Menu

Otomatis
Breaking News

Minda

Gemuruh Tinta di Selat Malaka: Merawat Warisan Kata dan Kebangkitan Literasi Negeri Junjungan

badge-check

Marzuli Ridwan Al-bantany Perbesar

Marzuli Ridwan Al-bantany

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany

Pulau Bengkalis yang dikenal dengan julukan Negeri Junjungan tidak hanya menyuguhkan pesona bahari dan hasil laut Melayu di pesisir Selat Malaka, tetapi juga merupakan tanah kembara budaya yang melahirkan para seniman, budayawan, dan sastrawan. Di perairan Selat Bengkalis—yang dahulu dinamai oleh kolonial Belanda sebagai Selat Brouwer, denyut kehidupan pesisir berkelindan erat dengan ingatan sejarah maritim yang perkasa. Sejak masa silam, dinamika Selat Bengkalis yang berhadapan langsung dengan Semenanjung Melayu telah membentuk ruang kebudayaan yang kaya akan narasi intelektual dan estetika.

Kesenian lisan menjadi fondasi awal dari khazanah sastra di kawasan ini, di mana tradisi berbalas pantun, gurindam, hikayat, serta pengungkapan syair bertumbuh subur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Melayu. Salah satu narasi lisan terpenting yang terabadikan adalah Syair Ikan Terubuk, sebuah karya sastra anonim yang merekam jejak sejarah serta mitologi pesisir Riau. Kehadiran karya-karya lisan ini bermula dari dinamika sejarah abad ke-17, pasca-runtuhnya Kerajaan Gasib pada tahun 1625 yang melahirkan kepemimpinan adat para datuk di wilayah pesisir Bengkalis.

Sebagai pusat pelabuhan dan perdagangan penting pada era Kesultanan Melayu Johor, Bengkalis menjadi tempat persinggahan sekaligus titik temu persilangan budaya di Selat Melaka. Keterbukaan wilayah pelabuhan ini membuka ruang bagi masuknya gagasan-gagasan baru, publikasi awal, serta pertumbuhan ide modernisasi yang kelak membentuk landasan berpikir para terpelajar lokal. Dari latar geografis dan historis inilah lahir kesadaran bersastra yang memadukan kedalaman tradisi lokal dengan daya kritis sezaman.

Tonggak penting kesusastraan modern Indonesia dari Bengkalis ditandai oleh lahirnya Soeman Hasiboean, yang lebih dikenal dengan nama pena Soeman Hs, pada 4 April 1904 di Bengkalis. Tumbuh dari keluarga petani dan pengajar Al-Qur’an, Soeman Hs sejak kecil mengasah minat bacanya melalui perpustakaan sekolah Melayu setempat serta mendengarkan kisah-kisah petualangan dari para saudagar yang bertamu ke rumahnya. Pendidikan keguruan yang ditempuhnya kemudian membawanya menjadi pendidik bahasa Melayu dan merintis karier kepenulisan yang monumental.

Dalam khazanah sastra nasional, Soeman Hs diakui sebagai pelopor fiksi detektif dan perintis penulisan cerita pendek dalam kesusastraan Indonesia era Balai Pustaka. Karya-karyanya seperti novel Kasih Tak Terlarai (1929), Mentjahari Pentjoeri Anak Perawan (1932), serta kumpulan cerpen Kawan Bergeloet (1941) menampilkan pendobrakan tema sosial, humor yang memikat, serta penggunaan bahasa Melayu pesisir yang lugas dan mengalir. Karya-karya tersebut membuktikan bahwa pengarang kelahiran Bengkalis mampu memberikan kontribusi estetika yang berharga dalam kanon sastra Indonesia.

Selain kiprahnya di dunia sastra, Soeman Hs mendedikasikan hidupnya sebagai tokoh perintis pendidikan di Riau, memprakarsai pendirian sekolah menengah pertama, SMA Setia Dharma sebagai SMA pertama di Riau, hingga Universitas Islam Riau. Atas jasa dan dedikasinya dalam memelihara serta mengembangkan kebudayaan, nama beliau diabadikan menjadi nama Perpustakaan Soeman H.S. di Pekanbaru yang megah dengan arsitektur menyerupai rehal Al-Qur’an. Warisan pemikiran dan ketokohan Soeman Hs menjadi inspirasi moral yang terus merasuk ke dalam jiwa generasi penulis Bengkalis sesudahnya.

Tradisi kepenulisan di Bengkalis terus dirawat oleh generasi penerus yang menjembatani warisan tradisi Melayu dengan perkembangan media massa modern. Salah satu sastrawan senior yang konsisten menorehkan karya adalah Mohd Nasir, yang menggunakan nama pena Risan Dhom. Menjalani profesi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Bengkalis sejak 1984, beliau aktif mengirimkan puisi, cerpen, dan esai kritik sastra ke berbagai mingguan dan koran di Pekanbaru, Padang, hingga Medan sejak tahun 1986.

Dedikasi Mohd Nasir menghasilkan belasan buku karya tunggal dan puluhan antologi, serta keberhasilan menjuarai berbagai sayembara penulisan naskah buku tingkat provinsi dan nasional yang diselenggarakan Pusat Perbukuan Depdikbud pada tahun 1993, 1994, 1998, 2000, 2002, dan 2007. Kiprahnya semakin meluas saat dipercaya sebagai Koordinator PERRUAS Riau, memfasilitasi keikutsertaan ribuan guru dalam antologi puisi dan pantun Asean yang berhasil memecahkan rekor MURI Dunia.

Geliat kesusastraan di Kabupaten Bengkalis semakin menemukan ruang ekspresi yang luas pada era awal tahun 2000-an. Pada periode 2000–2005, Riza Pahlefi yang menjabat sebagai Wakil Bupati sekaligus Ketua Dewan Kesenian Bengkalis memberikan perhatian besar bagi pengembangan seni dan budaya daerah. Kehadiran ruang apresiasi ini mendorong maraknya helat sastra dan pertemuan para sastrawan se-Riau maupun Sumatra di pulau pesisir ini.

Gedung Kesenian Cik Puan di Jalan Hangtuah Kota Bengkalis menjadi pusat pertunjukan seni, pementasan teater, dan pembacaan puisi yang menghidupkan iklim kreatif lokal. Pada masa tersebut, digelar helat sastra penting seperti pertemuan Sayang-Sayang Selat yang dihadiri oleh Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, serta penerbitan antologi puisi bersama bertajuk Purnama Kata (2000) yang diterbitkan oleh Dewan Kesenian Bengkalis.

Dinamika sastra pesisir ini juga diwarnai oleh kehadiran para penyair perempuan dan akademisi seperti Murparsaulian. Dalam pelayaran Roro menyeberangi Selat Bengkalis dari Pelabuhan Sungai Pakning menuju Air Putih pada 21 Agustus 2026 yang lalu, Murparsaulian merangkai sebuah puisi liris bertajuk Datang ke Bengkalis. Puisi bernuansa sejarah ini kemudian dibacakan pada penutupan Festival Sastra Maritim Riau (FSMR) 2026 di Desa Telukpambang, sebuah helat sastra pesisir yang digagasi oleh Marhalim Zaini melalui Rumah Kreatif Suku Seni Riau bersama sastrawan Musa Ismail dan Bambang Karyawan.

Jejak kepenulisan di Bengkalis semakin berwarna dengan kiprah para sastrawan seperti Syaukani Alkarim (Ketua LAMR Bengkalis) yang bergerak dalam jejaring kepenulisan luas tanpa pernah melepaskan keterikatan pada akar budaya dan identitas pesisir Negeri Junjungan. Di saat yang sama, Musa Ismail hadir sebagai salah satu sastrawan lokal yang tunak menyemangati geliat sastra pesisir, termasuk keterlibatannya dalam helat Festival Sastra Maritim Riau (FSMR) yang ditaja Suku Seni Riau bawah binaan sastrawan Marhalim Zaini di Telukpambang belum lama ini. Kegiatan ini sengaja dikemas dengan apik oleh sastrawan Riau asal Bengkalis yang menetap di Pekanbaru itu, dalam upaya menghidupkan ruang ekspresi bagi para pegiat seni lokal. Dedikasi para sastrawan ini mempertegas bahwa tradisi literasi di pulau Bengkalis (Bengkalis dikenal sebagai Pulau Sastra) terus bergerak dinamis dan melahirkan karya-karya yang berakar kuat pada nilai sosio-kultural Melayu.

Di sisi lain, figur penulis seperti Amrizal (Ketua MUI Bengkalis), Zulfan Ikhram, Wan Muhammad Fariq, Affan Zahidi, Budi Prayitno dan beberapa penulis lainnya di Bengkalis (termasuk Marhalim Zaini) mewakili keberagaman disiplin kepenulisan yang mencakup karya fiksi, nonfiksi, keagamaan, hingga riset akademik. Aktivitas para intelektual ini berkelindan erat dengan maraknya gairah penerbitan indie dan lahirnya ruang-ruang diskusi perbukuan yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Melalui gerakan penulisan dan penerbitan mandiri tersebut, potensi intelektual daerah berhasil ditransformasikan menjadi karya-karya perbukuan konkret yang mendokumentasikan khazanah pemikiran, keilmuan, dan kebudayaan lokal.

Geliat menulis di Bengkalis kian bergairah, dikarenakan di Bengkalis sendiri dalam kurun waktu enam hingga sepuluh tahun terakir telah muncul sebuah penerbit buku berskala nasional. Pemilik penerbit ini adalah Khairul Azan, anak jati Bengkalis, seorang penulis dan juga dosen di IAIN Datuk Laksemana Bengkalis (sebelumnya STAIN Bengkalis) yang memiliki jiwa wirausaha di bidang literasi. Beliau merintis dan mendirikan penerbitan buku Dotplus Publisher pada tanggal 8 Agustus 2020.

Kehadiran penerbit lokal asal Bengkalis ini menjadi jembatan utama bagi para akademisi, dosen, dan penulis di Kabupaten Bengkalis maupun daerah lain untuk mempublikasikan karya mereka secara profesional dan ber-ISBN tanpa harus tergantung pada penerbit jauh di luar daerah. Berdasarkan data yang didapat, lebih dari 300 judul buku telah diterbitkan sebagai bentuk konkret dalam mendokumentasikan karya para penulis, mulai dari buku ajar, monografi riset, buku keagamaan, literasi anak, hingga karya fiksi. Di antara buku non fiksi yang diterbitkan seperti buku bertajuk Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis jilid 1 dan 2 yang ditulis para penulis yang tergabung di MUI Kabupaten Bengkalis.

Sebagai penulis dengan berbagai genre kepenulisan, keberlanjutan gerakan literasi di Bengkalis selama ini turut kukawal dengan segenap kemampuan yang ada. Bahkan bersama para penulis dan intelektual daerah seperti Syaukani Alkarim, Riza Pahlefi, Amrizal, Musa Ismail, Khairul Azan, Zulfan Ikhram, Budi Prayitno dan sejumlah penulis lainnya, dinamika kepenulisan di Bengkalis terus bergerak melintasi pelbagai genre, mulai dari fiksi, nonfiksi, keagamaan, hingga kajian akademik. Kehadiran para pegiat sastra dan akademisi lokal ini menjadi benteng pertahanan nilai-nilai budaya Melayu pesisir sekaligus penggerak diskusi literasi yang produktif. Walaupun beberapa nama sastrawan daerah seperti Syaukani Alkarim bergerak dalam jejaring kepenulisan yang lebih luas, keterikatan pada akar budaya Bengkalis tetap menjadi napas utama karya-karya mereka.

Keberadaan sejumlah penulis lainnya dari golongan akademisi, birokrat dan guru, seperti Muhammad Isa Selamat, Jarir Amrun, Imam Ghazali, Khadijah Ishak, Zulhendri, Bagus Santoso, Rinto, Suseno dan beberapa nama lainnya, tetap memberikan kontribusi yang besar bagi mendorong geliat literasi di Bengkalis agar tetp tumbuh dan kian bergairah. Bahkan perhatian yang diberikan pemerintah daerah selama ini dalam mendukung program literasi yang diselenggarakan secara swadaya oleh sejumlah pihak dan kalangan, turut pula dirasakan dampaknya, meski kedepan perhatian serupa harus lebih ditingkatkan lagi.

Selama sepuluh tahun terakhir ini geliat sastra di Bengkalis tak lepas dari hadirnya sejumlah komunitas menulis maupun sastra yang turut mewarnai. Namun dikarenakan berbagai sebab dan alasan, aktivitas kepenuisan itu secara kelembagaan dan terorganissir perlahan dirasakan mulai melemah dan terhenti. Kendati demikian, para penulis yang ada tetap berkarya, menulis dan menerbitkan buku mereka meski sendiri-sendiri dan dengan jumlah yang terbatas.

Oleh sebab itu, puncak dari kesadaran untuk membangun konsolidasi agar gerakan literasi secara terorganisir kembali tumbuh di Bengkalis, khususnya di Pulau Sastra yang bertuah ini, maka melalui musyawarah akbar para penulis di Kota Bengkalis pada Jumat, 18 September 2026 kemarin di Zamatra Café, Bengkalis, para penulis senior dan penggerak literasi dari pelbagai disiplin ilmu berkumpul dalam sebuah pertemuan bersejarah. Mereka duduk bersembang menyatukan visi bagi mengatasi kendala individu yang selama ini ditemui dalam menulis, seperti keterbatasan akses dalam penerbitan, jejaring nasional maupun berbagai aspek dalam kepenulisan lainnya.

Dalam musyawarah bersejarah tersebut, atas usul dari penulis senior Isa Selamat, disepakati pembentukan organisasi resmi bernama PENALIS (Perkumpulan Penulis Bengkalis). Pendirian PENALIS pada 18 September 2026 itu menjadi titik balik krusial yang menginstitusionalkan gerakan literasi di Bengkalis dari sifat yang sporadis menjadi wadah terstruktur. Melalui wadah kolektif ini, para penulis Negeri Junjungan siap membina generasi baru, menerbitkan karya-karya berkualitas, dan menjaga agar lentera sastra Bengkalis tetap terang dan menyala di kancah nasional maupun internasional.

Melalui wadah organisasi ini pula, kelak diharapkan para penulis Bengkalis, baik yang berada di dalam maupun di luar Bengkalis dapat bergabung, bersama-sama membangun daerah dan tetap melanjutkan tradisi menulis sebagaima telah diwariskan para pendahulu; seperti almarhum Soeman Hs yang dalam khazanah sastra nasional diakui sebagai pelopor fiksi detektif dan perintis penulisan cerita pendek dalam kesusastraan Indonesia era Balai Pustaka.

Semoga dari balik debur ombak Selat Malaka yang setia memeluk pesisir, lentera sastra di Negeri Junjungan tidak akan pernah padam oleh angin waktu. Lewat goresan tinta para pewaris tradisi, dari ketokohan masa lampau hingga derap langkah PENALIS yang baru terbentuk hari ini, semoga gelora kepenulisan di Pulau Bengkalis terus berdenyut, merawat warisan leluhur, dan menorehkan keabadian kata di panggung peradaban nusantara. Amin.

 

Wallahu a’lam.

Bengkalis, jelang akhir September 2026

Catatan : Ditulis, didokumentasikan dari berbagai sumber dan catatan.

*) Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, penyair dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Ia tidak hanya menulis esai maupun artikel budaya dan sastra, namun juga menulis puisi, cerpen dan novel serta membukukan karya-karya sastranya itu. Bersama sejumlah penulis lokal lainnya di Bengkalis, ia juga menulis buku non fiksi seperti buku berjudul Profil Ulama Karismatik di Kabupaten Bengkalis: Meneladani Sosok dan Perjuangan (jilid 1 & 2). Sejumlah organisasi sosial dan kemasyarakatan turut ia sertai, di antaranya aktif di struktur Majelis Kerapatan Adat LAM-R Kabupaten Bengkalis, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bengkalis dan Anggota Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Bengkalis. Ia juga sering didaulat dalam memberikan materi pelatihan tentang tulis-menulis, serta menjadi juri menulis cerpen, puisi dan lomba bersyair.

 

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Tindaklanjuti Laporan Narkotika, Polisi di Bengkalis Diduga Diserang Pakai Parang

19 Sep 2026 - 20:09 WIB

Tindaklanjuti Laporan Narkotika, Polisi di Bengkalis Diduga Diserang Pakai Parang

Raja Zalim

19 Sep 2026 - 09:18 WIB

Raja Zalim

Polres Bengkalis Musnahkan 68,6 Kilogram Sabu, Selamatkan 343.546 Jiwa dari Ancaman Narkotika

17 Sep 2026 - 13:18 WIB

Polres Bengkalis Musnahkan 68,6 Kilogram Sabu, Selamatkan 343.546 Jiwa dari Ancaman Narkotika

Bacok Teman Pakai Parang Pelaku Diamankan Polisi

17 Sep 2026 - 13:15 WIB

Bacok Teman Pakai Parang Pelaku Diamankan Polisi

Ditpolairud Polda Riau Gelar Sambang Nusa dan Pustaka Terapung di Pulau Terluar Rupat Utara

17 Sep 2026 - 13:12 WIB

Ditpolairud Polda Riau Gelar Sambang Nusa dan Pustaka Terapung di Pulau Terluar Rupat Utara
Trending di Bengkalis