Menu ✖

Otomatis
Breaking News

Minda

Membaca Zaman, Menjaga Ingatan: Menulis di Era Keperkasaan AI

badge-check

Marzuli Ridwan Al-bantany Perbesar

Marzuli Ridwan Al-bantany

Oleh : Marzuli Ridwan Al-bantany

Dunia hari ini telah berubah wujud. Di tangan anak-anak muda kita, cahaya bukan lagi datang dari minyak pelita atau lembaran kertas yang beraroma tinta tua, melainkan dari layar gawai yang berpendar dingin. Arus digital bagai air bah itu deras mengguyur, menghanyutkan perhatian generasi kita ke dalam pusaran maya yang fana. Buku-buku fisik kian terabaikan, tersisih di sudut-sudut lemari yang berdebu. Tak tersentuh.

Setiap hari, setiap detik fenomena sebegini terjadi, menusuk ke setiap dada yang dipenuhi sesak keprihatinan kita. Lihatlah! bagaimana gawai telah merampas imajinasi murni anak-anak muda kita, yang kemudian menggantinya dengan kecepatan tanpa makna. Kita tahu, gejala ini bukan sekadar kemalasan membaca, melainkan awal mula dari krisis adab dan degradasi moral yang secara perlahan meruntuhkan  sendi-sendi keluhuran budi.

Sadar atau tidak sadar, di tengah gema keperkasaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang hari ini mampu merangkai kalimat dalam hitungan detik, dunia kepenulisan seakan diguncang oleh badai ketidakpastian. Mesin-mesin cerdas hadir menawarkan kecepatan, kelancaran, dan efisiensi yang melampaui batas-batas jemari manusia. Namun, di sinilah letak ujian sejati bagi seorang penulis: AI mungkin mampu meniru bentuk, menyusun struktur, dan merapikan diksi, tetapi ia tak pernah memiliki denyut nadi, air mata, luka batin, dan kehangatan jiwa.

Menulis, dalam wujudnya yang paling purba dan sakral, adalah tentang merawat kemanusiaan—sesuatu yang tidak akan pernah bisa direplikasi oleh algoritma dingin. Bayang-bayang AI seharusnya bukan menjadi algojo yang membunuh kreativitas, melainkan cermin pemantik bagi para penulis untuk kembali pada esensi terdalam sastra: kejujuran rasa, keunikan pengalaman hidup, dan suara nurani yang hanya lahir dari dada seorang manusia.

Oleh sebab itu, mentradisikan menulis—terlebih lagi menulis sesungguhnya adalah laku (budaya) Melayu sejak dahulu, perlu terus dipertahankan dan dikembangkan. Kecanggihan teknologi hari berupa AI, sejatinya bukan menjadi penghambat untuk menghasilkan karya tulis (fiksi maupun nonfiksi) yang bernas, mencerahkan, namun hendaknya lebih dari itu, menjadi pemicu dan pelecut agar menulis dilakukan dengan hati, dengan pikiran-pikiran kita yang jernih. Menulis tidak hanya bagaimana kita mampu menembus sekat dan dinding-dinding ruang digital semata, melainkan juga menjadi bagian mulia dalam menjaga keutuhan mutiara tradisi kita, sebab ada bahaya lain yang terus mengintai dan mengancam: kepunahan kultural di tengah masyarakat yang maju dan serba modern ini.

Sejak dahulu lagi Selat Malaka menyimpan ribuan kisah, sastra lisan yang melegenda, serta sejarah para ulama karismatik yang menanamkan Islam dengan tasawuf dan kelembutan budi di tanah ini. Sejarah dan kebesaran masa lalu itu perlu ditulis agar setiap diri generasi muda hari ini tahu—bahwa di ujung kampung halamnya yang sunyi ini dulu ada permata yang bersinar, yang cahayanya pernah menerangi kegelapan masa-masa sulit, kebuntuan akal budi dan bahkan berbagai problema yang dialami di masa itu.

Kehadiran para penulis muda di rantau ini, khususnya di Bengkalis—daerah pesisir Riau yang berbatasan langsung dengan keriuhan Selat Malaka, menjadi sesuatu yang mustahak sifatnya. Seperti sebuah pelita kecil, mereka justru akan menjadi suluh pelita yang setia—penjaga memori kolektif tentang kemasyhuran tanah ini, tentang sejarah dan berbagai laku peristiwa yang ada dan layak untuk dituliskan menjadi renungan penuh makna bagi generasi yang akan datang, untuk selalu bangkit dan berkarya.

Meski di tengah berbagai keterbatasan yang melingkupi wilayah kepulauan terluar, denyut perjuangan literasi di pulau bergelar Pulau Sastra ini semestinya harus tetap dihidupkan. Meski jauh dari hiruk-pikuk pusat industri penerbitan nasional, namun budaya menulis dan menerbitkan buku semestinya menjadi kebiasaan mulia yang harus dijaga. Walau diakui jika fasilitas pendukung untuk menyempurkan hajat itu dirasa belum memadai, namun setidaknya kehadiran beberapa penerbit kecil (penerbit lokal) di daerah ini patut diapresiasi dan menjadi motor penggerak bagi kemajuan litetrasi kita. Hanya saja bagaimana kita mampu mengelola dan mentransformasikan kebijakan-kebijakan ke arah itu dapat dimaksimalkan.

Sebagai salah seorang yang bersama-sama menginginkan agar literasi di Bengkalis terus tumbuh, bergerak dan berkembang, pendirian sejumlah komunitas dan sanggar menulis di pulau ini, seperti Rumah Sastra Bengkalis, Komunitas Menulis Bengkalis dan lainnya yang pernah ada, juga Perkumpulan Penulis Bengkalis (Penalis) yang baru-baru ini didirikan, adalah bagian dari upaya menempa para penulis muda, menyalakan obor perlawanan terhadap kebodohan dengan cara merawat aksara, serta menumbuhkan rasa cinta pada khazanah negeri sendiri. Melalui ikhtiar ini sekurang-kurangnya kita ikut menjadi bagian penting dalam merawat tradisi dan budaya, mengembalikan kecemerlangan rantau Melayu yang menjaga nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal agar tidak lekang ditelan panas dan tidak lapuk dipukul hujan. Di atas tanah pesisir yang basah oleh sejarah ini, setiap kalimat yang kita torehkan adalah jembatan penghubung antara masa lalu yang agung dan masa depan yang penuh tanya, sebuah janji sunyi bahwa anak cucu kita kelak tidak akan menjadi orang asing di negerinya sendiri.

Dalam sesi dialog di RRI Bengkalis bertema Membangun Gerakan Menulis di Negeri Junjungan belum lama ini kukatakan, bahwa setiap anak Bengkalis sesungguhnya berpotensi menjadi seorang penulis, bukan semata-mata karena kita mewarisi semangat kepenulisan sebagaimana dicontohkan Soeman Hs, sang cerpenis terkemuka di nusantara yang lahir di pulau ini, melainkan kita sendiri adalah penjaga aksara di rantau ini, penjaga kata-kata agar tak hilang disapu arus deras medernisasi. Kepada para pendengar  yang mendengar siaran langsung RRI itu kukatakan juga, tulislah! Tulislah apa-pun yang kau suka, mulai dari hal-hal yang sederhana dan tentu memberi manfaat bagi sang penulis atau para pembacanya. Walau hari ini beribu tulisan mampu diakses melalui sebuah kecanggihan teknologi dan kecemerlangan era digitalisasi, namun percayalah bahwa tulisan (baca: buku) di suatu masa nanti di samping memiliki nilai sejarah dan manfaat yang besar, juga akan menjadi tanda bahwa sang penulisnya tetap hidup di hati para pembaca meski ia telah tiada berkalang tanah.

Engkau dan aku mungkin sepaham, bahwa menanam benih literasi di tanah yang sedang dilanda kekeringan akal budi tidak akan serta-merta membuahkan hasil esok pagi. Buah dari kerja keras seorang pejuang kebudayaan baru akan dipetik oleh anak cucu puluhan tahun ke depan, ketika mereka menyadari bahwa ada seseorang di masa lalu yang berjuang menyelamatkan identitas mereka dari kepunahan.

Kalau hari ini tulisan-tulisan yang engkau hasilkan seakan tak punya makna dan bernilai apa-apa, janganlah berkecil hati. Yakinlah bahwa tulisan-tulisanmu itu di kemudian hari nanti akan menjelma menjadi perisai batin tatkala generasi-generasi setelahmu menghadapi berbagai cemoohan maupun ketidakpedulian zamannya. Biarlah masa dan waktu yang akan menjawab dan menilainya kelak, sebab kita tak punya kuasa untuk merubahnya dalam seketika.

Wahai engkau para penulis muda! Hidup ini bukan tentang seberapa cepat nama kita dikenang hari ini, melainkan seberapa banyak warisan kebaikan yang kita tinggalkan. Di setiap lembar artikel maupun esaimu, di setiap bait sastra Melayu yang kau selamatkan, terselip doa agar tanah ini tidak kehilangan suaranya di tengah kebisingan dunia modern. Ketahui pula, bahwa semua karya yang kau lahirkan itu adalah pilar yang menopang atap kebudayaan kita. Melalui tetesan tinta dan keteguhanmu menulis, ianya membuktikan bahwa peradaban besar tidak sekadar dibangun dari kemewahan istana, melainkan dari ketulusan tangan-tangan sunyi yang datang merawat ingatan bangsanya dari semua lupa.

Dan di bawah langit Selat Malaka yang luas ini, perahu kecil literasi yang kita dayung bersama insyaallah akan terus melaju menembusi kabut zaman. Ia akan membawa serta harapan, merawat layar peradaban, dan menjaga agar obor kemanusiaan di tanah ini tidak padam oleh gelapnya gulita masa depan yang kadang ganas datang menerkam. Wallahu a’lam.

Bengkalis, 6 Oktober 2026

Marzuli Ridwan Al-bantany adalah penulis, penyair dan sastrawan Indonesia bermastautin di Bengkalis, Riau. Beliau adalah penulis buku kumpulan esai/artikel berjudul Menuju Puncak Keindahan Akal Budi (Aden Jaya, 2019), Setitik Embun Pagi (Aden Jaya, 2020), Sabda Pujangga dari Negeri Junjungan (Dotplus Publisher, 2020) dan Lembaran Pesan Sunyi (Dotplus Publisher, 2026).

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

HERRY HERYAWAN DAN KEPOLISIAN BUDAYA

4 Okt 2026 - 14:25 WIB

HERRY HERYAWAN DAN KEPOLISIAN BUDAYA

Tun Mahathir Mohamad : Through the Winds of 101 years

3 Okt 2026 - 14:30 WIB

Tun Mahathir Mohamad :  Through the Winds of 101 years

Negeri Paket

3 Okt 2026 - 09:29 WIB

Negeri Paket

Semangat Hang Tuah dalam Diri Penulis Bengkalis:

27 Sep 2026 - 16:00 WIB

Semangat Hang Tuah dalam Diri Penulis Bengkalis:

Lima Rupiah

27 Sep 2026 - 07:28 WIB

Lima Rupiah
Trending di Minda