RiauKepri.com, PEKANBARU— Demi memastikan warisan leluhur Melayu Riau tetap dikenal lintas generasi dan menembus panggung internasional, sejumlah tokoh masyarakat Riau mendatangi Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi kelembagaan. Mereka membawa misi memperkuat promosi budaya Melayu Riau, memperjuangkan pengusulan Tari Zapin sebagai warisan budaya takbenda dunia melalui UNESCO, serta mempersiapkan Festival Makanan dan Budaya Melayu Riau di Jakarta pada April 2027.
Delegasi yang terdiri dari Majelis Kerapatan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Yayasan Melayu Nusantara (YMN), Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Riau, dan Ikatan Alumni Universitas Riau Jabodetabek itu berupaya membangun dukungan pemerintah agar kekayaan budaya Melayu mendapat ruang lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.
Di Kementerian Kebudayaan RI, rombongan diterima Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T. D. Retnoastuti. Ia menyambut positif inisiatif masyarakat Riau dan menyatakan kesiapan mendukung fasilitasi serta promosi festival budaya dan gastronomi Melayu.
Dalam pertemuan tersebut, Ketum MKA LAMR Datuk Seri H. R. Marjohan Yusuf, menegaskan bahwa budaya Melayu tidak hanya berbicara tentang suku atau etnis, tetapi juga tentang karakter dan perilaku yang menjunjung kesantunan serta kerendahan hati tanpa kehilangan marwah.
Menurutnya, nilai-nilai Islami, adat istiadat, dan kearifan lokal yang hidup dalam budaya Melayu perlu terus dilestarikan, diwariskan kepada generasi penerus, serta diperkenalkan kepada masyarakat dunia.
Kepedulian serupa disampaikan Ketua Umum BKOW Provinsi Riau, Hj. Adrias Hariyanto. Ia menjelaskan, kekayaan Melayu Riau bukan hanya Tari Zapin yang memiliki ciri khas di setiap kabupaten, tetapi juga kuliner, songket, batik, dan beragam tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Ketua Pembina Yayasan Melayu Nusantara, Erizal Muluk, turut menegaskan pentingnya menjaga dan mempromosikan budaya Melayu, termasuk bagi masyarakat Riau yang menetap di perantauan.
Misi tersebut kemudian berlanjut ke Kementerian Luar Negeri RI. Dalam pertemuan bersama Direktur Ricky Eka Virgana Ichsan dan Direktur Ary Aprianto, delegasi memperoleh penjelasan mengenai proses pengajuan Tari Zapin sebagai warisan budaya takbenda dunia yang melibatkan empat negara, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Pengajuan nominasi melalui UNESCO itu diharapkan berlangsung pada Maret 2027. Proses tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam upaya memperkenalkan Tari Zapin kepada masyarakat internasional sekaligus menjaga keberlanjutan tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Selain diplomasi budaya, delegasi juga membahas rencana Festival Makanan dan Budaya Melayu Riau di Jakarta pada April 2027. Ketua IKA Universitas Riau Jabodetabek, Agustaviano Sofjan, menyambut baik dukungan kementerian dan berbagai unsur masyarakat untuk menyukseskan kegiatan tersebut.
Festival itu dirancang sebagai ruang untuk memperkenalkan kuliner, seni pertunjukan, busana, dan tradisi Melayu Riau kepada masyarakat yang lebih luas, sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan komunitas budaya dan pelaku usaha.
Bagi para tokoh dan masyarakat Riau yang terlibat, perjuangan memperkenalkan budaya Melayu tidak berhenti pada upaya mendapatkan pengakuan internasional. Lebih penting lagi, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan dipahami generasi penerus.
Melalui pertemuan dengan jajaran kementerian dan diplomasi Indonesia tersebut, mereka berharap budaya Melayu Riau semakin dikenal dunia tanpa kehilangan akar tradisi, kesantunan, dan marwah yang diwariskan para leluhur. (RK1/*)








