Cerpen Mutiara Sri Wulandari
“Ibu, kata mereka Bapak mati.”
Samar. Mataku menyipit melihat sekolompok kepala di hadapanku. Saat penglihatanku mulai jernih, aku jadi tahu, mereka adalah warga kampung yang sedang menatapku dengan mata sendunya. Kepalaku berdenyut tatkala suara gadis kecil kembali terngiang di telingaku.
“Ibu, kata mereka Bapak mati.”
“Ibu, kata mereka Bapak mati.”
“Ibu, kata mereka Bapak mati.”
Denyut, semakin berdenyut, suara itu semakin melengking.
“Mas Bintang?”
Sekelompok wanita tua di dekatku mulai memelukku. Mereka mengusap dadaku sambil berkata, “Sabar, Nun.”
Aku tak mengerti, mengapa orang-orang ini berada di rumahku. Aku hanya seorang istri yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Kini aku harus beranjak menemani suamiku makan di dapur. Jika tidak segera, aku akan menjadi istri durhaka.
“Ibu,” suara yang sama seperti mimpi burukku. Seorang gadis kecil menghampiri sembari menggenggam tanganku lembut. Ia Larasati, anakku satu-satunya dengan Mas Bintang. Umurnya masih 4 tahun, kesukaanya mengepang dua rambutnya sendiri di depan cermin. Tak jarang kepangannya berantakan dan tak seimbang.
Laras menarik tanganku lembut menuju halaman rumah, untuk gadis satu ini, aku takkan menolak. Sebentar saja ku tinggal Mas Bintang makan malam sendiri di dapur, ini juga demi anak tersayangnya.
Dengan senyuman aku mengikuti langkah Laras hingga tiba di halaman rumahku yang hanya berukuran tiga langkah orang dewasa. Di sana terlihat gundukan daun pisang. “Itu apa Laras?”
tanyaku kepada Laras yang setiap hari selalu mempunyai ide untuk membuat mainannya sendiri, entah itu dari ranting, dedaunan atau lumpur jika hujan. Ia selalu bangga menunjukkan mainan hasil tangannya kepadaku. Namun mainan satu ini terlihat buruk dan busuk. “Kamu campur dengan apa? Kenapa baunya anyir?”
Laras melangkah mendekati mainannya itu, perlahan ia singkap daun pisang hingga membuat mataku membelalak. Ada seseorang terbaring di sana dengan cairan merah membasahi tubuh. Aku terdiam, melihat lebih dekat dan mengernyit. Tanpa ku sadari, kepala ku berbalik menatap rumah. Segerombolan warga kampung tadi membelah barisan hingga menunjukkian foto pernikahanku dengan Mas Bintang lima tahun yang lalu yang terpaku di dinding rumah. Aku kembali melirik seseorang yang terbujur dengan daun pisang itu, kembali melirik foto pernikahan, kembali lagi melirik seseorang yang terbujur itu.
Nyaring, suara berisik itu datang memenuhi telingaku hingga tanpa sadar membuatku terjatuh.
Salah satu nenek tua mendekat, lagi-lagi mereka berkata, “Sabar, Nun.”
Kenapa? Itu tidak berguna. “Aku harus menemani suamiku makan.” Aku berdiri cepat. Berlari menuju dapur untuk melihat suamiku memakan lahap masakanku. Namun saat aku tiba di dapur, ia tak ada. Aku berlari menuju bilik yang menjadi satu-satunya di rumah. Aku yakin, Mas Bintang marah karena tak kunjung ku temani makan. Namun, tetap saja ia tidak ada. Kepalaku kembali berisik.
Kakiku melangkah lebih cepat menuju Laras yang masih berdiri di depan sembari melihatku.
“Bapak di mana, Nak?”
Laras mengangkat tangannya menunjuk lelaki yang sedang terbujur di hadapanku. “Kata mereka itu Bapak, Bu.”
Tenggorakanku tiba-ba tercekat, keringat dingin mulai mengendalikan tubuhku. Aku melotot menatap Laras. “Itu bukan Bapak!” bentakku untuk pertama kalinya kepada Anakku.
Aku mundur lalu berlari kembali menuju dapur, suamiku benar-benar tidak ada di sana. Setelahnya kakiku kembali menuju halaman, menatap lelaki bau anyir yang terbaring itu. Aku menggeleng, kembali berlari ke dapur, kembali melihat lelaki itu, kembali berlari menuju dapur, kembali melihat lelaki itu. Hingga saat aku berlari ke halaman lagi, aku tersungkur tepat di hadapan lelaki itu. Aku mendongakkan kepala, melihat dengan jelas lelaki yang dari atas kepala hingga kaki berlumur cairan merah. Aku menggeleng, kepalaku kembali berdenyut. Hingga pandanganku kelam.
Tiga tahun yang lalu, itulah tragedi mengenaskan yang ku alami. Mas Bintang, suamiku tersayang, memberanikan diri melawan aparat yang dibayar untuk merebut tanah ulayat kampung sebelah. Mas Bintang sungguh muak mendengar berita para aparat itu yang tak kunjung menyerah datang ke kampung sebelah. Hingga saat hari itu, suamiku yang memiliki keberanian kuat, memilih ikut andil dalam membela hak warga. Namun, tak seperti biasanya, aparat yang biasanya hanya berteriak dan mengancam, saat itu dengan berani mengangkat senjatanya. Kampung sebelah rusuh, aparat yang menggenggam senjata tembak, dan warga yang menggenggam ranting pohon sekitar lahan. Tentu saja warga yang runtuh. Para aparat itu bersih tanpa noda, dan sebagian warga mendapat luka. Termasuk suamiku, lelaki yang menyebabkan para aparat hilang kendali karena perkataannya yang lantang. Mas Bintanglah, satu-satunya yang berjuang hingga nyawa terenggut. Karena memang, aparat itu hanya mengincar Mas Bintang. Sejak hari itu, suamiku mendapat julukan pahlawan kampung sebelah. Sebab pengorbanannya yang membuat para aparat itu tidak menginjakkan kaki lagi di kampung itu.
Namun, bagiku julukan itu tak penting. Saat ini aku hanya menginginkan suamiku.
Aku tertawa hambar, kaki tanpa selop menginjak tanah yang lembab. Berjalan di tengah hutan yang dipenuhi pohon jernang. Ditemani oleh bintang-bintang di langit yang ku yakini salah satu Bintang itu adalah suamiku tersayang yang sedang menjagaku dari atas.
Setiap malam aku selalu mengelilingi tanah ulayat kampungku ini, semenjak mendapat kabar bahwa aparat durhaka itu akan kembali datang dan saat ini mengincar kampungku sendiri. Aku setiap malam selalu berjaga, sampai tengah malam tiba, aku pulang. Karena ku yakin, aparat itu tidak memiliki energi yang kuat sepertiku untuk berjaga hingga larut malam.
Ketika kakiku yang kotor memasuki rumah, aku merasa sepi. Ku ingin lelahku disambut dengan belaian lembut dari Mas Bintang. Namun nyatanya, harapan itu tidak mungkin hadir jika Mas Bintang masih hidup.
Larasati anakku telah terlelap setiap aku tiba di rumah, wajar saja, anak umur tujuh tahun mana yang sanggup terjaga di rumah sendiri hingga larut malam. Aku membelai rambut Laras yang sudah mulai panjang. Ia masih suka mengepang dua rambunya dengan asal. Ya, walaupun sekarang sudah mulai lebih baik, namun bagiku kepangan rambut yang ia buat secara mandiri itu masih remedial.
Tanganku bergerak melepas ikatan rambut anakku, tujuannya agar di pagi hari tidak sakit kepala, namun sayangnya hal itu membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. “Ibu sudah pulang.” Ucapnya membelai tanganku menuju pipinya.
“Lanjut tidur saja, Sayang. Maaf membuatmu terjaga.” Ujarku masih membelai rambutnya.
“Tidak apa, Ibu.” Laras tersenyum lalu duduk memeluk gulingnya. Matanya terlihat segar, melihat itu aku memutuskan tidak memaksanya untuk lanjut tidur.
Aku berdiri, berniat melakukan sesuatu yang sudah menjadi ritualku setiap malam. Mangkuk ku ambil di dapur, lalu ku tuang cairan merah kental yang selalu disebut Laras sebagai cat.
Aku masuk ke bilik, ku lepas busanaku dan ku oles cat itu ke tubuh. Sebagian wajah, Sebagian tangan, Sebagian punggung, dan anggota tubuh lainnya. Cairan ini sudah menjadi sesuatu yang ku cintai. Bagiku, cairan ini harus terus melekat di tubuhku, menyatu, walau esok hari akan hilang saat aku mandi.
Ritual tengah malam ini sangat dikritik oleh anakku. Ia seolah membenci diriku ketika aku melakukannya, sebab bau busuk, dan terlihat aneh.
“Lagi, Bu?” Laras menutup hidung. Bau cairan ini cukup membuat hidung tak nyaman bila terhirup. Terlebih Laras yang selalu tidur bersamaku. Walaupun, akhir-akhir ini aku selalu tidur di lantai agar Laras tidak terganggu dengan aromanya.
“Sampaikan Ibu gambar-gambar tubuh Ibu? Laras tidak suka, busuk.” Laras menyeret tubuhnya hingga tersudut ke dinding, berharap agar baunya tak terlalu menyengat namun tetap saja, bau itu sudah menyebar ke seluruh sudut bilik. “Dan Ibu mirip seperti Bapak saat Laras lihat terakhir kali.”
Mangkuk terjatuh dan pecah membuat Laras tersentak. Aku menatap anakku dari balik cermin. “Lanjut tidur, besok hari pertama kamu masuk sekolah dasar.” Gumamku pelan lalu mematikan lampu kamar.
Esok hari, aku bangun lebih awal. Membersihkan tubuhku di sumur belakang rumah. Tetesan air terguyur bersamaan dengan tetesan air mataku. Mengenang kembali kematian Mas Bintang. Air merah mengalir sebab cat di tubuhku. Kejadian ini persis sekali ketika darah dari tubuh Mas Bintang ikut larut bersama air mandi saat proses pembersihan jenazahnya. Aku terduduk di sumur, menatap aliran merah yang masih mengalir. Cukup lama, hingga teriakan Laras membuatku tersadar.
“Ibu cepat nanti Laras terlambat sekolah!”
Aku dengan cepat membersihkan tubuhku. Harus menyambut dengan gembira hari pertama anakku masuk ke sekolah dasar.
Pagi ini memang cerah. Alam menyambut anakku yang akan menuntut ilmu untuk pertama kali. Tanpa peran ayah seperti anak-anak lain yang ku lihat ditemani oleh kedua orang tuanya. Laras anak yang pintar, ia memnintaku untuk pulang karena harus mencari nafkah di kebun jernang bersama warga kampung lainnya. Melihat keberaniannya yang tak harus ditemani, aku yakin dan memutuskan untuk pulang. Jika aku tidak kembali dan bekerja, bagaimana aku bisa membeli buku dan mengganti kaos kaki Laras yang akan bolong nantinya.
Suara berisik terdengar saat aku mulai masuk ke kampungku, di sana terlihat segerombolan tetanggaku yang sedang berdiskusi. Ada yang tenang, ada yang menangis, bahkan ada yang urat lehernya ingin melepas diri keluar sebab amarahnya. Aku mendekat, ikut bergabung, dan mendengar.
“Kita harus lawan!”
“Jangan, Pak. Kita tidak punya kuasa yang kuat untuk melawa.”
“Lalu bagaimana? Diam saja dan menyerahkan tanah pusaka kita kepada mereka?” “Tenang, tenang. Kita bisa berpikir dengan kepala jernih.”
“Berpikir sampai kapan? Waktu kita tinggal satu pekan lagi!”
“Satu pekan lagi?” pertanyaanku mampu membuat warga itu terdiam. Mereka tak menyadari kedatanganku sebab pening yang menyelimuti kepala. “Mereka akan datang satu pekan lagi?” tanyaku kembali.
“Ya, mereka akan datang menggusur tanah pusaka kampung ini seperti kejadian tiga tahun lalu di kampung sebelah,” jawab seorang lelaki paruh baya yang paling menunjukkan amarahnya sedari tadi.
“Kita harus lawan,” ucapku dengan tenang namun lantang. Sebagian warga menggeleng tak terima, mereka takut jika terjadi pertumpahan darah lagi. Namun, Sebagian warga tersenyum sebab mendapat dukungan dari seseorang yang cukup disegani beberapa kampung. Ya, semenjak suamiku berkorban dan berhasil membatalkan penggusuran kampung sebelah, warga sekitar merasa bahwa aku adalah istri seorang pahlawan yang harus disegani.
“Itu berbahaya, Ainun. Kita tidak punya senjata setara dengan mereka,” ucap salah satu warga yang ketakutan.
“Kita buat senjata itu,” jawabku.
“Bagaimana jika ada korban lagi? Jangan sampai ada yang kehilangan keluarga tersayangnya lagi karena menjadi korban seperti kamu kehilangan suamimu.”
“Jangan sampai ada korban. Toh saat kita melawan mereka kabur, kan? Kampung sebelah digusur? Sampai sekarang mereka aman. Jangan hantui pikiran dengan ketakutan yang tidak penting itu.”
Sekelompok warga pemberani berteriak. “Kita akan lawan kelompok aparat itu!” Aku beranjak dari sana. “Mereka bukan kelompok aparat, tapi kelompok kaparat.”
Malam yang sunyi, aku kembali berjalan di tengah kebun jernang. Bersama angin semilir yang malam ini menusuk ke bagian tubuhku. Ku sentuh pohon itu, pohon yang menghidupi warga kampung ini.
Aku menatap Bintang yang mala ini hanya tunggal di langit. Itu pasti suamiku, malam ini aku hanya ditemani oleh dirinya saja. Aku termenung sambil mendongak ke langit. “Suamiku, pahlawan kampung. Hari itu akan terjadi lagi. Sanggupkah aku melawannya?”
Pipiku terasa panas saat tetesan air dari mataku mengalir. Apa salah nenek moyang masyarakat kecil kepada sekelompok penguasa hingga membuat mereka seperti tak memiliki bagian lembut di sisi hatinya. Kenapa harus warga kecil yang membayar keinginan warga besar besar itu?
Aku mengusap kuat wajahku. Setelahnya aku beranjak dari sana, menggenggam sebungkus cairan merah yang sudah ku dapati malam ini yang ditemani rasa sakit dan air mata.
Ketika masuk ke bilik, aku melihat Laras sedang sibuk mengepang rambutnya. Dia sangat fokus dan teliti hingga membuatnya tak menyadari kehadiranku.
“Kenapa belum tidur?” tanyaku pelan namun membuatnya tersentak kaget.
Gadis kecil itu cengengesan. “Sebentar lagi, Ibu. Laras harus belajar kepang, soalnya tadi temen bilang kepang Laras jelek.”
Aku tertawa mendengarnya. “Besok biar Ibu yang kepang, ya.” Aku mulai melepas bajuku. Melakukan ritual seperti biasanya yang tak disukai anakku itu. Mengambil alih cermin dari Laras hingga membuatnya kesal. Namun ia tak bisa melawan sebab tak tahan dengan bau cat yang mulai ku poles ke tubuhku.
“Ibu, itu darah, kan. Busuk.”
“Siapa yang memberitahumu ini darah?” “Temanku saat aku menceritakan Ibu.”
Aku terdiam mendengar ucapan Laras. Setelahnya ku letak cairan itu dan tidur di ruang tamu. Meninggalkan Laras sendiri di kamarnya.
Hari itu tiba, hari perlawanan antara kami warga kecil dan aparat yang dibayar itu. Ini pertama kalinya, tak ku sangka, hari pertama mereka datang langsung menyodorkan senjata ke hadapan kami. Seluruh warga riuh membela diri.
“Tanah ini pusaka kami. Anda tidak ada hak mengambilnya!”
Riuh, kepalaku berdenyut mendengarnya. Inilah yang dirasakan Mas Bintang dahulu, ternyata aku tidak cukup kuat melihatnya.
“Pindah demi keselamatan atau sakit karena gusuran?” Ucap aparat keparat itu di hadapanku.
Tanganku menggepal kuat mendengar ucapan lantang aparat itu. Dengan keberanian yang mulai muncul, aku maju di hadapan mereka. Berteriak di depan wajahnya. “DASAR KAPARAT!”
DOR!!!
Buku ditutup. Seorang wanita yang usianya sudah masuk kepala tiga beranjak dari kasurnya. Meletak buku yang baru selesai ia baca di atas nakas. Wanita itu berdiri memandang sudut kota. Berbagai kendaraan lalu lalang dengan rapi. Itu cukup indah jika dilihat dari Gedung lantai dua puluh saat ini. Indah, namun menyakitkan jika diingat.
Setelah diam termenung di sana ia berdiri menatap dua foto pada dinding. Seorang lelaki dan seorang wanita. “Ibu, Bapak. Bagaimana kabar kalian di sana? Laras rindu.”
Tangan dingin itu terangkat mengusap kedua foto itu. Kemudian mengambil buku jurnal yang baru saja ia baca. “Laras baru saja selesai membaca buku jurnal Ibu. Ini bukan bukan jurnal, Bu, tapi kisah kedua pahlawan yang Laras sayangi.” Laras mengusap titikan air mata yang mulai turun. “Bapak keren, ya. Berhasil membatalkan penggusuran di kampung sebelah. Ibu juga, tapi, Bu, pengorbanan Ibu gagal membuat mereka berhenti. Tapi, Bu, Laras masih setia dengan kampung ini. Laras masih di sini, tinggal di tempat yang sama, kampung yang sama, walau pemandangannya sudah tak sama. Dulu hijau, kini banyak warna.”Suara bell berbunyi membuat wanita itu berhenti berbicara sendiri. Ia membuka pintu.
“Paket getah jernang atas nama Laras?”
“Ya, benar.” Laras tersenyum hampa melihat bungkusan berisi cairan merah itu. Wanita itu berjalan mendekati cermin dan membuka seluruh pakaiannya. Tanpa busana, ia mulai mengoles getah jernang itu ke tubuhnya. “Kata Ibu. Ini hal berharga yang harus melekat pada diri.” Gumamnya. Tangannya menari indah mengoles getah jernang itu.
Suara pintu terbuka terdengar. Seorang gadis kecil keluar dari balik toilet.
“Ibu, kenapa Ibu gambar-gambar tubuh Ibu?”
-SELESAI-
Pekanbaru, 4 Juli 2026.
Mutiara Sri Wulandari adalah mahasiswa Program Studi Sastra Indonesia, FIB UNILAK








