Menu

Otomatis
Breaking News

Riau

Menampi Dedap

badge-check

Pulau Dedap. (Foto: net) Perbesar

Pulau Dedap. (Foto: net)

SEORANG kawan bercerita, di kampung halamannya ada rencana mau mengubah nama Kampung Dedap. Katanya, sebab di belakang nama itu melekat perkataan Durhaka. Konon, tersebab itulah kampung tak maju-maju. Aduhai, Wak… kalau begitu, banyak betol lah kampung di dunia ini patut ditukar nama jadi Kampung Berkat Sepanjang Zaman, biar rezeki turun macam hujan lebat bulan Desember.

Syukurlah hal itu belum terjadi. Kalau sampai nama ditukar, bukan setakat papan tanda yang berubah, sejarah pun turut kita buang ke laut. Padahal, bila sejarah lesap, identitas pun ikut hanyut, tinggal manusia tanpa asal-usul, macam ikan lupa air: mengelepo.

Hikayat Dedap Durhaka ini bukan cerita picisan. Ia kisah klasik Melayu: anak nelayan merantau, pulang bergaya. Dulu pakai kasut getah, balik kampung bersepatu kulit. Dulu makan ikan masin, balik kampung bawa isteri cantik, anak saudagar pula. Malangnya, bila orangtua datang mendekati kapal, si Dedap buat muka orang lain tengok hutang, langsung tak kenal.

Orangtua mana tak hancur hati, Wak. Maka disumpahlah Dedap hingga tenggelam bersama kapalnya, dan menjadi pulau. Tapi yang menariknya, cerita ini tak berhenti di situ. Ibunya mau memaafkan, ayahnya keras hati. Akhirnya, kedua-duanya pun dihukum jadi pokok mempelam: satu condong ke laut, buahnya manis, tanda kasih tak putus; satu lagi condong ke darat, buahnya masam, tanda dendam tak terlerai. Orang Melayu lama ni, Wak, marah pun masih puitis.

Di sinilah cantiknya hikayat Dedap Durhaka. Ia bukan sekadar cerita anak derhaka kena balasan. Ia cerita lengkap, ada pesan agama, moral, hukum pun terselit kemas.

Serupa pula dengan Gurindam 12 Raja Ali Haji, Pasal 7 dan 10. Anak tak dilatih kecil-kecil, bila besar bapak juga yang letih. Anak tak dijaga elok-elok, jangan heran bila dewasa dia lupa asal-usul, lupa siapa yang menggendongnya waktu belum pandai berjalan.

Tapi jangan pula kita pura-pura suci, Wak. Gurindam itu sendiri memberi isyarat: kalau anak jadi begitu, orang tua pun ada bagian salahnya. Pendidik utama itu bukan sekolah, bukan YouTube, bukan jiran sebelah, tapi ibu bapak di rumah. Walaupun tak ada orangtua yang sempurna, tanggungjawab tetap tak boleh ditolak ke tepi macam mentimun bungkuk.

Pembuat cerita Dedap Durhaka ini cukup bijak. Dia adil. Anak dihukum kerana durhaka, orang tuapun dihukum kerana gagal mendidik dan gagal memaafkan. Tidak seperti sesetengah cerita lain, anak saja kena hukum, orang tua sentiasa betul walau keras macam teras kayu bakau.

Jadi, Wak. Apa masih mau mengubah nama kampung itu? Kalau nama Dedap Durhaka pun kita tak sanggup terima, bagaimana pula kita nak terima kebenaran yang pahit? Jangan nanti nama kampung sudah ditukar, tapi perangai tak berubah, hingga yang durhaka bukan lagi Dedap, tapi kita yang durhaka pada sejarah sendiri. Makanya, mari kita menampi kisah Dedap Durhaka.

Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Pulang KPPD Lemhannas Langsung ke Lokasi Karhutla, Bupati Afni: Jaga Siak Zero Firespot!

13 Sep 2026 - 10:21 WIB

Pulang KPPD Lemhannas Langsung ke Lokasi Karhutla, Bupati Afni: Jaga Siak Zero Firespot!

Belum Ekpose Jadi Ketua DPD Nasdem Siak, Afni: Kita Urus Dulu Karhutla

13 Sep 2026 - 08:17 WIB

Belum Ekpose Jadi Ketua DPD Nasdem Siak, Afni: Kita Urus Dulu Karhutla

Polsek Rangsang Cek Lahan Jagung Pipil di Desa Kedabu Rapat, Dukung Ketahanan Pangan

12 Sep 2026 - 12:48 WIB

Polsek Rangsang Cek Lahan Jagung Pipil di Desa Kedabu Rapat, Dukung Ketahanan Pangan

Bhabinkamtibmas Cek Pertanian Hidroponik Warga di Alahair Timur, Dukung Ketahanan Pangan

12 Sep 2026 - 10:54 WIB

Bhabinkamtibmas Cek Pertanian Hidroponik Warga di Alahair Timur, Dukung Ketahanan Pangan

Awas Penyangak!

12 Sep 2026 - 08:49 WIB

Awas Penyangak!
Trending di Minda