan tersebut masih merupakan tudingan dari pihak masyarakat dan belum terbukti.
Ia mengatakan pihaknya akan membawa persoalan itu ke Mabes Polri dan DPR RI, bahkan menyurati Presiden.
“Kami ingin tahu dasarnya Agrinas mengatakan itu lahannya apa?” ujar Aziz.
Di sisi lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Riau Kombes Hasyim Risahondua membenarkan adanya kejadian tersebut. Polisi telah menerima laporan para korban, membawa korban untuk menjalani visum, serta memeriksa sejumlah saksi. Polisi juga tengah mencari keberadaan para pelaku. “Tindakan selanjutnya, memeriksa saksi-saksi, mencari keberadaan pelaku-pelaku dan melengkapi berkas,” kata Hasyim.
Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani telah dikontak wartawan untuk meminta tanggapan terkait tudingan tersebut, namun hingga berita ini ditulis belum memberikan respons.
Di tengah proses hukum yang mulai berjalan, para korban masih membawa luka dari kebun itu. Namun, bagi Rizaldi, rasa cemas belum selesai. Luka di kepala dan matanya mungkin berangsur sembuh. Tetapi nasib 28 rekannya yang masih berada di dalam kebun masih menjadi pertanyaan.
Mereka datang ke kebun untuk bekerja. Kini, mereka menunggu kepastian bahwa semua rekan mereka bisa pulang dengan selamat. (RK1/*)









