SYAHDAN, Wak, entah sejak bila negeri ini pandai membuat paket. Hampir semua perkara boleh dipaketkan. Nasi pakai lauk, sudah paket. Kopi dengan goreng pisang, paket. Bahkan kalau hendak menjadi pemimpin mesti sepaket. Ada paket kepala daerah dengan wakil kepala daerah. Ada paket partai dengan calon. Ada pula paket pendukung dengan pendukung. Kalau boleh, mungkin nanti visi dan misi pun dibuat paket hemat: beli satu, dapat janji lima.
Tetapi jangan dikira memaketkan calon pemimpin itu perkara mudah. Tidak boleh asal masukkan kepala, lalu ikat dengan tali rafia. Ada tukang packing-nya. Orangnya mesti pandai menghitung tiga perkara, popularitas, elektabilitas dan akseptabilitas. Kalau tiga itu belum cukup, ditambah satu lagi: isitas.
Isitas apa? Entahlah, Wak. Yang penting ada bunyi-itas, supaya nampak ilmiah. Kadang-kadang sudah ada orang yang merasa dirinya calon kepala daerah. Merasa cukup terkenal, merasa cukup disukai, merasa cukup diterima. Tetapi ketika dibawa ke dapur partai, rupanya belum tentu masuk dalam daftar menu.
Sebab di sana ada pula soal paspol..Maka jangan heran kalau seseorang yang pagi tadi merasa dirinya calon, menjelang petang boleh berubah menjadi calon orang lain. Namanya tetap sama, mukanya tetap sama, tetapi paketnya sudah berbeda.
Begitulah adat negeri paket.
Sudah lengkap calon kepala daerah dan wakilnya, paket itu dibawa pula ke KPU. Soal pendidikan jangan terlalu risau. Ada paket A, paket B, paket C dan seterusnya..Yang penting paketnya sah.
Tetapi awas, Wak! Ada pula paket palsu.
Kalau yang palsu itu terbongkar, bukan cuma paket yang dibuka. Satu kampung boleh dibuat aghuk!
Makanya, dalam perkara ijazah, jangan main-main. Sebab kalau paket barang palsu masih boleh dikembalikan kepada kurir. Kalau paket ijazah palsu, alamatnya bukan lagi rumah, tetapi bisa masuk berita dan berurusan dengan hukum.
Akan tetapi, ada satu perkara yang lebih lucu lagi. Di negeri ini, orang hendak melamar pekerjaan harus membawa ijazah. Hendak menjadi pegawai, ada syarat pendidikan. Hendak naik pangkat, ada pula syarat ini dan itu. Tetapi untuk menjadi pemimpin, kadang-kadang yang paling sibuk justru bukan soal kepandaian. Yang penting nampak pandai. Bukan mesti bermoral, asal pandai bercakap tentang moral.
Bukan mesti dekat dengan rakyat, asal pandai berfoto dengan rakyat. Bukan mesti peduli, asal pandai mengatakan, “Saya sangat peduli.” Kalau perlu, turun ke pasar sambil membeli dua ekor ikan, lalu kamera menangkap gambar. Ikan pulang ke dapur, gambar pulang ke media sosial.
Begitulah teknologi paket bekerja. Dan ada satu ilmu lagi yang paling penting bagi calon pemimpin: pandai membengak.
Membengak ini bukan sekadar bercakap panjang. Ia kadang-kadang menjadi tameng. Kalau keburukan datang dari kiri, bengak dari kanan. Kalau pertanyaan tajam datang dari depan, bengak ke belakang. Lama-lama orang lupa apa yang ditanya. Yang penting suara sudah terdengar.
Padahal orang Melayu dari dahulu sudah mengajarkan, cakap itu beralas, melangkah itu beradat. Sebab pemimpin bukan dinilai dari panjang lidahnya, tetapi dari panjang akalnya. Bukan dari tebal baliho, tetapi dari tebal amanahnya.
Ironinya lagi, Wak, sejak pemimpin negeri ini mesti satu paket, setiap rumah pula semakin sering didatangi tukang paket. “Paket!”
Dengar suara itu, istri segera keluar. Suami yang sedang duduk di ruang tamu mulai gelisah. Sebab paket ini tidak mengenal popularitas. Tidak mengenal elektabilitas.
Tidak pula peduli akseptabilitas. Dia cuma punya satu ukuran: isitas.
Kalau isitas ada, paket datang. Kalau isitas kosong, tukang paket pun boleh berpura-pura tidak kenal alamat. Maka jangan heran kalau kadang-kadang baru tanggal muda, dompet sudah terasa tanggal tua.
Itulah Negeri Paket, Wak. Pemimpin dipaketkan. Calon dipaketkan. Janji dipaketkan. Bahkan kepedulian pun boleh dipaketkan. Tetapi dalam tunjuk ajar Melayu, pemimpin yang baik tidak pernah cukup hanya dengan paket.
Orang tua-tua mengajar, pilihlah pemimpin kerana laku dan budi bahasanya, elok budi dan perangainya, santun lidahnya. Adil tangannya, amanah memegang janji. Bertanggung jawab ketika diberi kepercayaan. Tahu diri, tahu adat dan tahu hukum. Tahu mana hak rakyat dan mana hak dirinya. Ikhlas hatinya. Lapang dadanya.
Yang paling penting, kepentingan orang banyak diletakkannya lebih tinggi daripada kepentingan diri sendiri. Sebab pemimpin itu bukan barang kiriman yang cukup diperiksa alamatnya. Pemimpin adalah amanah yang dititipkan rakyat.
Paket boleh dibungkus dengan kertas paling cantik, boleh diberi pita paling mengkilat, boleh ditempeli tulisan “FRAGILE” sebesar-besarnya.
Tetapi kalau isinya kosong, tetaplah kosong.
Dan dalam adat Melayu, yang dicari bukan cantik bungkusnya. Yang dicari ialah elok isinya. Sebab kalau salah memilih paket, barangnya mungkin bisa dikembalikan. Kalau salah memilih pemimpin, satu negeri yang membayar ongkos kirimnya.
Penulis: Taufik Hidayat, pemimpin redaksi riaukepri.com.







