Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Tanjungpinang

Makyong Kepri Menuju Pengakuan UNESCO

badge-check

Makyong Kepri Menuju Pengakuan UNESCO Perbesar

RiauKepri.com, TANJUNGPINANG — Kesenian tradisional Makyong Kepulauan Riau (Kepri) tengah menapaki jalan menuju pengakuan dunia. Namun, di balik proses pengusulannya sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO (Intangible Cultural Heritage/ICH), tantangan menjaga keaslian tradisi dan memperkuat peran komunitas pewaris masih menjadi pekerjaan penting.

Untuk melengkapi data pengusulan tersebut, rombongan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Pusat yang terdiri atas Pudentia MPSS, Kenedy Nurham, dan Zulkarnain hadir di Tanjungpinang, Kamis (22/10/2026). Salah satu agenda mereka adalah melengkapi dokumentasi film tentang Makyong di Kepulauan Riau.

Usulan tersebut dijadwalkan dibahas dalam sidang UNESCO di Xiamen, Tiongkok, pada awal Desember mendatang. Dokumentasi itu diharapkan mampu menggambarkan perjalanan, keberadaan, serta kehidupan Makyong di tengah masyarakat Melayu Kepulauan Riau.

Sebelum melanjutkan proses dokumentasi, rombongan ATL Pusat menggelar diskusi kelompok terpumpun (focus group discussion/FGD) bersama pengurus ATL Kepri dan Pamong Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPKeb) Wilayah IV Kepulauan Riau.

Dari ATL Kepri hadir Ketua I Zulkifli Harto, Sekretaris Syafaruddin, dan Bendahara Anita Susanti. Sementara itu, BPKeb Wilayah IV diwakili Kepala Balai Jumhari bersama Sita Rohana, Hendri, serta sejumlah staf.

Pertemuan tersebut membahas perjalanan panjang Makyong, upaya revitalisasi, serta tantangan pelestarian kesenian tradisional yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Melayu itu.

Dalam diskusi tersebut, Pudentia MPSS memaparkan perjalanan revitalisasi Makyong, mulai dari upaya yang dilakukan Dewan Kesenian Jakarta pada 1981 hingga revitalisasi berikutnya oleh ATL Jakarta pada periode 1991–1993.

Penelusuran sejarah ini menjadi bagian penting dalam melengkapi dokumentasi pengusulan Makyong ke UNESCO. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan tradisi tidak terlepas dari kerja panjang para pelaku seni, komunitas pendukung, dan pemerhati kebudayaan.

Pudentia menekankan pentingnya melihat perjalanan Makyong secara utuh, termasuk berbagai upaya yang telah dilakukan untuk menyelamatkan dan mempertahankan kesenian tersebut.

“Revitalisasi Makyong telah melalui perjalanan panjang, mulai dari upaya Dewan Kesenian Jakarta pada 1981 hingga revitalisasi oleh ATL Jakarta pada 1991–1993,” demikian inti pemaparan Pudentia dalam diskusi tersebut.

Proses pengusulan ke UNESCO, dengan demikian, bukan hanya tentang mendapatkan pengakuan internasional, tetapi juga mendokumentasikan sejarah dan memperkuat upaya pewarisan tradisi kepada generasi berikutnya.

Tantangan pelestarian Makyong juga mengemuka dalam diskusi tersebut. Ketua I ATL Kepri, Zulkifli Harto, menyampaikan bahwa kesenian ini masih menghadapi kesulitan untuk dikembangkan di luar komunitas yang selama ini menjadi tempat tumbuh dan bertahannya tradisi tersebut.

“Makyong sampai sekarang masih sulit dikembangkan di luar komunitas yang selama ini menjadi tempat tumbuh dan bertahannya kesenian ini,” demikian pernyataan Zulkifli.

Persoalan tersebut mendapat tanggapan dari Pudentia. Menurut dia, pengembangan Makyong di luar komunitas asalnya perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menghilangkan nilai dan karakter tradisi.

“Pengembangan Makyong di luar komunitasnya harus dilakukan dengan cermat. Jangan sampai pengembangan yang tidak terkendali justru menghilangkan nilai, aturan, dan ciri khas Makyong itu sendiri,” ungkap Pudentia.

Pandangan tersebut menegaskan bahwa pelestarian tidak cukup diukur dari seberapa sering Makyong dipentaskan atau seberapa luas kesenian itu dikenal. Penghormatan terhadap pengetahuan tradisional, tata cara, serta komunitas pewaris juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungannya.

Di sisi lain, ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mempelajari Makyong tetap perlu dibuka. Tantangannya adalah memperluas pengenalan tanpa memutus hubungan kesenian tersebut dengan akar tradisi dan masyarakat pendukungnya.

Kepala BPKeb Wilayah IV Kepulauan Riau, Jumhari, menyampaikan komitmen lembaganya untuk terus bersinergi dengan ATL dalam membangun kebudayaan di Kepulauan Riau.

“BPKeb Wilayah IV Kepulauan Riau berkomitmen untuk terus berjalan bersama ATL dalam membangun kebudayaan di daerah ini,” kata Jumhari.

Ia juga menaruh perhatian terhadap upaya memperluas pengembangan tradisi lisan melalui kegiatan seminar dan lokakarya. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat sekaligus mendorong keberlanjutan tradisi budaya di daerah.

Menurut Jumhari, pengembangan Makyong perlu didukung keterlibatan komunitas dan para maestro yang memiliki pengetahuan langsung mengenai kesenian tersebut.

“Kami akan terus mendorong kolaborasi melalui berbagai kegiatan, seperti seminar dan lokakarya, untuk memperkuat pengembangan tradisi lisan di Kepulauan Riau,” demikian komitmennya.

Keterbukaan para maestro dalam berbagi pengetahuan menjadi salah satu unsur penting dalam proses pewarisan. Namun, pengembangan itu tetap harus memperhatikan nilai dan tata cara yang berlaku agar Makyong tidak kehilangan jati dirinya.

Bagi masyarakat Kepulauan Riau, Makyong bukan sekadar seni pertunjukan. Di dalamnya tersimpan ingatan sejarah, pengetahuan tradisional, nilai kehidupan, serta identitas masyarakat Melayu yang diwariskan lintas generasi.

Karena itu, peluang memperoleh pengakuan UNESCO membawa harapan sekaligus tanggung jawab. Pengakuan internasional dapat memperluas perhatian terhadap Makyong, tetapi keberlangsungan tradisi tetap bergantung pada upaya nyata untuk menjaga dan mewariskannya.
Pelestarian perlu dilakukan secara konsisten melalui dokumentasi, pembinaan pelaku seni, pewarisan pengetahuan, dan penguatan komunitas pendukung. Dukungan pemerintah serta lembaga kebudayaan juga harus berlanjut setelah proses pengusulan selesai.

Jangan sampai Makyong mendapat perhatian besar ketika hendak memperoleh pengakuan dunia, tetapi kembali menghadapi persoalan yang sama setelah sorotan mereda.

Rangkaian kegiatan di Bintan ditutup dengan menyaksikan pementasan Makyong Keke dari Kijang, Kabupaten Bintan, Sabtu (24/10/2026). Pergelaran tersebut berlangsung di Pantai Mutiara Hotel, kawasan Trikora, Kabupaten Bintan.

Pementasan ini menjadi kesempatan untuk menyaksikan secara langsung kehidupan Makyong di tengah komunitas pendukungnya. Di atas panggung, tradisi tersebut tidak hanya menjadi objek dokumentasi, tetapi juga hadir sebagai kesenian yang terus dimainkan dan diwariskan.

Kehadiran Makyong Keke sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian harus berangkat dari kehidupan nyata para pelaku dan komunitasnya. Dokumentasi serta pengusulan ke UNESCO penting, tetapi keduanya harus berjalan beriringan dengan keberlanjutan pertunjukan dan pewarisan pengetahuan kepada generasi muda.

Langkah Makyong Kepulauan Riau menuju UNESCO pun menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya tersebut. Sebab, warisan budaya yang bernilai bukan hanya yang memperoleh pengakuan dunia, melainkan juga yang tetap hidup di tengah masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (*)

 

Sumber: Syafaruddin

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

PT TIMAH Gandeng Kejaksaan Tinggi Kepri, Perkuat Kepastian Hukum dan Perlindungan Aset di Kepulauan Riau

27 Okt 2026 - 06:23 WIB

PT TIMAH Gandeng Kejaksaan Tinggi Kepri, Perkuat Kepastian Hukum dan Perlindungan Aset di Kepulauan Riau

Video Razia Perut Lapar Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas Jelang Ops Patuh Seligi 2026

26 Okt 2026 - 08:08 WIB

Video Razia Perut Lapar Edukasi Keselamatan Berlalu Lintas Jelang Ops Patuh Seligi 2026

Kakanwil Ditjen Imigrasi Kepri Guntur Hamonangan Tinjau MPP Tanjungpinang dan KEK Kijang, Pastikan Optimalisasi Layanan Beranda Imigrasi

22 Okt 2026 - 15:10 WIB

Kakanwil Ditjen Imigrasi Kepri Guntur Hamonangan Tinjau MPP Tanjungpinang dan KEK Kijang, Pastikan Optimalisasi Layanan Beranda Imigrasi

Gubernur Ansar Ahmad Jamu PWI Kepri Makan Malam di Pulau Penyengat

20 Okt 2026 - 08:58 WIB

Gubernur Ansar Ahmad Jamu PWI Kepri Makan Malam di Pulau Penyengat

PWI Kepri Hadiahi Gubernur Ansar Ahmad Tanjak Istimewa

20 Okt 2026 - 08:54 WIB

PWI Kepri Hadiahi Gubernur Ansar Ahmad Tanjak Istimewa
Trending di Tanjungpinang