RiauKepri.com, PELALAWAN– Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau, telah menghanguskan lahan seluas 969 hektare. Kebakaran yang berlangsung hampir sebulan itu juga mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Hingga Selasa (25/8/2026), sebanyak 549 warga Pelalawan tercatat terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, Edy Afrizal, mengatakan dari total lahan yang terbakar di Kerumutan, lebih dari 600 hektare telah berhasil dipadamkan dan dilokalisir oleh tim gabungan.
“Walaupun medan ekstrem, kerja keras tim di lapangan mulai membuahkan hasil positif. Dari total luas lahan yang terbakar, lebih dari 600 hektare titik api di antaranya berhasil dipadamkan dan dilokalisir,” ujar Edy, Rabu (26/8/2026).
Penanganan Karhutla melibatkan ratusan personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Kehutanan hingga Satpol PP. Sejumlah perusahaan swasta juga ikut membantu, termasuk PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang mengerahkan regu pemadam, peralatan medis dan evakuasi.
Kondisi lahan gambut yang tebal dan dipenuhi semak belukar kering membuat proses pemadaman menjadi sulit. Selain melalui jalur darat, Satgas Udara juga mengerahkan helikopter water bombing bantuan BNPB dan Kementerian Kehutanan untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
Karhutla di Kerumutan menjadi bagian dari kebakaran yang terjadi di 12 kabupaten/kota di Riau. Secara kumulatif, luas lahan yang terbakar di Riau sepanjang Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai lebih dari 16.000 hektare.
Di tengah meluasnya Karhutla, dampak kesehatan mulai dirasakan masyarakat Pelalawan. Kepala Dinas Kesehatan Pelalawan, Asril, mengatakan sebanyak 549 warga mengalami ISPA setelah kabut asap mulai muncul pada 18 Agustus 2026.
Data tersebut dihimpun dari seluruh fasilitas kesehatan di Pelalawan. Dari 549 pasien, sebanyak 278 merupakan laki-laki dan 271 perempuan.
Puskesmas Pangkalan Kuras I mencatat kasus terbanyak dengan 147 pasien, disusul Puskesmas Ukui 70 pasien, Puskesmas Kerumutan 72 pasien, Puskesmas Pangkalan Kerinci I 60 pasien, dan Puskesmas Langgam 52 pasien.
“Kami mulai mendeteksi peningkatan kasus ISPA mulai kabut asap muncul sejak 18 Agustus lalu sampai hari ini,” kata Asril.
Meski jumlah kasus meningkat, seluruh pasien sejauh ini masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat awal seperti puskesmas dan bidan desa. Belum ada pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit.
Asril mengimbau masyarakat memperbanyak minum air putih, mengonsumsi vitamin dan obat sesuai kebutuhan serta beristirahat di rumah. Kelompok rentan seperti lanjut usia dan warga dengan riwayat asma maupun gangguan paru-paru diminta lebih waspada.
“Untuk kelompok yang rentan, harus lebih menjaga kesehatan dampak dari asap. Jika kondisinya lebih parah, segera ke puskesmas,” ujarnya.
Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, Posko Kesehatan Penanggulangan Bencana Karhutla juga didirikan di Desa Bandar Panjang, Kecamatan Kerumutan.
Posko tersebut merupakan kolaborasi Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Riau, Si Dokkes Polres Pelalawan, Dinas Kesehatan Pelalawan dan Puskesmas Kerumutan. (RK1/*)









